Berhentilah Bertanya, “Nak, kalau sudah besar mau jadi apa?”

Selain karena jawabannya kadang aneh-aneh, pertanyaan itu sudah tidak begitu relevan untuk ditanyakan di era ini.

Beberapa waktu lalu saya tanya sama Attar, “kalau mau besar, Attar mau jadi apa?”. Jawabannya di luar dugaan: “anything but girls, bad guys, alien, monster, and zombie!”. Sebelumnya, Attar pengen jadi The Flash, superhero yang bisa lari cepet banget itu. Alasannya, biar bisa bantu Pak Polisi ngejar dan nangkap bad guys (orang jahat). Hmm.. *usep-usep dagu* Yah walaupun jawabannya bikin saya bengong, setidaknya Attar sudah punya pandangan, pokoknya kalau udah gede Attar mah pengen jadi laki-laki yang baik pemberantas kejahatan, gitu lah ya. Baguslah, nggak kayak Umminya. Jujur, saya lupa apa cita-cita saya waktu masih kecil – makanya udah gede gini pun nggak jelas juga profesinya apa, myahahaha!

Continue reading

6 Keterampilan Khusus yang Kamu Kuasai Setelah Kamu Menjadi Ibu

Menjadi ibu itu tidak pernah mudah. Dibutuhkan kemampuan khusus untuk bisa menjalaninya. Tapi ada juga keterampilan yang akan dikuasai seorang perempuan justru setelah ia menjadi ibu. Asiknya, untuk memiliki keterampilan ini para mamah tidak perlu membayar berjuta-juta untuk ikut pelatihan, diklat, dan sebagenya. Cukup menjalani peran sebagai emak-emak sebagaimana seharusnya saja.

Sebenarnya ada banyak sih keterampilan khusus yang dimiliki setelah seseorang resmi menjadi ibu, tapi saya hanya akan membagi enam yang saya rasakan paling signifikan. Berikut ulasannya.

Continue reading

Attar Belajar Bahasa Inggris

Sekitar sebulan sebelum berangkat ke Australia awal tahun lalu, Ummi dan Ayah memutuskan untuk mulai mengajarkan bahasa Inggris kepada Attar. Tujuannya ya tentu saja biar Attar nggak kaget, ketika sampai di tanah kanguru kok semua orang berbahasa asing. Intinya adalah supaya proses adaptasi bisa berjalan lebih lancar untuk Attar. Selain itu, Attar juga dikasih tahu bahwa nanti di Melbourne orang-orang akan berbahasa Inggris, jadi supaya Attar bisa bicara pada orang-orang di Melbourne, Attar perlu belajar bahasa Inggris juga.

Ummi memulai “pelajaran” bahasa Inggris menggunakan flash card alias kartu bergambar bertuliskan kosakata bahasa Inggris. Terus, kebetulan kelompok bermainnya Attar dulu juga sudah memperkenalkan bahasa Inggris lewat lagu, jadi Ummi meminta Attar menyanyikan lagu itu lebih sering. Kemudian, secara sengaja kami mengajari Attar kalimat-kalimat sederhana yang sering dipakai sehari-hari, seperti “I want to pee/poo”, “I want to eat/drink”, “I want to play”, dan sebagainya. Selebihnya, Ummi bicara bilingual sesekali, terutama untuk (lagi-lagi) ungkapan sederhana yang dipakai sehari-hari.

Continue reading

Mendaftarkan Anak ke SD di Victoria

Kali ini Ummi mau cerita soal pengalaman mendaftarkan Attar sekolah di SD (primary school) di negara bagian Victoria, Australia. Sedikit pengantar dulu, untuk masuk sekolah negeri di Victoria anak harus berusia 5 tahun (per 30 April tahun berjalan) dan memulainya di kelas Preparation/Foundation (biasa disebut Prep Class). Kalau sudah 6 tahun, anak wajib masuk Kelas 1 dan seterusnya sampai Kelas 6. Jadi, Attar yang berusia 5 tahun bulan Agustus 2016 lalu resmi masuk ke Prep Class per semester 1, Februari 2017 kemarin.

Proses pendaftaran Attar ke sekolah sudah dimulai akhir bulan November 2016. Ummi memulainya dengan mengunjungi sekolah yang diinginkan (Clayton North Primary School/CNPS). Kebetulan waktu itu ada open day di sekolah tersebut, semacam perkenalan aja tentang CNPS bagi calon orangtua siswa plus ada tur singkat mengelilingi sekolah. Saat open day itu Ummi menanyakan prosedur pendaftaran siswa baru. Ternyata, mekanisme pendaftarannya bergantung pada visa si anak. Jadi, Attar berangkat ke Australia di awal tahun lalu sebagai dependant alias tanggungan Ummi, seorang mahasiswa master by coursework. Jenis subkelas visanya adalah 573 saat itu. Kalau dengan kebijakan imigrasi Australia saat ini – yang menetapkan subkelas visa untuk mahasiswa semua sama: 500 – mahasiswa Master by Coursework termasuk dalam subkelas 500 Student – Higher Education Sector (disingkat 5HE).

Continue reading

“I’m a big boy, Mi. Stop calling me ‘baby’!”

Sudah sebulan ini Attar masuk sekolah dasar. Usianya baru 5,5 tahun, tapi di Victoria anak usia 5 tahun sudah harus masuk primary school, di level Foundation alias kelas 0. Tahun depan ketika sudah masuk usia 6 tahun ke atas, barulah anak masuk ke kelas 1 alias Grade 1.

Perbedaan yang cukup mencolok terlihat pada Attar akhir-akhir ini. Dia tak hanya memandang dirinya sudah besar. “Sudah kakak SD,” katanya. Lebih dari itu, dia pun mulai bersikap mandiri sebagaimana anak besar. Dari dulu sih dia sudah suka songong bilang “Attar kan, sudah besar!” tapi kadang kalau disuruh melakukan apa-apa sendiri, dia masih suka ngeles: “Baru sedikit besarnya, Mi. Kadang-kadang Attar itu masih kecil jadi Ummi harus bantu Attar,” katanya 😀

Continue reading

Roti tawar homemade ala Ummi

Pertama kali Ummi bikin roti homemade adalah tahun 2015, menggunakan resep roti dengan metode water roux. Adonan diuleni sebisanya (karena Ibunda Ratu ini lemah lembut tak banyak tenaga) dan nekat manggang adonan pakai wajan H*ppy C*ll. Percobaan pertama hasilnya cukup baik. Meski tidak montok dan menul-menul sebagaimana roti yang dipanggang di oven, setidaknya bentuknya beneran roti dan dan bisa dimakan. Waktu itu Ummi bikin roti sobek manis isi cokelat dan keju, rasanya lumayan. Tapi, percobaan kedua dan ketiga hasilnya gagal total. Adonan nggak berhasil ngembang setelah difermentasi tapi (lagi-lagi) Ummi nekat aja manggang walau begitu adanya. Hasilnya adalah “roti” yang alot dan lengket, jauh dari empuk. Semacam roti harga seribuan yang sudah ngendon kelamaan di warung. Sejak itupun Ummi mutung alias ngambek. Emoh lagi bikin roti. Abisnya, udah capek nguleni, nunggu proses fermentasi (proofing)-nya lama, eeeh hasilnya tidak layak makan. Buang-buang bahan aja kan, dan hati ini serasa teriris sembilu jadinya.

Continue reading

Liburan Musim Panas: Sydney (2)

aspire

Metro Aspire Hotel. Kamarnya nyaman dan cukup spacy.

Selama di Sydney, kami menginap di Metro Aspire Hotel di Bulwara Rd. Cuman enam menit jalan kaki ke Paddy’s Market dan tetanggaan banget sama Powerhouse Museum. Hotelnya bagus, bersih, dan amenities-nya lumayan lengkap. Tarifnya AUD109 semalam. Tarif segitu Ummi dapatkan dengan memanfaatkan Insider Deal dari Agoda, ditambah diskon 7% dari Dodo Infinite Rewards. Kebetulan Ummi menggunakan provider internet dari Dodo buat wifi-an di rumah Melbourne, dan sebagai penggunanya Ummi dapat privilege diskon dan promo di berbagai merchant, salah satunya Agoda. Ummi sengaja pilih hotel yang deket sama pusat kota dan bukan backpacker hotel. Soalnya Ummi pengen tempat istirahat yang nyaman untuk kami berdua, dan mudah dicapai jika kami harus pulang rada malam abis jalan-jalan seharian. Buat Ummi sih Aspire Hotel ini recommended banget. Harga segitu di deket pusat kota rasanya termasuk murah, apalagi stafnya knowledgeable dan ramah. Di kamar ada bathtub, jadi setelah capek jalan seharian, Attar maupun Ummi bisa berendam air hangat untuk melepas penat lalu dilanjut bobo dengan nyenyak.

Continue reading