Roti tawar homemade ala Ummi

Pertama kali Ummi bikin roti homemade adalah tahun 2015, menggunakan resep roti dengan metode water roux. Adonan diuleni sebisanya (karena Ibunda Ratu ini lemah lembut tak banyak tenaga) dan nekat manggang adonan pakai wajan H*ppy C*ll. Percobaan pertama hasilnya cukup baik. Meski tidak montok dan menul-menul sebagaimana roti yang dipanggang di oven, setidaknya bentuknya beneran roti dan dan bisa dimakan. Waktu itu Ummi bikin roti sobek manis isi cokelat dan keju, rasanya lumayan. Tapi, percobaan kedua dan ketiga hasilnya gagal total. Adonan nggak berhasil ngembang setelah difermentasi tapi (lagi-lagi) Ummi nekat aja manggang walau begitu adanya. Hasilnya adalah “roti” yang alot dan lengket, jauh dari empuk. Semacam roti harga seribuan yang sudah ngendon kelamaan di warung. Sejak itupun Ummi mutung alias ngambek. Emoh lagi bikin roti. Abisnya, udah capek nguleni, nunggu proses fermentasi (proofing)-nya lama, eeeh hasilnya tidak layak makan. Buang-buang bahan aja kan, dan hati ini serasa teriris sembilu jadinya.

Continue reading

Liburan Musim Panas: Sydney (2)

aspire

Metro Aspire Hotel. Kamarnya nyaman dan cukup spacy.

Selama di Sydney, kami menginap di Metro Aspire Hotel di Bulwara Rd. Cuman enam menit jalan kaki ke Paddy’s Market dan tetanggaan banget sama Powerhouse Museum. Hotelnya bagus, bersih, dan amenities-nya lumayan lengkap. Tarifnya AUD109 semalam. Tarif segitu Ummi dapatkan dengan memanfaatkan Insider Deal dari Agoda, ditambah diskon 7% dari Dodo Infinite Rewards. Kebetulan Ummi menggunakan provider internet dari Dodo buat wifi-an di rumah Melbourne, dan sebagai penggunanya Ummi dapat privilege diskon dan promo di berbagai merchant, salah satunya Agoda. Ummi sengaja pilih hotel yang deket sama pusat kota dan bukan backpacker hotel. Soalnya Ummi pengen tempat istirahat yang nyaman untuk kami berdua, dan mudah dicapai jika kami harus pulang rada malam abis jalan-jalan seharian. Buat Ummi sih Aspire Hotel ini recommended banget. Harga segitu di deket pusat kota rasanya termasuk murah, apalagi stafnya knowledgeable dan ramah. Di kamar ada bathtub, jadi setelah capek jalan seharian, Attar maupun Ummi bisa berendam air hangat untuk melepas penat lalu dilanjut bobo dengan nyenyak.

Tadinya Ummi pengen kamar yang ada kitchenette-nya, macam alat masak/makan dan microwave biar bisa masak sendiri dan ngirit biaya makan. Tapi yang beginian biasanya adanya di apartemen dan tarifnya kemahalan buat anggaran Ummi. Backpacker hotel biasanya menyediakan dapur komunal yang bisa dipake bareng-bareng oleh seluruh penghuni hotel, tapi Ummi nggak merasa nyaman aja begitu. Akhirnya ya sutralah di hotel biasa aja kagak usah ada dapur-dapuran nggak papa, lagian nggak sempet juga masak-masak begitu. Beli aja udah beres, hehe.

imag2629

Bekal nggak boleh kurang supaya Attar maupun Ummi nggak rewel karena kelaperan, hehe.

Untuk makan, andalan Ummi selama di Sydney adalah It’s Time for Thai dan Nando’s. Yang satu rumah makan Thailand yang satu lagi Mexico, keduanya halal. Ummi juga sempet ketemuan sama kawan lama dan maksi bareng (lengkap dengan anak masing-masing) di kedai Mamak. Sekali makan, biasanya keluar AUD17-25 untuk berdua. Secara rata-rata, maksimal dana yang terpakai untuk makan selama sehari tidak pernah lebih dari AUD35 berdua. Buat Ummi ini lumayan hemat, karena di dua tempat makan andalan yang Ummi sebutkan di atas, porsinya kayak buat ngasih makan kuli. Buanyak! Jadi, satu porsi bisa dimakan berdua. Terus, ngebungkus satu porsi lainnya untuk dinikmati pada waktu makan berikutnya. Ummi juga ngebekal botol minum sendiri jadi nggak perlu beli-beli minuman lagi saat makan. Terus, biar nggak boros-boros amat, Ummi juga beli cemilan roti, buah, susu atau jus dari supermarket. Bisa buat sarapan atau cemilan selama jalan-jalan, nggak usah jajan-jajan lagi. Selain itu, di hari pertama sampai di Sydney, Ummi mengunjungi saudara di Maroubra Rd, dan Alhamdulillah yah rejeki anak sholeh, kami ditraktir makan malam dan dianterin sampe ke hotel hehe. Sebenarnya Oom dan Tante-nya Ummi menawarkan untuk bobo di sana aja selama di Sydney, cuman tempatnya rada jauh dari pusat kota. Besok-besok lagi deh kalo ada kesempatan road trip ama Ayah, kita nginep di sana hehe.

Budget Ummi selama jalan-jalan di Sydney paling banyak terserap untuk hotel (AUD330 untuk tiga malam) dan tiket masuk destinasi wisata (total AUD223). Sisanya adalah untuk makan (sekitar AUD110 dari tanggal 18-20 Des), tiket pesawat (AUD98), transport lokal (total AUD59), dan cemilan perbekalan (sekitar AUD20). Oh ada juga pengeluaran tak terduga (sekitar AUD50), semacam beli es krim pinggir jalan karena kepanasan, atau Attar yang pengen nebus booklet foto di Wildlife. Foto studio editan tiga biji ama beberapa lembar info pengetahuan tentang kehidupan hewan liar di NSW doang, harganya AUD40. Sungguh, terasa sesak dada ini saat membayarnya *mata berkaca-kaca.

imag3715_1

Opal Card, senjata untuk jalan-jalan keliling NSW.

Untuk transport lokal, NSW menggunakan tiket Opal Card untuk kita bisa mengakses macam-macam moda transportasi di negara bagian ini. Semacam Myki Card kalau di Victoria. Tidak ada tarif khusus untuk mahasiswa (pukul rata tarif adult), namun anak-anak hanya ditarik biaya setengah tarif orang dewasa. Ummi beli Opal Card di bandara Sydney waktu baru sampe, kartunya gratis tapi kita harus isi depositnya. Untuk empat hari tiga malam, Ummi isi sebesar AUD20 untuk Ummi dan AUD10 untuk Attar, itu masih nyisa dikit. Tarif Opal dihitung perkilometer. Makin jauh kita ngetrip, makin mahal tarifnya. Agak mencekik jiwa memang, tapi untungnya ada Sunday Cap, yaitu khusus di hari Minggu kita hanya ditarik maksimal AUD2.5 per orang, mau sejauh apapun kita jalan-jalan. Karena itulah, Ummi mengagendakan pergi-pergi yang jauh (macam ke Manly Beach dan Manly Sea Life Sanctuary) di hari Minggu ini. Sisanya yang deket-deket aja dan biaya transportasi bisa dihemat dengan … kaki! Yaps, Alhamdulillah kami udah biasa jalan kaki di Melbourne, dan Attar luar biasa kuatnya. Dia tidak banyak mengeluh meski jalan kaki sedemikian jauh.

imag2769

Sempetin ke Powerhouse Museum ya Mah, biar bisa masuk ruang simulasi di dalam pesawat ulang-alik kayak Attar.

Oya, Ummi mengakui untuk perjalanan kali ini Ummi rada royal di tiket tempat wisata, sebagai contoh Maritime Museum dan Sydney Observatory. Ummi melakukan itu karena ingin “membeli” pengalaman buat Attar. Buat Mamah yang mau ke Sydney dengan strict budget, ada banyak aktivitas dan tempat wisata lainnya di Sydney yang nggak perlu bayar tiket sampai berpuluh-puluh dollar. Australian Museum, misalnya. Tiket dewasanya nggak sampai AUD20 dan kalau Mamah adalah mahasiswa, harganya bisa cuman setengah harga tiket dewasa. Ada harga spesial untuk Family, dan umumnya anak-anak di bawah usia lima tahun nggak ditarik biaya. Art Gallery of NSW di Royal Botanic Garden juga gretongan buat siapapun. Jangan khawatir anak-anak Mamah bakal mati gaya, karena di tempat-tempat seperti ini hampir selalu ada Kids Section yang isinya tema khusus anak-anak lengkap dengan area bermain dan aktivitas edukatif. Mamah juga bisa piknik cantik di Royal Botanic Garden yang aksesibel dan terbuka untuk umum. Tapi kalau Ummi boleh nyaranin sih, kunjungilah Powerhouse Museum, Mah. Murah ini, dan dalamnya bagus banget buat nambah pengetahuan anak (dan kita juga).

Intinya sih, jalan-jalan ke Sydney cukup menyenangkan. Kalau ada satu hal yang nyebelin adalah susahnya nyari bus stop di Sydney. Pertama, rambu-rambunya suka kurang ngejreng, ada yang bisa jelas terlihat, tertulis di papan besar warna biru putih dilengkapi bus apa aja yang lewat sana, sehingga Ummi bisa mengenali bahwa “ini adalah bus stop”. Tapi banyak juga yang rambunya cuman kotak warna kuning gambar orang naik bus pake tinta hitam. Udah gitu doang, nggak ada keterangan ini halte untuk bus nomor berapa jurusan apa. Kan, Hayati jadi pusing, Bang! Bisa aja Ummi salah lihat, Ummi pikir itu rambu jalan biasa yang warna kuning-item itu, ya kan ya kan? Beda banget ama Melbourne. Kalo di Melbourne bus stopnya sama semua warna rambunya, selalu dilengkapi keterangan bus nomor berapa yang berhenti di situ, ada peta, dan jadwal kedatangan bus berikutnya.

Udah gitu, itu bus stop-nya jarang ada yang langsung deketan sama tempat wisatanya. Kudu jalan duluuuu sekian ratus meter. Sudahlah ini emak bego banget kalo disuruh baca peta. Google Map ngarahin ke mana guwe jalan ke mana. Gagal mengenali ini jalan namanya apa, dari sini beloknya ke mana. Belom lagi kalo ketemu jalan layang. Kudunya lewat bawah apa atas. Stres lah, pokoknya! Mbok ada ojek gitu kan, Ummi tinggal terima beres. Attar berkali-kali ngomel nih kalo Ummi nyasar atau salah ambil jalan. “Whaaaaattt??? Not agaaaaiiin!!” katanya sambil pasang muka frustrasi. Karena ke-oon-an ini, sangat banyak waktu dan energi yang terbuang di trotoar. Dalam kondisi inilah Ummi sangat merindukan Ayah-nya Attar yang jarang nyasar. Nyasar pun beliau masih bisa menemukan jalan yang benar. Tanpa peta, cuman pake logika. Sementara, si Guwe dan si Logika itu seperti air dan bara api. Saling membenci satu sama lain, hahaha.

Gabungan antara kebegoan dan rumitnya nyari bus stop ini juga bikin Ummi harus rela keluar duit lebih buat bayar taksi di hari terakhir kami di Sydney. Jadi, abis dari Opera House, sekitar pukul 10.50 Ummi masih kebingungan nyari bus stop untuk kembali ke hotel. Kami harus check out pukul 11.00 dan bus regional yang akan mengantarkan kami ke Canberra akan berangkat pukul 12.00 dari Central Station. Karena lelah dan pusing, Ummi ngedeprok di trotoar dan nyegat taksi yang lewat. AUD20 melayang, tapi kami berhasil tiba di hotel pukul 11.05 dan masih boleh telat check out dikit, pukul 11.15. Untungnya semua barang udah Ummi beresin sebelum kami cus ke Opera House pukul 08.00 paginya. Jadi tinggal angkut aja dan langsung check out. Nah, dari hotel ke Central Station sebenarnya nggak jauh-jauh amat dan gampang aja busnya, Ummi pun udah tahu kudu nyetop di mana. Tapi itu masih pake jalan kaki lagi dan Hayati sudah muak dengan jalan kaki, Bang, hahaha! Akhirnya kami nyegat taksi lagi di depan hotel dan AUD9 kembali melayang.

Fix lah, kalau mau ke Sydney lagi kapan-kapan, Ummi maunya sama Ayah-nya Attar aja. Biarlah beliau yang menjadi imam dalam perjalanan kami, jadi beliau aja yang pusing nyari belokan atau setopan bus. Ummi mah maunya jadi makmum aja, ngemil-ngemil dan makan es krim tau-tau sampe, ke Blue Mountains, Coogee Beach, sailing mengitari Darling Harbour sampe Circular Quay, dan mengunjungi kerabat di Macksville. Lalu dari situ tinggal kepleset nyampe deh ke Queensland, hehehe. Boleh ya berencana, tinggal nabung aja nih biar ada hepeng buat jalan-jalan lagi, hoho! 😀

Liburan Musim Panas: Sydney (1)

imag2506

Siap ngebolang ke Sydney dan Canberra

Faktor fundamental yang menyebabkan terjadinya perjalanan Ummi dan Attar ke Sydney (dan juga Canberra) sesungguhnya adalah kesumpekan otak Ummi melewati semester kedua kuliah di Monash University. Faktor yang tak kalah penting adalah keinginan Ummi untuk membayar kebaikan, kesabaran, serta ketabahan Attar menghadapi Ummi yang menjelma preman perempatan selama satu semester kemarin. Sungguh semester yang melelahkan dan menguras emosi, memang. Ummi jadi sensitif dan sangat mudah naik darah, kayak abege yang PMS terus nggak brenti-brenti. Maka, setelah menghadapi emak yang setengah sinting selama hampir enam bulan, rasanya Attar jauh lebih berhak mendapat liburan ketimbang Ummi, haha. Faktor berikutnya adalah kekurangajaran para penyedia jasa perjalanan di akhir tahun. Dengan sengaja mereka menebar diskon dan promo tiket di mana-mana, oh terkutuklah mereka. Akibatnya, Ummi yang lemah iman ini pun langsung tergoda. Memanfaatkan promo tiket Jetstar rute Melbourne-Sydney yang hanya sebesar AUD49, Ummi pesanlah tiket perjalanan berdua. Lalu, dengan izin Allah SWT dan tentu saja restu Ayah Iwan nun di Jogja, pergilah ibu dan anak ini ngebolang ke negara bagian tetangga.

img-20161217-wa0054

Hari pertama di Sydney, hangout dulu sama kerabat yang tinggal di Sydney.

Secara singkat, itinerary liburan kali ini bersifat “Attar-minded”. Tujuan-tujuan wisata yang dikunjungi adalah yang bisa bikin Attar senang dan terhibur. Ummi mengalah nggak bisa merasakan sensasi beli ikan dan makan seafood segar di Sydney Fish Market, foto-foto di University of Sydney yang mirip-mirip ama Hogwarts, ngopi cantik di The Rocks laneway, atau cuci mata di Queen Victoria Building Mall macam sosialita. Nggak mungkin aja Ummi ke tempat-tempat itu dengan seorang diri bawa Attar. Kalau ke sana hanya untuk nongkrong dan futu-futu, ya jelas cranky-lah bocahnya. Lagian nggak bisa juga foto-foto cakep, lha nggak ada yang motoin, haha! Udah bawa tongsis sih, tapi si Ummi males pakenya. Kudu ngeluarin dulu dari tas, pasang di hape, atur pose, ah kelamaan dan ribet.

Kami berangkat tanggal 17 Desember dari Melbourne Avalon Airport pake pesawat Jetstar pukul 15.45. Tiba di Sydney sekitar pukul 17.15. Ummi pake paket standar aja di pesawat, nggak beli bagasi dan makanan. Toh perjalanan pendek nggak perlu bawa baju selemari. Dua koper kabin kecil cukup buat kami berdua. Attar juga udah diempanin macem-macem ama Ummi sebelum berangkat, jadi nggak rewel minta cemilan lagi di atas pesawat.

sealife-n-wildlife

“Attar, fotonya sambil senyum dong!” dijawab: “And why do I have to do that?” -_- Atas: Manly Sealife Sanctuary. Bawah: Wildlife Sydney Zoo.

Ada sekitar sebelas tujuan wisata yang dikunjungi selama tiga malam di Sydney (sampai tanggal 20 Desember). Banyak ya boooo, haha! Ambisius sekali memang! Capek jelas, tapi Attar tampak puas. Dari sebelas itu, dua di antaranya tidak terencana, alias mampir sambil lewat aja. Sementara itu, ada satu tujuan yang gagal dikunjungi yaitu Paddy’s Market alias pasar oleh-oleh. Gara-garanya, Ummi lupa kalau Paddy’s itu bukanya cuman Rabu ampe Minggu. Nah, kami di Sydney dari Sabtu-Selasa, cuman hari Sabtu itu baru sampe sore, dan Minggunya udah diagendakan buat yang lain. Nggak jadi deh belanja oleh-oleh di Paddy’s. Anyway, jadi sebenarnya destinasi kami di itinerary awal mah “cuma” sepuluh, hihihi. Okays. Tujuan wisata utama adalah yang termasuk di dalam Merlin Annual Pass. Jadi, Merlin Annual Pass ini adalah tiket gelondongan untuk masuk ke 11 destinasi wisata keluarga di Australia dan New Zealand, berlaku selama satu tahun. Annual pass untuk dewasa adalah sebesar AUD85, sementara tariff untuk anak-anak (hingga usia 16 tahun) adalah AUD60. Merlin Annual Pass bisa dibeli secara online dan tiketnya diambil di Sydney. Kalau udah punya annual pass ini, kita bisa seliweran mondar-mandir masuk 11 tujuan wisata di Australia dan NZ tadi tanpa bayar lagi.

madame-tussauds

Madame Tussauds Museum. Foto Ummi yang sama Leonardo Dicaprio gak usah dipublikasikan, ya. Bisa menimbulkan fitnah :p

Di New South Wales (NSW), tujuan wisata yang termasuk di dalam Merlin Annual Pass ada enam, yaitu Sydney Sea Life, Madame Tussauds Museum, Wild Life Sydney Zoo, Manly Sea Sanctuary, Sydney Tower Eye, dan Illawara Fly Treetop Adventures. Tiga yang Ummi sebut pertama berada di satu kawasan, di Darling Harbour Sydney. Tempatnya samping-sampingan ajah. Ummi sama Attar nggak ke Sydney Sea Life, tapi memilih ke Manly Sea Sanctuary aja biar Attar dapat pengalaman nyebrang dari Circular Quay Sydney ke Manly pake ferry dan bisa sekalian main di Manly Beach. Kami juga nggak ke Illawara karena jauh, susah dicapai pake public transport. Oya, sebenarnya ada tiket yang buat ngunjungin destinasi yang ada di Sydney dan Manly saja (minus Illawara Treetop), harganya lebih murah (tiket dewasa AUD70). Cuman, Ummi memutuskan untuk beli yang annual pass sekalian dengan harapan dalam setahun ini ada kesempatan lagi buat jalan-jalan ke Queensland dan New Zealand biar annual pass-nya kepake, ahahahah! Modus siah, Mi! :p

maritime

Lagi-lagi muka males difoto. Atas: di depan Maritime Museum. Kanan: mau masuk ke kapal selam HMAS Onslow. Kiri atas: Nemu “harta karun” di Voyage to The Sea. Kiri bawah: foto sama meriam kapal HMAS Vampire.

So, udah empat destinasi yah. Berikutnya adalah Australian National Maritime Museum. Sebagaimana namanya, tempat ini memajang segala sesuatu tentang kemaritiman. Ada replika kapal penumpang tahun 1937, ada lampu mercusuar yang dipake tahun 1970-an, ada ulasan tentang wanita pertama yang keliling dunia pake kapal layar (beserta kapal yang dia pake), ada perlengkapan selam dari masa ke masa, dan sebagainya. Bagian yang paling bikin Attar gembira-ria adalah Voyage to The Sea, arena bermain dan activity berbentuk kapal selam lengkap dengan dekorasi macam di bawah laut. Bagian dalam “kapal selam”-nya seru dan cukup interaktif. Attar bisa main pura-puranya nyetir kapal selam, ngintip lewat periskop, pake baju penyelam, dan lain-lain. Puas main di situ, Ummi dan Attar masuk ke kapal selam beneran. Kapal selam Australia ini namanya HMAS Onslow, bertugas saat Perang Dingin dan pensiun tahun 1999. Selain kapal selam, Attar juga masuk ke kapal perang Australia jenis destroyer namanya HMAS Vampire yang bertugas dari tahun 1959 sampai 1986. Bagian dalam kedua kapal ini sempit banget, Attar yang nggak bisa diem itu beberapa kali kejedug perut dan kepalanya, dan menangis beberapa kali. Ya siapa suruh nggak bisa anteng -_- Anyway, masuk museum ini kalau cuman lihat galerinya aja sih gratis, tapi untuk bisa mengakses Voyage to The Sea dan kedua kapal beneran, kita harus bayar AUD18 (harga mahasiswa) dan AUD18 untuk anak.

powerhouse

Akhirnyaaa dapat juga foto cowok ganteng di Powerhouse Museum, walaupun fotonya nyempil di pojok kiri itu, hehe.

Destinasi asik berikutnya adalah Powerhouse Museum. Ini keren sangat, Ummi suka banget tempatnya. Isinya segala hal tentang sains, teknologi, dan seni terapan. Ada pajangan lokomotif uap, bagian dari kereta api pertama NSW yang beroperasi tahun 1885. Ada wahana Ecologic yang bertujuan meningkatkan kesadaran kita akan lingkungan, ada galeri seni rupa/instalasi, ada juga wahana sains namanya Experimentation. Di wahana ini kita bisa menjawab pertanyaan tentang kehidupan sehari-hari dengan cara yang amat interaktif. Attar menghabiskan waktu lama syekali di sini. Terus ada replika robot yang bertugas di Mars juga. Beruntung jadwal kunjungan kami ke sana pas ama jadwal pertunjukan robot Mars-nya. Mbak-mbak yang mengoperasikan robotnya pakai remote control sabar banget menjawab pertanyaan anak-anak (dan orang dewasa) yang nonton. Tiket masuk ke Powerhouse Museum adalah AUD8 bagi mahasiswa internasional macam Ummi dan gretongsss buat anak-anak hingga usia 16 tahun.

imag2932

Ngintip planet Venus, dibimbing sama guide yang lucu banget namanya Tony.

Terus, karena akhir-akhir ini Attar lagi seneng sama tema astronomi (sampai minta dicarikan informasi sekolah astronot di Melbourne, hehe), Ummi ajaklah dia ke Sydney Observatory, singkatnya ini semacam Bosscha di Lembang gitu lah. Ummi dan Attar beli tiket Family Twilight Tours yang berlangsung dari pukul 18.15 sampe 19.45. Tiketnya AUD18 untuk Ummi (harga mahasiswa) dan AUD16 untuk Attar. Di Family Twilight Tour, sebelum ngintip langit pake teropong bintang, ada semacam activity dulu untuk dimainkan oleh seluruh keluarga. Kali ini kami belajar tentang cara kerja roket, praktikumnya cuman pake botol minuman, air dari selang, dan pompa. Abis itu, ada talk dulu di The Dome, ruangan kecil dengan langit-langit cekung yang di-setting menyerupai suasana langit. Terus baru deh ngintip pake teleskop. Karena sedang musim panas, pukul 19.15 pun langit masih terang. Jadi bintang-bintangnya kurang kelihatan, hanya bisa melihat bias sinar matahari, batas horizon, sama planet Venus. Akan lebih oke kalau ke sini pada saat musim gugur atau musim dingin, saat siang lebih pendek dan langit lebih cepat menggelap.

creampuff

Penampakan Emperor’s creampuff. Biasanya antrinya ampe pegel, kemaren karena masih pagi, Ummi antrinya cuman sebentar.

Destinasi lainnya, adalah tempat yang Ummi bisa nikmati, yaitu Chinatown. Eh ada juga ding destinasi lain yang rada “Ummi banget”, yaitu Madame Tussauds Museum. Di situ Ummi kecentilan foto mepet-mepet ama Johnny Depp, Leonardo Dicaprio, dan Ryan Gosling :-* maap ya Ayah, Ummi foto-foto sama laki-laki yang bukan mahram, hahahah. Ngapain di Chinatown, Mi? Selain menikmati musik dari kecapi Cina dan biola yang dimainkan sama pengamen di pintu masuk Chinatown, Ummi juga ke sana demi mengejar sekotak Emperor’s Garden creampuff. Semacam kue bunder berbentuk bola rada pipih, empuk dan lembut banget dengan krim custard yang meleleh di tengahnya. Freshly baked and served hot. Itu kue bikin Ummi jatuh cinta sejak pertama kali nyicip tahun 2008, jamannya Ummi ikut pertukaran pemuda ke Sydney. Endeus, Mah! Rasanya nggak berubah, huhuhu. Beli AUD5 dapat 18 biji creampuff. Enaaakk, puaaass ,dan Attar pun sukak!

opera

Finally, Sydney Opera House dan Harbour Bridge. Mission accomplished dan kaki gempor jalan melulu 😀

Tujuan wisata yang paling ikonik di Sydney kami sambangi di hari terakhir karena nyari cuaca cerah (biar fotonya keren, haha) yaitu … Sydney Opera House! Orang bilang, kamu belum ke Australia kalo belum ke Sydney Opera House, haha! Di sini ngapain? Foto-foto aja sih sama nongki-nongki. Dan sesuai dugaan, Attarnya cranky dongsss. Diajakin foto cemberut aja sambil ngomel kok foto lagi foto lagi. Setelah disogok pake es krim baru deh senyum manis.

Dua destinasi yang bersifat dadakan adalah, pertama, Darling Quarter Children’s Playground alias tempat main anak-anak. Seperti negara bagian lain di Australia, di Sydney juga banyak public space yang menyediakan taman bermain anak-anak gratisan. Kami mampir ke sini dalam perjalanan mau ke Darling Harbour. Kedua, Hyde Park yang berlatarkan St Mary’s Cathedral. Kami mlipir sini waktu jalan menuju Sydney Tower Eye dari halte bus deket Sheraton Hotel. Cuman bentar-bentar aja di sini, leyeh-leyeh ama foto-foto.

imag2850

Hyde Park dan St Mary’s Cathedral. Pose meneropong itu adalah trik Attar untuk menghalau silau tapi tetap gaya saat difoto :p

~bersambung~

Bye-bye Dover St Preschool!

Kamis lalu (15/12) adalah hari terakhir Attar bersekolah di Dover St Preschool Centre (atau kinder, sebutan singkat untuk institusi PAUD di sini). Sebenarnya, hari terakhir sekolah di tahun ini adalah besok Senin, 19 Desember. Hanya saja, Attar nggak akan bisa datang di hari itu karena Sabtu ini sudah mau nge-trip sama Ummi ke Sydney dan Canberra. Setelah itu, sekolah di Australia akan libur serentak hingga akhir Januari. Bulan Februari sekolah akan dimulai lagi, tapi Attar akan memulai tahun ajaran baru itu sebagai siswa Clayton North Primary School, tidak lagi di Dover. Jadilah, perpisahan dengan Attar dilakukan hari ini.

Continue reading

Telah Terbit! Buku “NewMom 911: Pertolongan Pertama Pada Mama Baru”!

Yaaassssss!!! Finally it’s heeeeereee! Muahahaha!

img_20161018_024423_1

Aduh maaf Umminya Attar ketawanya nggak behave :p Selain karena barusan aja merdeka udah ngelewatin badai tugas yang cukup ganas di semester ini, awal Oktober lalu buku Ummi berjudul “NewMom 911: Pertolongan Pertama Pada Mama Baru” sudah terbit, alhamdulillah. Buku ini adalah buku kedua yang murni Ummi susun sendiri. Selama hampir 10 tahun mengecer jasa tulis dan edit, beberapa buku sebenarnya sudah lahir dari tangan Ummi, cuman kebanyakan sebagai ghostwriter dan editor. Buku pertama Ummi berjudul “100 Resep Sehat Ibu Hamil, Masa Nifas, dan Menyusui“, terbit tahun 2012.

Continue reading

Mendaftarkan Anak ke PAUD di Victoria, Australia

 

Tak terasa sudah hampir setahun sejak pertama kali Ummi menjelajah internet untuk mencari informasi pendaftaran anak ke sekolah di Australia. Waktu itu usia Attar masih 4 tahun lebih sedikit, dan ketika dia tiba di Australia di semester 1 (Februari 2016), usianya sekitar 4,5 tahun. Berdasarkan penjenjangan dalam sistem pendidikan di Australia, usia segitu Attar masuk preschool/kindergarten alias selevel playgroup kalo di Indonesia, pokoknya yang sebelum level TK deh.

Petualangan  mencari preschool untuk Attar dimulai dengan browsing nama-nama preschool yang lokasinya dekat dengan tempat tinggal. Pemerintah Australia menerapkan semacam sistem rayon begitu deh untuk pemilihan lokasi sekolah bagi anak. Maksudnya, anak akan mendaftar di sekolah-sekolah yang lokasinya sesuai dengan domisili; ini terutama untuk sekolah negeri. Kualitas dan sistem pengajaran setiap sekolah di manapun lokasinya kurang lebih sama saja, nggak ada yang namanya sekolah unggulan or semacamnya. Jadi, orangtua dan anak nggak perlu menempuh jarak jauh hanya untuk datang ke “sekolah favorit”. Nah, waktu itu kami belum memiliki tempat tinggal yang pasti, alias belom dapat akomodasi. Jadi nggak jelas-jelas amat sebenernya alamat kami mau di mana, hehe, dan si Ummi modal nekat aja buat nyariin sekolah buat Attar. Satu hal yang saya tahu pasti, Ummi sama Attar akan tinggal di daerah/suburb yang namanya Clayton, pokoknya deket-deketlah sama kampus Monash Uni Clayton. Sebenarnya lagi, kampus Ummi adalah di Monash Uni (cabang) Caulfield, sekitar 9-10 km dari Clayton. Tapi Ummi memilih untuk tinggal di Clayton karena pemukimannya lebih nyaman, ramah keluarga, dan tentu saja lebih murah. Toh, dari Clayton ke Caulfield bisa ditempuh menggunakan bus kampus Monash gratisan.

Ah, kembali ke urusan sekolah anak ya, oke.

Continue reading

Attar and Father’s Day

Earlier this month, Australian celebrated Father’s Day. Coming from a culture that don’t have such celebration, I wasn’t aware until I received notifications about Father’s Day Sale on my emails and shopping apps a week before, ahahah. What is good about Father’s Day, just like the other celebrations, is we can use that day to gather as a family and reconnect. We spend the day together, do favourite things we love doing with our dad: talk, walk, eat, play, and love our dad for some more.

imag1599

Attar’s tribute to Ayah 🙂

Attar’s preschool celebrated it, too. The educators printed this colouring sheet with kind of form to fill in with everything about daddy. So the kids were asked to colour it, assisted by one educator who gave them questions about daddy and then the educator wrote down the answer on the sheet. I was so surprised given the fact almost all the things about Attar’s dad were correct. It made me realised that Attar can really communicate in English now, as he can understand what his educator say and the educator can comprehend his answers. It’s such a leap since I never deliberately teach him to speak in English and mainly use Indonesian language when we talk.

Continue reading