Labour Pain: Persalinan Induksi

Saya percaya bahwa setiap kehamilan sifatnya sangatlah individual. Apa yang dirasakan ibu hamil satu berbeda dengan ibu hamil lainnya. Demikian pula dengan proses persalinan. Ada ibu hamil yang mengalami proses persalinan yang terbilang pendek dan mudah. Perut cuman mules-mules dikit, pinggang terasa pegel, pas ke rumah sakit tau-tau bukaan udah lengkap. Ngedennya pun nggak susah. Batuk-batuk dikit, bayinya udah meluncur keluar.

Tapi, saya nggak pernah menyangka bahwa proses persalinan yang saya alami terasa paaanjang dan laaama seperti Choky-Choky.

Sehari sebelum hari perkiraan lahir (HPL), saya memeriksakan diri ke dokter kandungan. Selaiknya ibu hamil yang sudah berada di ujung usia kehamilan, seharusnya saya mengalami sebagian dari tanda-tanda akan melahirkan misalnya keluarnya flek/lendir darah dari vagina, kontraksi yang semakin intens, pecahnya/rembesnya ketuban, terasa linu di daerah pinggang dan panggul, bahkan pembukaan atau dilatasi leher rahim. Tapi, saya tak mengalami satu pun tanda-tanda tersebut.

Rasa nyeri semacam kontraksi memang sempat datang tapi saya tahu itu cuma kontraksi palsu. Sebab, rasa nyerinya hanya terasa sesekali, tidak terasa semakin sakit atau sering. Jadi saya abaikan saja. Ketuban rembes? Rasanya tak ada. Dari sumber yang saya baca, ibu yang baru pertama hamil seringkali tertukar antara pecah atau rembesnya ketuban dengan kencing. Cara membedakannya, keluarnya air kencing bisa ditahan sementara ketuban tidak. Kalau ketuban sudah keluar, ya keluarlah tanpa bisa ditahan-tahan. Jadi setiap kali saya kencing, saya mencoba untuk menahannya, bisa tuh. So artinya, itu bukan rembesan ketuban kan?

Nah, ketika saya kontrol ke dokter, dari terawangan USG diketahui bahwa jumlah air ketuban saya sudah berkurang dan terjadi pengapuran pada plasenta. Itu artinya, waktu persalinan sudah tiba –bahkan hampir terlambat. Namun karena tak ada tanda alami yang saya rasakan, maka, “Harus diinterupsi,” ujar dokter.

Interupsi yang dimaksud adalah tindakan induksi yang bertujuan untuk merangsang terjadinya kontraksi. Artinya, mekanisme tubuh saya “dipaksa” agar menghasilkan kontraksi persalinan. Tindakan induksi yang diberikan pada saya berupa pemberian obat telan sebanyak empat kali dengan jarak empat jam. Namun jika pada pemberian kedua atau ketiga perkembangan sudah baik dan progres dilatasi cukup cepat, maka obat yang masuk tidak perlu sampai empat kali.

Keluar dari ruang periksa dokter, saya langsung memberitahu kakak saya dan suaminya, yang kebetulan menemani saya dan suami kontrol ke dokter. Kakak, yang pada persalinan anak pertamanya juga mengalami induksi, cuma bisa bilang, “Yah, yang kuat ya, soalnya bakal sakit banget.”

“Sakitnya gimana sih? Sesakit apa?” tanya saya. “Tak terkatakan,” balasnya pendek.

Ohoho. Jadi deg-degan juga nih. Tapi waktu itu saya masih bisa sesumbar, “Terserah deh sesakit apa, aku harus kuat. Yang penting bayiku keluar dengan selamat.”

Maka malam itu saya dan suami menginap di rumah sakit bersalin. Pemberian obat pertama adalah pukul 22.00. Malam berlalu. Sekitar satu jam paska pemberian obat pertama, perut mulai terasa clekit-clekit. Rasanya sedikit lebih sakit daripada nyeri haid. Saya masih bisa cengengesan, masih bisa SMS-an sama kakak saya, “Oh, begini toh rasanya kontraksi, mayan juga yah.” Tulis saya waktu itu. Situasi masih ayem tentrem karto raharjo. Pukul 02.00, perawat membangunkan saya untuk pemberian obat kedua, dan saya membangunkan suami untuk makan sahur. Maklum waktu itu bulan puasa.

Menjelang pagi, tidur saya tak lagi tenang. Perut terasa sakiiiiiiiiiitttt sekali. Tidur suami pun tak lagi nyenyak, karena saya merintih-rintih tiada berkesudahan dan dia berusaha menenangkan saya. Ya memang harus begitu, ini kan akibat perbuatannya juga, hehe.

Alamak, ternyata kontraksi yang dipaksa muncul itu amat sangat sesuatu banget, Mommies. OMG banget dah. Nyeri haid mah jauuuuuuuhhhhhh lebih ringan daripada kontraksi persalinan, apalagi yang diinduksi. Saya yang tadinya cengengesan, sesumbar bakal kuat, dan sebagainya, jadi tak berkutik lagi. Bisanya cuma “aduh-aduh” sambil megangin perut, atau meremas tangan suami.

Pukul 06.00, obat ketiga diberikan dan sejam setelahnya perawat mengecek perkembangan “di bawah sana”.

“Sudah ada lendir darah keluar bu, pembukaan baru 1 mau 2. Sebentar lagi ibu pindah ke ruang tindakan saja ya,” ujarnya.

Ayah dan ibu saya sudah datang ke rumah sakit. Ibu menemani saya di ruang tindakan sementara ayah dan suami menghabiskan quality time mertua-menantu di teras kamar inap. Di ruang tindakan, saya mulai merem-melek, tangan saya erat mencengkeram sisi ranjang, tiang infus, baju ibu saya, dan benda lainnya yang bisa saya cengkeram. Ibu menyarankan untuk berjalan-jalan di sekitar rumah sakit agar pembukaan jalan lahir cepat  bertambah.

Saya turuti saran beliau, meski dengan perjuangan yang teramat sangat. Satu langkah, meringis karena perut nyat-nyut-nyat-nyut. Selangkah lagi, nyat-nyut lagi. Lorong rumah sakit yang nggak nyampe lima meter jadi terasa puanjaaang banget bagi saya waktu itu. Satu putaran jalan-jalan, saya nyerah dan lebih memilih rebahan di kasur. Sakit, tanteee!

Sekitar pukul 9 pagi, dokter memeriksa dan katanya pembukaan baru 2. Yaelah lama amat yak? Perasaan udah jalan-jalan, rebahannya miring kiri-kanan, bukaan baru segitu-segitu aja. Padahal sakitnya udah luar biasa. Perut dipegang aja rasanya suakit banget kayak disetrum. Sampai-sampai, perawat yang ingin mengukur detak jantung janin aja nggak saya ijinin. Dipegang sakit, diolesin gelnya makin sakit, dipencet-pencet pake alat Doppler-nya muakin suakit.

Hampir tengah hari, rasa sakit yang saya rasakan semakin mengganas. Saya sudah lepas kendali. Teknik bernapas panting yang diajarkan di kelas senam hamil ternyata nggak mempan meringankan sakitnya kontraksi. “Mantera” sugestif di kelas hypnobirthing udah dirapal sampe mulut capek, sakitnya makin merajalela. Huh, itu instruktur hypnobirthing-nya nggak valid! Tetep aja perut gue sakit!

Maka, mengamuklah saya.

Ngomel sana-ngomel sini. Ibu, kakak, suami, semua kena omel. Perawat sama bidan juga kena bentak. Nah, di tengah prahara emak-emak galak mau melahirkan itu, ibu saya sempet-sempetnya mengepang rambut saya. Maksudnya sih baik. Rambut saya kan panjang sepunggung, dalam keadaan genting di mana saya ngglundang-ngglundung di kasur plus usek sana-sini, bisa dibayangin dong itu rambut jadi kayak Mak Lampir? Nah, kalo dikepang kan rada rapih sedikit ya toh? Walhasil ibu saya kena bentak deh. “Ngapain sih Ma? Nggak penting banget situasi kayak gini ngurusin rambut!” Yang kena omel cuma mesem-mesem mahfum saja, hihi!

Terus kakak saya juga sempet mencoba menenangkan, “Yang namanya melahirkan tu ya emang sakit.. “ Langsung saya sembur, “Tapi nggak ada yang bilang sakitnya bakal kayak giniiii!!!” Abis itu kakak saya nginyem aja terus malah SMS-an. Males banget ngurusin emak-emak pre-partus yang galak minta ampun, mungkin begitu pikirnya, hakhak!

Tapi begitu persalinan selesai, saya langsung minta ampun loh sama ibu, suami, dan kakak saya, hoho. So gentlemen, kalau Anda merasa selama ini istri Anda lembut dan ayem-ayem saja, wait till she has to deal with labour pain. Bakalan keluar aslinya tuh, huhu!

Hal yang bikin sebel, udah ngomel-ngomel  heboh gitu, eh bukaan masih 3 aja. Hhh.. Inilah kondisi yang membuktikan bahwa yang namanya kehamilan hingga persalinan itu adalah rahasia Allah. Nggak ada yang tahu prosesnya akan mulai dan berhenti kapan atau bagaimana caranya. Meski saya sibuk bertanya, ini rasa sakit kapan selesainya ya? Anak saya kapan keluarnya ya? Nggak ada satu pun yang bisa jawab. Saya hanya bisa bersabar menanti sambil terus berdoa.

Tapinya emak-emak jutek kayak saya nggak bisa disuruh sabar-sabar. Bete banget kelamaan rebah di kasur dalam ruang bersalin, rasanya saya pengen jalan-jalan apa lari-lari gituh, pokoknya keluar dari tempat itu, sepet liatnya! Tapi tetep aja nggak bisa gerak sedikit pun dari kasur. Sakit, mameeenn!

Akhirnya saya memutuskan buat nungging. You know Mommies, kalau kita mengalami nyeri haid, kan paling enak kalo kita nungging tuh. Perut terasa lebih nyaman dan nyeri berkurang. Nah saya pikir, siapa tau sakitnya kontraksi juga bisa berkurang kalo saya nungging. Eh bener loh! Sakitnya berkurang secara signifikan, dan bahkan selama 30 menit nungging, bukaan langsung loncat ke 8 cm. Jiah, tau gitu dari tadi aja gue nungging, hehe! Ya walaupun saya jadi keliatan kayak orang gila sih, perut segede tong gitu dibawa nungging-nungging. Kan beneran kayak orang nggak waras. Sebodo ah, yang penting enak, ahahah!

Saat bukaan udah 9 cm, saya merasakan dorongan kuat dari bagian belakang panggul saya. Saya baru tau itu. Saya pikir, karena bayi kan keluarnya lewat vagina, jadi dorongannya juga ke arah depan. Eh ternyata malah dari belakang, persis kayak kalau kita mau BAB.

Dorongan itu kemudian diikuti dengan pecahnya ketuban yang amat banyak, beneran loh nggak bisa ditahan (iseng amat, sempet-sempetnya nyoba nahan keluarnya ketuban, hehe). Keluarnya kayak banjir gitu, mengalir deras tanpa henti. Saya teriak-teriak ke perawat, “Mbak, mbak, ketubannya pecah!” Kenapa teriak-teriak? Habisnya kan di awal proses persalinan, kalo ketuban udah pecah berarti udah deket saatnya bayi akan keluar kan? Berarti kudu ada penanganan segera kan?

Eh, si mbak perawat plus bidannya cuman nyante aja bilang, “Nah, udah pecah nih, berarti tinggal sebentar lagi. Sabar ya bu, pembukaannya belum sempurna.”

Heh? Masih nunggu bukaan lagi? Yaelah, gue pikir udah beres gitu bukaan 10 apa 12 cm, jadi tinggal ngeden aja trus brojol. Ternyata belum toh? Hadeh, capedeh!

Usai penantian panjang, tiba lah saatnya si bidan bilang, “Yak ibu, bisa ngeden sekarang.”

Tim yang membantu persalinan saya terdiri dari seorang bidan senior tersohor di kampung saya, putri sulungnya yang juga bidan, serta tiga orang perawat. Sementara tim pelengkap penggembira dimeriahkan oleh ibu, kakak, dan suami saya. Kedua tim langsung bersiap di posisi masing-masing. Saya pun bersiap untuk mengedan. Sambil mengumpulkan sisa tenaga dan mencoba mengingat-ingat pelajaran “cara mengedan yang benar” di kelas senam hamil, mengedan lah saya.

Eh ternyata mengedan saat persalinan tuh nggak asal ngeden, tante! Berkali-kali saya mencoba ngeden, eh dibilangin salah sama bidannya. “Bukan kayak gitu, itu tekanannya ke tulang leher!” Ngeden lagi. “Salah, itu ngedennya ke perut!” Ngeden lagi, “Nah itu benar, ngedennya ke belakang. Ayo sekali lagi, ini kepalanya udah keliatan!” Ngeden lagi, “Salah lagi, ke leher lagi! Ulangi!”

Menurut looooo??

Gue ngeden mah ngeden aje, bu bidaaann!! Mau tekanannya ke leher, perut, kepala, pundak, lutut, kaki, yang penting mah ngeden. Udah nggak kuat, tauuuu!!

Bener deh itu yang namanya pelajaran teknik pernapasan dan tips mengedan yang benar udah melayang entah kemana. Ditambah lagi, saya udah hampir kehabisan tenaga. Energi saya abis buat ngomel dan ngamuk sih. Jadinya ngedennya bener-salah-bener-salah gitu. Akibatnya bayi saya nggak keluar-keluar.

Akhirnya, karena acara ngedan-mengedan sudah berlangsung selama 45 menit, air ketuban sudah habis, dan yang keluar belum nambah kecuali pucuk kepala bayi, bidan menggunting perineum saya (padahal tadinya saya bertekad mau ngelahirin tanpa episiotomi, hiks!). Bidan junior dan seorang perawat membantu mendorong perut saya dari arah dada. Jadi, sambil saya mengedan, mereka mendorong bayi dari atas.

Lalu, saudara-saudara, tepat pukul 12 siang, setelah 15 jam proses persalinan sejak kontraksi pertama, saat adzan shalat Jumat berkumandang, keluarlah jagoan saya dengan tangisannya yang lantang. Beratnya 2,8 kg dengan panjang 50 cm. Attar kecil langsung ditaruh di dada saya sementara bidan dan perawat membereskan sisa-sisa perjuangan “di bawah sana”.

Beneran loh kayak yang diceritain orang-orang. Begitu liat bayi merayap-rayap di dada saya, dengan mata mungilnya mengedip-ngedip, saya udah lupa sakitnya kontraksi dan perjuangan ngeluarin Attar dari perut saya. Saya cuma bisa mengucap syukur dan kalimat tasbih, sambil memandangi Attar yang mukanya masih mirip alien waktu itu, huhu.

Saya pikir, semua bayi yang baru lahir tuh bersimbah darah, ternyata Attar keluarnya bersih kayak habis mandi dan kulitnya putih. Trus matanya mengerjap-ngerjap, udah melotot aja dia (mudah-mudahan nggak galak kayak emaknya, huhu!).

Sambil memandangi Attar, kakak saya menyodorkan segelas teh panas yang langsung saya tenggak habis. Suer deh Mommies, usai melahirkan, segelas teh manis itu rasanya seperti teh terenak yang pernah saya minum selama hidup.

Lalu, tiba saatnya Attar diangkat dari dada saya untuk dibersihkan, diazankan sama ayahnya, dan diberi tindakan medis rutin bagi bayi newborn. Saya yang dari tadi berasa sedang berada di awang-awang karena mengagumi Attar, rasanya seperti dikembalikan ke dunia nyata. Sebab, tiba-tiba bagian vagina saya terasa suakiiittt!! Padahal dari tadi kayaknya aman-aman aja. Waktu saya melongok, bidan junior beserta seorang perawat sedang berkutat di sana.

“Mbak! Diapain lagi sih??” bentak saya.

“Ini lagi dijahit bu, tinggal bentar lagi selesai kok,” jawab sang bidan pelan.

“Hadeeehh.. cepetan ya! Beneran lo tinggal bentar lagi! Sakit, tauuu!!”

Hewhew, tetep yah, yang namanya emak jutek mah kondisi apapun konsisten dong juteknya, hehe..

7 thoughts on “Labour Pain: Persalinan Induksi

  1. Ummi, thanks atas sharingnya.. aduh kronologisnya jelas n detil bgt.. thx ya.. iiih saya lagi ketakutan ni jeng.. 38weeks bisa pop kapan ajakan baby yak.. ini saya baru tau “Saat bukaan udah 9 cm, saya merasakan dorongan kuat dari bagian belakang panggul saya. Saya baru tau itu. Saya pikir, karena bayi kan keluarnya lewat vagina, jadi dorongannya juga ke arah depan. Eh ternyata malah dari belakang, persis kayak kalau kita mau BAB” tidak ada yg menjelaskan ke saya se perfect ini.. thanks.. btw waktu baby meluncur dibawah sana sakit nya kayak disobek gak jeng?

      • Mom Tutiii.. makasih udah mampir hehe… kayaknya kalo 38 weeks udah cukup bulan tapi umumnya bayi lahir 39-40 weeks gitu deh. Btw aduh maaf loh kalo sharing dari saya malah bikin Mom Tuti parno hehe.. Rasa sakit yang saya alami tuh kalo saya bilang karena saya diinduksi kontraksinya. Jadi sakit banget buat saya. Waktu baby meluncur sih sakitnya miss V gak berasa Mom, meski perineum saya digunting. Yang paling sakit tuh kontraksinya kalo menurut saya hehe.. Tapi sekali lagi karena itu induksi. Kakak saya lahiran pertama diinduksi, lahiran kedua kontraksi alami. Kakak saya bilang, lahiran dengan kontraksi alami sakitnya cuman dikit aja, sangat bisa ditahan.
        Mom, mumpung masih sempet, coba deh baca-baca soal Gentle Birth (GB), tokohnya ada Bidan Yessie. Googling aja. Banyak orang bilang GB adalah waterbirth sehingga masih kontroversial. Padahal waterbirth itu salah satu metode aja. GB utamanya adalah teknik relaksasi biar ibu tetap merasa nyaman dan tenang saat menghadapi persalinan. GB mengusahakan persalinan sealami mungkin, dengan catatan kehamilannya tidak ada riwayat komplikasi alias aman-aman aja.
        Nah, dengan GB, Mom bisa tetap tenang. Temen saya ada yang ikut terapi relaksasi GB, bukaan 1-2 masih bisa nyalon dan krimbat, biar tetap relaaakkss.. saat bukaan udah lengkap dan lahiran, hampir ga ada rasa sakit katanya.
        Good luck, Mom! Semoga persalinannya lancar ya!🙂

  2. Menemukan artikel ini, bikin inget pas ngelahirin baby Rania.

    Saya pikir cuma saya yang teriak2 karena rasa sakit dari kontraksi.. Ternyata ummi attar juga sama, bedanya saya ga di induksi, tapi teteup.. Sakitnya nampollll..

    Tapi senengnya udh bisa ngerasain jadi perempuan sebenernya..

    • Mom Lia, sama aja ya ternyata, emak-emak kalo lagi lahiran galaknya ampun-ampunan deh, hehe.. Sekarang baby Rania usianya berapa? Mudah-mudahan sehat selalu ya…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s