Separation Anxiety

Secara teori, anak memiliki batasan usia untuk mempelajari perpisahan. Pada umumnya di usia 7-9 bulan, anak mengembangkan kecemasan untuk berpisah dari orang-orang terdekatnya, terutama ibu. Saya dengar-dengar, dalam ilmu psikologi perkembangan anak kecemasan ini disebut separation anxiety. Ini terjadi karena anak mulai memahami bahwa orang-orang terdekatnya adalah bagian penting dalam hidupnya dan ia takut berpisah dengan mereka. Sejalan dengan meningkatnya keterampilan anak untuk untuk melakukan sesuatu secara independen, ia juga mengembangkan kecemasan atas kemandirian tersebut. Seperti bimbang, “jika aku mau main sendiri, apakah ibu akan tetap bersamaku?”

Secara umum anak-anak mengalami fase ini, meski levelnya berbeda tergantung pada karakter dan kepribadian dasar sang anak, serta pola pengasuhan dalam keluarga dan lingkungan pergaulannya. Ada yang hanya menunjukkan sedikit kecemasan saat ditinggal ibu pergi bekerja, ada pula yang langsung menjerit histeris bahkan ketika ibunya hanya beranjak ke kamar sebelah.

Secara teori pula, kecemasan ini mulai berkurang dan berangsur hilang di usia 18-24 bulan. Memasuki usia batita, umumnya anak menjadi lebih mandiri, dan dengan pola pengasuhan yang mendukung tumbuhnya kepercayaan diri anak, ia tak akan lagi merasa cemas untuk berpisah dengan orang-orang terdekatnya.

Sayangnya, belum ada teori yang menjelaskan atau menyatakan secara rigid: pada usia berapa sang ibu merelakan perpisahan dengan anaknya.

Selama 14 bulan pertama kehidupan Attar (sekarang 20 bulan), saya selalu bersamanya 24 jam. Saya memutuskan untuk menjadi stay-at-home-mommy. Tidak bekerja dan tidak menyerahkan pengasuhan atau perawatan anak kepada orang lain, selain suami saya. Semua hal yang berkaitan dengan pengasuhan Attar berjalan dengan keinginan dan rencana-rencana saya, dalam kendali saya sebagai ibunya. Saya merasa ikatan batin saya dan Attar terjalin sangat kuat. Namun efeknya cukup besar: memasuki fase separation anxiety, Attar memperlihatkan reaksi penolakan yang besar terhadap orang asing. Ia hanya mau anteng jika bersama orangtuanya dan tetangga yang sering main sama Attar. Ketemu orang asing? Langsung menangis dan boro-boro mau bermain.

Lalu saya memutuskan untuk kembali bekerja, saat usia Attar menjelang 15 bulan. Selama bekerja, Attar akan saya titipkan di tempat pengasuhan anak alias daycare. Saya sempat survei beberapa daycare untuk memastikan bahwa saya menitipkan anak saya di tangan yang baik dan terpercaya. Saya tak bisa menitipkan anak saya pada orangtua saya maupun mertua, walaupun sangat ingin. Ini karena beliau-beliau semua tidak tinggal di Jogja. Pendek kata, tibalah hari pertama saya menitipkan Attar ke daycare. Saat saya tinggalkan, Attar menangis. Saya juga. Bahkan air mata saya tak susut hingga saya tiba di tempat kerja. Saya merasa bersalah. Anak saya memerlukan saya namun saya malah pergi meninggalkannya. Sepanjang hari saya memikirkan anak saya. Apakah dia mau makan? Mau tidur? Mau bermain? Apakah dia bisa berhenti menangis?

Saat pulang kantor dan menjemputnya di daycare, berita yang saya terima begitu mengejutkan. Attar hanya menangis ketika saya tinggal. Selebihnya, ia makan dengan lahap dan tidur siang dengan lelap bersama Bunda-Bunda pengasuhnya. Ia mau bermain dengan teman-teman maupun para pengasuh. Ah, saya salah mengira. Anak saya ternyata kuat dan mandiri.

Sejalan dengan kehidupannya di daycare, kini Attar menjadi anak yang lebih mudah bersosialisasi dan seringkali berinisiatif untuk mengajak bermain orang yang baru ditemuinya. Kadang ia masih merasa cemas dan selalu ingin nempel dengan saya, tapi tak separah dulu.

Sementara saya? Saya kalah. Dengan mata sembab saya masuk kantor di hari pertama dengan hati yang menganga, yang ternyata tak ada gunanya. Anak saya juara!

Saya paham, akan ada masa ketika saya harus berpisah dengan anak saya. Untuk keperluan kerja, atau seiring dengan tumbuh kembangnya. Akan ada suatu pagi, Attar akan mendelik kesal karena saya menciumnya di depan teman-teman sekolahnya. Akan tiba suatu sore saat Attar akan lebih memilih untuk main futsal dengan teman-temannya daripada membaca buku bersama saya. Akan datang sebuah Sabtu malam yang akan dihabiskan Attar nge-date sama pacarnya ketimbang makan lasagna sama Umminya. Akan datang sebuah Lebaran yang tidak dihadirinya, karena ia dan keluarga kecilnya berlebaran di rumah mertua. Akan tiba masa-masa ketika dia tidak di samping saya.

Saya sungguh ikhlas jika waktu-waktu itu datang. Itu pasti akan datang dan representasi dari betapa sehat dan normalnya kehidupan yang dimiliki anak saya, meski di hati saya pasti akan ada lubang kerinduan. Sebab, tak ada teori yang menjelaskan kapan seorang ibu bisa mengikhlaskan perpisahan dengan anak-anaknya.

Sambil menunggu masa-masa itu tiba, saya berharap saya bisa menjalin hubungan yang lekat dengannya. Untuk mengingatkannya bahwa ia bisa kembali kepada saya kapanpun ia mau. Meletakkan kepalanya di pundak saya saat ia patah hati. Melepaskan semua gengsi dan atribut yang ia pakai di hadapan orang lain, karena sungguh ia tak butuh topeng di depan saya. Meyakini bahwa saya adalah penggemar terbesarnya yang akan selalu mengapresiasi hal sekecil apapun yang dilakukannya.

Ah, mungkin saya saja yang terlalu lebay. Dulu orangtua saya santai saja tuh melepas saya kemanapun saya pergi. Bahkan ketika saya menikah. Jika saya membayangkan besok saya nangis bombay melihat anak saya menikah, ibu saya anteng-anteng aja dulu. Bahkan ada sirat kelegaan, haha! Seperti terlepas satu beban untuk mengurus anak abrakadabra satu ini, dan berhasil mengestafetkan tanggung jawab kepada pria tak berdosa yang disebut “suami”😀

Apapun itu, satu hal yang saya pahami: Ibu yang cemas akan melahirkan anak yang cemas. Maka, dengan semakin melepaskan Attar untuk mengeksplorasi dunia sekitar, saya yakin akan ada banyak hal baik menghampiri anak saya dalam perkembangannya. Ia akan semakin banyak belajar.

Tapi teteup yah, kalo ada yang mo macem-macem sama anak guwe, lu musti berhadapan sama guweee!! #mengepaltangan #teroremakgalak😀😀

6 thoughts on “Separation Anxiety

  1. terharu apalagi saat membayangkan masa depan si anak..
    iya bener anak mesti diajarin sosialisasi. apalagi ternyata rata-rata mereka merengeknya hanya diawal, setelah itu dia ‘lupa’ karna asik main *pengalaman temen2 juga siih..
    mudah2an bayi 3m ini nanti ga masalah kalau ditinggal maminya.
    btw kemana aja ya saiya selama ini kok ya baru nemu blog bagus inih hihii

    • Betul, Mom Noni… kadang kita terlalu khawatir. Yang kita perlu lakukan adalah percaya bahwa bayi kita pintar dan bisa melewatinya. Ntar kalo udah pulang kantor, dibayar deh quality time nya🙂
      Btw, Mom Noni nggak kemana-mana kok. Ini blog aja yang baru muncul hehe.. Sempet mati suri 1 tahun lebih, baru diaktifin lagi. Doain emak satu ini istiqamah menulis ya, hehe.. cubit gemes buat dede kecil🙂

  2. Ummi,, waktu pertama dititipin ke daycare…asinya gmana? Baby ku gak mau sufor dan gak mau dot,, cm seneng air putih ato jus aja selain minum asi. Ni mau mule daycare bingung minumnya gmana?

    • Mom Vira, saat anak saya titipkan ke daycare, usianya sudah 15 bulan. Jadi sudah bisa dikasih susu UHT. Jadi saat di daycare ya saya bekalin susu UHT kotak kecil. Kadang saya tambahkan dengan jus buah, air kacang hijau, atau yoghurt.
      Sebelum kembali bekerja, saya SAHM dan memang nggak banyak nyetok ASIP. Jadi saya pilih UHT deh. Anak Mom Vira berapa usianya ya? Kalo di atas 1 tahun udah boleh UHT kok, dan lebih baik drpd sufor. Beli aja kemasan yg kecil, kan ada tuh UHT kecil merk U**ra M*m* yg gambarnya macem2 n lucu2, mungkin anak akan tertarik. Kalo belum satu tahun belum boleh UHT ya, jadi mungkin bisa dicoba media lain selain dot. Ada cupfeeder, spuit, bahkan sendok teh biasa. Kalo gak, pke gelas corong. Dilatih aja dulu beberapa minggu sebelum masuk daycare, dan pastikan daycare-nya mau bekerja sama dalam memberikan ASIP dgn media tertentu itu. Good luck, Mom!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s