Inisiasi Menyusui Dini (IMD)

Sejak sebelum hamil, saya telah banyak mendapatkan informasi tentang Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Tindakan IMD ini berupa pemberian ASI kepada bayi segera setelah ia lahir. Prosedurnya yaitu menengkurapkan bayi di dada ibu sehingga kulit bayi melekat dengan kulit ibu (skin to skin contact), dan membiarkan ibu-bayi dalam kondisi ini setidaknya selama satu jam atau sampai fase menyusu awal selesai.

Tampaknya terlalu lama ya, membiarkan bayi telanjang tanpa tindakan dan “perlindungan” selama satu jam? Nggak juga. Sebab, saat terjadi skin to skin contact, tubuh ibu mampu menyesuaikan temperatur kulitnya sehingga tercapai suhu yang dibutuhkan oleh bayi. Artinya, kulit ibu secara otomatis akan menghangatkan si bayi. Jadi seyogyanya bayi akan tetap merasa nyaman dan nggak kedinginan, tindakan ini justru dapat menurunkan kemungkinan kematian bayi karena hypothermia.

Kampanye IMD sendiri udah digelar sejak lama di Indonesia, kalau nggak salah pasangan artis Anjasmara dan Dian Nitami pernah menjadi duta kampanye ini. Di tahun 2005, UNICEF bersama WHO dan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) telah mengeluarkan pernyataan bersama tentang kebijakan pemberian makan pada bayi. Poin yang pertama dari pernyataan ini adalah IMD. Sepenting apakah IMD sehingga harus dikampanyekan secara massal?

Penelitian membuktikan bahwa bayi yang menyusu segera setelah ia lahir, faktor mortalitasnya berkurang sebanyak 20% dibanding yang ditunda. Memangnya bayi baru lahir sudah bisa menyusu? Ya. Hasil pengamatan para ahli menunjukkan, bayi yang berusia 20 menit sudah bisa merangkak ke arah payudara ibu dan mencari puting dengan menggunakan insting alamiahnya. Pada usia 50 menit, bayi sudah bisa menyusu sendiri. Amazing ya, Mommies?

Selain alasan medis, IMD sendiri dapat meningkatkan bonding antara ibu dan bayi. Hubungan lekat antara ibu dan bayi akan tercipta seiring kontak kulit. Di samping itu, hormon oksitosin yang dihasilkan oleh tubuh ibu kala melihat bayinya yang sudah dinanti-nanti selama 9 bulan akan memunculkan perasaan kasih yang amat besar. Sementara bayi sendiri mendapat kesempatan untuk mengenal ibunya lebih cepat lewat sentuhan kulit, aroma tubuh, dan suara ibu. Apalagi, bayi dalam kondisi siaga selama 1-2 jam setelah lahir. Jadi waktu ini adalah yang paling tepat untuk membangun hubungan lekat ibu dan bayinya.

Bagaimana dengan kewajiban mengazankan bayi bagi yang Muslim? Ayah dapat mengazankan bayi saat ia berada di dada ibu.

Namun, IMD hanya dapat dilakukan jika ibu dan bayi dalam keadaan sehat. IMD dapat optimal jika tidak ada indikasi lain yang memerlukan penanganan medis khusus seperti ibu mengalami pendarahan, klinis bayi tidak memungkinkan, dan sebagainya.

Ketika saya mau melahirkan Attar dulu, saya sudah komunikasikan kepada tim yang akan membantu persalinan saya bahwa saya ingin melakukan IMD. Kesadaran akan pentingnya keberhasilan IMD dan pengaruhnya pada keberhasilan menyusui membuat saya bertekad kuat untuk menunaikan “kewajiban” IMD.

Namun, saat persalinan usai dan Attar kecil telah lahir, kondisi saya sudah amat lemah. Saya kehabisan tenaga karena melewati proses persalinan yang cukup panjang (15 jam) dan amat menyakitkan bagi saya. Yah terlepas dari energi saya yang habis buat ngamuk dan ngomel sih –bentuk pelampiasan akibat nyeri hebat saat kontraksi.

Selain itu, kondisi Attar saat itu sudah hampir terlambat keluar. Saya melahirkan secara normal dengan tindakan induksi. Sebab, pada usia kandungan 41 minggu, belum juga ada tanda-tanda akan melahirkan (mudah-mudahan bukan karena Attar takut sama emaknya yang jutek, hehe). Udah gitu, saat persalinan terjadi pun, upaya saya mengedan tidak membuahkan hasil yang baik bagi kelancaran keluarnya bayi dari jalan lahir. Akibatnya bayi berada di perut cukup lama tanpa air ketuban.

Akhirnya, IMD yang saya idam-idamkan tak bisa berlangsung optimal selama satu jam. Mungkin hanya sekitar 15-20 menit ia berada di dada saya. Mengerjap-ngerjap dan merayap-rayap dengan tangan dan tubuhnya yang gemetar. Hati saya juga gemetar waktu memandangnya pertama kali. Bahkan sampai sekarang, membayangkan ia kala baru lahir, saya masih saja merasa tergetar.

Saya sempat merasa kecewa karena IMD tidak berjalan lancar, dan tidak pula saya perjuangkan agar bisa optimal. Sempat khawatir apakah saya akan berhasil menyusui eksklusif bahkan sampai dua tahun, apakah bonding saya dan bayi akan terbentuk dengan mudah, dan sebagainya.

But Mommies, ternyata kekhawatiran saya sia-sia. Saat kondisi saya mulai pulih dan Attar kecil sudah dibersihkan dan dibungkus bedong, perawat menyerahkannya kembali kepada saya. Waktu itu Attar masih melek dan matanya terlihat terang benderang. Iseng-iseng saya keluarkan payudara untuk disusukan kepada Attar, sambil menanamkan pikiran positif di kepala saya. Meski saya sendiri belum yakin apakah payudara saya sudah memproduksi kolostrum dan ASI (walaupun belakangan saya mengetahui bahwa kolostrum akan diproduksi secara otomatis oleh kelenjar susu karena mekanisme produksinya berkaitan dengan lepasnya plasenta). Tapi saya cuek saja menyodorkan payudara ke mulut Attar.

Apa yang terjadi setelahnya?

Attar mengisap payudara saya dengan tenang. Isapannya pelan saja, tidak terlalu agresif namun konstan. Saya sempat terpana dan berpikir, wah, anakku udah pintar menyusu, hehe. Ia masih menyusu hingga sekitar 45 menit kemudian dan ia tertidur.

Kekhawatiran saya ternyata cuman paranoia belaka (aih, bahasanya!). Saat itu saya tersadar bahwa IMD memang amat penting. Namun ketidakberhasilan IMD tidak berarti bahwa kita tidak bisa menyusui selamanya. Perasaan bersalah saya seperti terobati ketika saya berhasil menyusui Attar dalam 1-2 jam pertamanya di dunia.

IMD adalah faktor yang amat berpengaruh terhadap keberhasilan menyusui, namun ia bukan satu-satunya. Ada banyak faktor lain yang bisa mendukung ibu untuk memberikanASI eksklusif bahkan hingga anak berusia 2-3 tahun. Faktor-faktor itu adalah pikiran positif bahwa kita bisa menyusui, dukungan dari orang-orang terdekat, serta tidak membiarkan mitos-mitos yang kontraproduktif tentang ASI menguasai pikiran kita. Hingga kini saya masih menyusui Attar dan ia berhasil lulus ASI Eksklusif. So Mommies, jangan keburu putus asa jika Anda tidak berhasil melakukan IMD karena sesuatu alasan.

Bagaimana dengan pembentukan hubungan lekat antara ibu dan bayinya?

Tenang Mommies, bonding dengan bayi tak hanya bisa dilakukan saat IMD. Setiap saat, kapan pun, di mana pun, dan dalam keadaan apa pun, bonding dengan bayi bisa didapatkan. Berikan ia sentuhan kasih sayang sesering mungkin, terutama saat kita menyusuinya. Belaian yang menentramkan akan membangun keintiman yang indah antara ibu dan bayi. Kelak, bayi akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri karena selalu merasa aman dan nyaman.

Hindari stres agar produksi ASI lancar jaya aman sentosa. Tak perlu takut bentuk payudara berubah, Mommies. Payudara yang aktif menyusui merupakan bentuk mekanisme tubuh yang sangat menakjubkan, jadi tak ada yang perlu ditakutkan. Mommies hanya perlu melakukan treatmen dan perawatan yang tepat agar bentuk payudara tetap indah. Misalnya, memilih bentuk bra yang tepat dan nyaman, serta rutin me-massage payudara. Selain mempertahankan bentuk payudara, massage juga membantu produksi ASI lebih lancar.

Selebihnya, bonding dengan bayi bergantung pada insting kita sebagai ibu. Secara naluriah, perilaku bayi akan meningkatkan rasa kasih dalam diri ibu. Percayalah, hubungan cinta kasih semacam ini akan tumbuh sedemikian subur, dengan atau tanpa IMD.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s