Traveling Bersama Batita

Minggu lalu, saya melakukan perjalanan pulang kampung ke Kalimantan karena salah satu saudara sepupu saya menikah. Perjalanan ini menjadi trip yang cukup berkesan bagi saya, karena ini pertama kalinya saya bepergian sendiri bersama anak. Tanpa suami, tanpa orang lain yang menemani. Suami saya sebenarnya sangat ingin ikut serta, cuman karena di kantor beliau lagi banyak banget kerjaan, jadinya nggak bisa. Maka saya pun berangkat sendiri bersama Attar (2,5 tahun), putra semata wayang saya, naik pesawat dari Jogja menuju Banjarmasin.

Sebelumnya, saya nggak pernah traveling jauh-jauh tanpa suami, menggunakan moda transportasi apapun. Kami selalu bertiga ke mana-mana. Kalo ngebayangin traveling cuman sama anak, kayaknya bakal rempong banget. Saya harus jaga barang sekaligus jaga anak sendirian. Mana anak saya adalah tipe batita yang aktif, dinamis, dan memiliki keinginan eksplorasi yang sangat tinggi. Bisa diperkirakan bagaimana hebohnya jika harus bepergian jauh hanya berdua anak.

Bagi Attar sendiri, ini pengalaman ketiga dia naik pesawat. Kali pertama adalah ketika ia berusia satu bulan, perjalanan dari Banjarmasin ke Jogja. Dulu saya melahirkan di Pelaihari, Kalimantan Selatan, kampung halaman saya (biasa, newmom manja pengen deket-deket sama emaknya sendiri saat ngurus bayi baru, hehe). Setelah sebulan di kampung sejak kelahirannya, kami kembali ke Jogja. Di usia satu bulan itu, Attar mah nggak ngapa-ngapain. Kerjaannya tiduuuuur melulu sepanjang perjalanan, bahkan sampe ke rumah masih merem aje. Jadi, perjalanan terbang pertama dilalui dengan supersukses.

Pengalaman kedua adalah tahun 2013 lalu, saat kami sekeluarga berlebaran ke Banjarmasin juga. Attar berusia 22 bulan kala itu. Karena belum berusia dua tahun, Attar belum boleh dapat kursi sendiri. Maka sepanjang perjalanan saya dan suami bergantian memangkunya di pesawat. Pengalaman kedua ini cukup heboh, karena Attar merasa kesal harus dipangku. Pada dasarnya ini anak emang nggak suka duduk diam, apalagi diiket dipangku-pangku. Maka, perjalanan dalam pesawat menuju dan dari Banjarmasin diwarnai dengan rengekan dan jeritan kesal dan bosan. Yap, dia sedikit ngamuk karena nggak mau dipangku, pengennya jalan-jalan ajah. Beberapa saat kami perbolehkan dia jalan-jalan di dalam kabin, mampir kursi orang, liat dapur pesawat, dan kenalan sama pramugari *tepok jidat*

Adegan dramatis terjadi ketika menjelang landing. Semua penumpang harus duduk dan memasang sabuk pengaman. Jadi, acara jalan-jalan Attar harus diputus, dan kami menghabiskan 10-15 menit terakhir perjalanan dengan menghadapi Attar yang menangis dan berusaha melepaskan diri dari pangkuan saya. Saya dan suami ekstraheboh merayunya, mainan hape, membolak-balik halaman majalah, melakukan apapun untuk mencari sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya. In the end, tangisannya teratasi. Attar bisa kembali anteng sampai tiba waktunya kami turun dari pesawat.

Nah, mengingat pengalaman terakhir bepergian dengan pesawat bersama anak, jujur saya nervous banget harus terbang berdua saja kali ini. Pada trip sebelumnya, suami sangat berperan membantu saya menenangkan anak. Dalam setiap perjalanan jauh, kami memang selalu berbagi tugas dan bergantian menjaga Attar. Laluh, bagaimanah nasib sayah menjaga Attar sendirianh pada perjalanan kali innihh?? *drama*

Lalu, saya dan suami menguras ide agar perjalanan kali ini bisa dilalui dengan lancar. Pertama, jauh-jauh hari kami sudah sounding ke Attar bahwa dia dan Umminya akan pergi ke rumah Atung dan Titih (panggilan untuk kakek-neneknya) di Banjarmasin. Kami akan naik pesawat, sampai di Banjarmasin akan dijemput Atung. “Ayah nggak ikut ke Banjarmasin, jadi Attar sikapnya yang baik ya di pesawat dan bandara,” demikian pesan yang disampaikan suami ke Attar, berkali-kali. Kami membelikan Attar mainan pesawat lengkap dengan minidiorama bandara. Ada shuttlebus yang suka ngangkutin penumpang, mobil yang bawa tangga buat turun dari pesawat, sampai rambu-rambu yang biasa ditemukan di bandara. Kami memainkannya berkali-kali agar Attar mengenali suasana bandara.

Cara ini cukup membuat dia excited akan rencana perjalanan kami. Overexcited malah, hehe. Jadi sehari sebelum jadwal berangkat, Attar merengek. “Attal mau pegi ke tempat Atung, sekalang!” katanya. Rupanya dia sudah tak sabar liburan ke rumah kakeknya.

Saya sebenarnya punya harapan positif karena kali ini Attar sudah boleh duduk sendiri. Dengan begitu, mungkin Attar nggak akan serewel dulu saat dia harus dipangku. Bayangan saya, dia akan tertarik melihat awan dan pemandangan di bawah sana, melalui jendela pesawat. Saya juga berencana membawa beberapa mainan, buku, dan cemilan kesukaan untuk digelar di dalam pesawat nanti. Jadi sepertinya perjalanan di dalam pesawat akan cukup lancar.

Kemungkinan tantangan lainnya adalah menjaga Attar selama menunggu di bandara. Tau kan, ya, di area ruang tunggu ada banyak counter yang menjual suvenir, cemilan, sampe toko buku. Mengingat karakter Attar, biasanya sih dia akan bersemangat sekali masuk-masuk ke toko terus pegang ini-itu. Saya bisa repot kalau harus ikutin dia tawaf keliling ruang tunggu, sementara ada satu tas oleh-oleh yang harus saya bawa karena tasnya masuk kabin. Maka harus ada cara yang bisa membuatnya tenang selama menunggu jadwal keberangkatan. Kalaupun mau melihat-lihat, setidaknya nggak jauh-jauh dari tempat duduk kami.

Ide cemerlangpun muncul. Saya dan suami membelikannya koper kecil bergambar Spiderman. Attar sangat sangat sangat senang dibelikan koper ini. Saya memberinya izin untuk memilih sendiri mainan dan buku yang akan dimasukkan ke dalam koper itu. Kami beri dia kewenangan untuk mengatur sendiri isi kopernya. Sesuai perkembangan di usianya saat ini – dan sesuai pengamatan kami sebagai orangtua, Attar sedang mengembangkan kemandirian, dan termotivasi sekali jika diberi tanggung jawab sekecil apapun. Maka selain dikasih wewenang, dia juga dikasih tanggung jawab untuk membawa dan menjaga sendiri bawang bawaannya.

Next, ketika sudah sampai di bandara, saya bilang ke Attar, “Attar bawa koper sendiri ya, kopernya dijaga. Kalau Attar pergi jauh-jauh dan kopernya ditinggal, terus kopernya ilang, Ummi nggak tanggung jawab, oke?”. Sambil mengangguk mantap, “Oke!” jawab Attar. Jadilah selama di dalam ruang tunggu, Attar duduk tenang sekali sambil memegangi kopernya erat-erat. Kalaupun mau pergi melihat-lihat, paling yang deket-deket sama tempat kami duduk. Yey, rencana berhasil!😀

Selama di pesawat, sesuai harapan saya, Attar asik sekali melihat awan yang terasa dekat, menunjuk-nunjuk sayap pesawat (dan sempat meminta untuk duduk di sayap pesawat saja -_-), dan mengobrol tentang rencana apa yang akan dilakukan jika sudah ketemu Atung dan Titih. Saya sama sekali tidak kerepotan, juga tidak keringetan hehe.

Di perjalanan pulang kembali ke Jogja, saya menerapkan trik yang sama. Attar tetap memiliki tugas yang sama untuk bertanggung jawab pada barang bawaannya. Oia, saya mengupayakan tiba di bandara tidak terlalu lama dari jadwal keberangkatan, supaya nggak perlu kelamaan nunggu. Selain itu pas check in, Attar nggak saya ajak biar dia nggak bosen ngantri – atau malah melarikan diri liat ini-itu di area check in, hehe.

So yah, perjalanan kali ini sukses besar. Pada intinya, ketika ingin bepergian dengan batita, persiapan adalah yang utama. Persiapan itu termasuk menjaga kondisi kesehatan dan mood Anda maupun anak. Jika bepergian dalam kondisi bugar dan happy, insya Allah perjalanan akan terasa menyenangkan.

But still, kayaknya kalau masih bisa diupayakan, saya lebih milih traveling bertiga suami deh ke mana-mana, hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s