Anak adalah Cermin Orangtua

Pakar pengasuhan anak sekaligus penulis buku The Baby Book, dr. William Sears dan istrinya Martha Sears pernah membocorkan rahasia pengasuhan anak yang baik. Kuncinya cuma ada tiga:

Teladan.

Teladan.

Teladan.

Yap betul, ternyata “hanya” dengan menjadi teladan, kita sudah bisa membesarkan anak yang baik dan berkepribadian positif.

Masalahnya adalah, apakah menjadi teladan itu gampang?

Sebelum bisa menjawab itu, saya ingin berbagi sedikit. Tahun lalu saya mengikuti event “Parental Coaching” yang diselenggarakan oleh sekolah anak saya. Topik yang dibahas adalah Conscious Parenting, pembicaranya Rina Mulyati, S.Psi, M.Psi, dosen sekaligus Psikolog dari Universitas Islam Indonesia. Intisari dari diskusi yang hangat itu adalah perlunya kesadaran diri dalam setiap diri orangtua dalam mengasuh anaknya. Siapa saya? Bagaimana latar belakang saya? Pengalaman apa di masa lalu yang kini memengaruhi kepribadian saya – dan pola pengasuhan yang saya terapkan pada anak?

Bu Rina menjelaskan, banyak orangtua tidak mengenal dirinya sendiri saat mengasuh anak, dan umumnya hanya menerapkan pola pengasuhan yang dilakukan orangtuanya terdahulu. Meski, jika dirunut kembali, pola pengasuhan itu belum tentu cocok dengan kondisi dan karakter anaknya sekarang.

Conscious Parenting menekankan pentingnya pemahaman bahwa dalam keluarga anak dan orangtua sama-sama aktif. Saling memberi dan menerima, menyerap dan membentuk. Anak bukanlah objek pasif, macam seonggok lempung yang pasrah dan bisa ditekak-tekuk begitu saja oleh orangtua dan menghasilkan bentuk yang diinginkan orangtua. Meski kepribadian bisa dibentuk (atau terbentuk), namun setiap anak memiliki karakter dasar yang dibawanya sejak lahir. Karakter dasar yang seharusnya tak diabaikan oleh orangtua, melainkan dihargai dan diberi perhatian.

Sejalan dengan itu, orangtua juga memiliki karakter dan kepribadian, yang seringkali terluput dari benak orangtua itu sendiri, karena telah dijejali berbagai macam rutinitas dan berbagai permasalahan orang dewasa. Ya, orang dewasa terlalu sibuk untuk berkontemplasi dan introspeksi. Lalu jika seseorang tak mengenali dirinya sendiri, maka bagaimana bisa ia mengenali anak yang ia asuh?

Usai diskusi itu, saya mencoba merenungi sifat-sifat saya, mengenang-ngenang banyak kejadian dalam hidup saya yang akhirnya membentuk diri saya seperti sekarang ini. Saya menimbang-nimbang. Diri saya yang mana yang ingin saya tampilkan di depan anak saya? Dengan sumberdaya dalam diri saya, kelebihan-kelebihan dan kekurangan saya, bagaimana saya ingin mendidik anak saya? Bagaimana cara saya untuk mewujudkannya?

Saya adalah orang yang ekspresif. Saya asik, supel, dan seru banget diajak gaul. Saya lucu, saya gemar tertawa (juga ngetawain, hehe), dan out-going. Tp saya juga kagetan, reaktif, dan pendek sumbu sehingga gampang terbakar. Jika saya marah, saya mudah sekali bertindak dan berkata kasar. Lalu jika saya sedih, saya akan menjadi terlalu sensitif untuk segala hal, suka menganggap diri paling malang, dan tak pantas menerima cinta. Namun pada saat sedang bahagia, saya adalah orang yang paling menyenangkan di dunia.

Maka saya ingin anak saya merasakan kesenangan-kesenangan yang ada dalam diri saya. Saya ingin anak saya mengingat saya sebagai ibu yang paling seru dan bisa menjadi teman terbaiknya. Nah, mewujudkan keinginan itu adalah sebuah tantangan. Di sinilah kemampuan saya untuk menjadi teladan dipertanyakan.

Saya ingin anak saya menjadi orang jujur, tapi bagaimana bisa jika saya masih suka “berbohong kecil” hanya untuk menenangkannya? Saya ingin anak saya sabar dan mau menunggu, jika saya sendiri selalu berseru “cepetan dong, jangan lambat-lambat!”. Saya sangat ingin anak saya bersikap baik pada orang lain, namun apa itu bisa jika saya tak bersikap lembut padanya?

Menjadi teladan adalah cara yang paling mudah untuk mewujudkan anak yang positif, namun sekaligus sulit sekali dilakukan.

Saat saya bersikap keras pada anak, anak saya akan menunjukkan perilaku agresif yang tak kalah keras pada saya. Namun ketika saya berupaya bersabar dan menjelaskan sesuatu dengan baik pada anak, perilakunya lebih positif. Saya memahami itu, dan sudah membuktikannya. Tapi tetap saja, saya masih sering gagal mengelola emosi dan menunjukkan agresi negatif yang tak seimbang di depan anak.

Conscious Parenting mengajak orangtua untuk selalu berupaya menjadi teladan. Ketika akan marah kepada anak, cobalah tarik nafas sejenak dan pikirkan. Mengapa saya marah? Bagaimana saya harus memarahi anak saya? Setimpal kah wujud kemarahan itu dengan kesalahan anak? Apakah itu bahkan bisa disebut kesalahan, saat dia hanya bermaksud mengeksplorasi dunianya?

Teladan, teladan, dan teladan. Saya ingin anak saya bahagia, maka saya pun perlu berbahagia atas diri saya dan segala hal yang saya miliki di dunia. Saya ingin anak saya bicara dengan baik setiap kali meminta sesuatu, maka saya akan melakukannya juga pada siapa pun. Saya ingin anak saya menjadi orang yang tertib, maka saya akan berupaya untuk mematuhi peraturan lalu lintas saat berkendara.

Berikut saya co-pas status salah satu teman di Facebook. Saya selalu membacanya setiap malam, merenungi apa saja yang sudah saya lakukan pada anak seharian ini. Mudah-mudahan bisa menginspirasi dan menjadikan kita orangtua yang lebih baik.

Jika anakmu berbohong, itu karena engkau menghukumnya terlalu berat.

Jika anakmu tidak percaya diri, itu karena engkau tidak memberinya semangat.

Jika anakmu kurang berbicara, itu karena engkau tidak mengajaknya bicara.

Jika anakmu mencuri, itu karena engkau tidak mengajarinya memberi.

Jika anakmu pengecut, itu karena engkau selalu membelanya.

Jika anakmu tidak menghargai orang lain, itu karena engkau bicara terlalu keras padanya.

Jika anakmu marah, itu karena engkau kurang memujinya.

Jika anakmu suka berbicara pedas, itu karena engkau tidak berbagi dengannya.

Jika anakmu kasar pada orang lain, itu karena engkau suka melakukan kekerasan terhadapnya.

Jika anakmu lemah, itu karena engkau suka mengancamnya.

Jika anakmu cemburu, itu karena engkau suka menelantarkannya.

Jika anakmu mengganggumu, itu karena engkau kurang mencium dan memeluknya.

Jika anakmu tidak mematuhimu, itu karena engkau menuntut terlalu banyak padanya.

Jika anakmu tertutup, itu karena engkau terlalu sibuk.

Anak memang cerminan orangtua. Melihat anak, maka orangtua akan mengenali dirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s