Menyapih dengan Cinta

Pada saat menyapih anak pertamanya, kakak saya mengalami rasa kehilangan yang sangat. Sebenarnya proses menyapih Rara, ponakan saya itu, terbilang cukup sukses. Dalam waktu sekitar seminggu saja, Rara sudah terbiasa disapih dan tidur malam tanpa menyusu lagi. Bahkan, Rara tidak lagi terbangun di tengah malam untuk menyusu – hal yang sering terjadi sebelum ia disapih. Namun ternyata, justru kakak saya yang merasa sedih.

Selama sebulan setelah penyapihan berhasil dilakukan, kakak saya selalu terbangun beberapa kali di malam hari. Tubuhnya seperti mengingatkan bahwa ia harus menyusui, seperti dulu. Ia bahkan merasa kerinduan yang dalam untuk menyusui anaknya kembali. Ia kehilangan momen-momen terindahnya, misal saat ia memandangi mata Rara yang bulat saat sedang menyusu.

Dulu saya pikir, kakak saya terlalu “drama”. Anak yang berhasil disapih tanpa banyak rewel kan, bagus tuh. Tandanya anak pinter. “Itu berarti, Rara sudah makin mandiri kan, Bun,” kata saya waktu itu.

Eh sekarang giliran saya deh menyapih. Dan saya kemakan omongan saya sendiri, huhu.

Sejak Attar berusia 22 bulan, saya sudah mulai mengurangi frekuensi menyusu Attar. Setelah frekuensi berkurang, durasinya juga dipotong. Terus, saya juga sounding tentang penyapihan kepada anak saya. Saya menggunakan metode hipnoterapi yang udah banyak dipake Mommies lain. Sering diobrolin juga di berbagai forum dan milis, dan katanya efektif banget.

Praktik hipnoterapi untuk penyapihan pada intinya membisikkan anak kata afirmasi berulang-ulang saat menjelang tidur. Jadi momen di mana anak sudah mulai teler tapi belum sepenuhnya tidur (ini ada deh istilah ilmiahnya tapi saya lupa, hehe), nah saat itu adalah momen yang pas untuk menyuntikkan afirmasi. Sebab, alam bawah sadar anak masih tajam menyerap informasi dan biasanya justru lebih nancep. Waktu anak udah mulai teler gitu, kita bisikkan di telinganya kata-kata positif semacam “Attar sudah besar, kalau sudah dua tahun nenennya di-stop ya. Diganti susu kotak (soalnya saya kasih UHT ke anak, bukan sufor)”, atau kalimat senada itu. Kalimat afirmasi harus lugas, singkat, dan tidak menggunakan kata negatif.

Maka saya praktikkan afirmasi kepada anak saya. Nah, harusnya ini kan, rutin ya. Setiap kali menjelang tidur (baik tidur siang ataupun malam), kalimat yang sama dan berulang-ulang. Cuman saya tuh kasih hipnoterapi seinget saya aja. Kalo inget ya dihipno, kalo nggak ya lewat. Intinya saya mah nggak telaten. Inilah yang mungkin membuat hipnoterapi nggak memberikan hasil yang saya harapkan dalam proses penyapihan anak. Udah gitu saya juga kadang menghipnonya saat anak belum teler-teler banget, jadi sebenarnya dia masih posisi siaga gitu pas dihipno. Akibatnya pas saya sounding “Attar berhenti nenen, ya”, lah anak saya malah menggeleng dengan keras.

Udah gitu, makin mendekati usia dua tahun, semakin saya sounding, anak semakin menunjukkan penolakan yang besar. Jadi saya mencoba menyisipkan pesan bahwa anak akan berhenti menyusu, di berbagai kesempatan dan aktivitas. Misal kalau lihat bayi, saya tunjukin bahwa yang menyusu itu adek bayi. Kalau anak besar susunya susu kotak. Bisa juga saat dia melakukan kemandirian sebagai anak besar, Attar akan saya puji. Di akhir pujian akan saya tambahkan pesan “nah, lebih pintar lagi kalau berhenti menyusu!”

Tapi apa reaksi Attar? Semakin dimotivasi untuk berhenti menyusu, dia semakin lengket sama saya. Malah semakin sering minta menyusu. Gelisah sedikit, takut sedikit, langsung nyari nenen. Apalagi kalau dibilang “Ih, udah gede masih nyusu? Malu iiihh…”, langsung deh nyari payudara saya. Lah, gimana sih ini?

Lalu saya mencoba mundur. Saya tidak lagi mengungkit-ungkit perkara “berhenti nenen” di depan Attar. Dia mau menyusu saya kasih, kalau nggak minta yang nggak ditawarin (prinsip don’t offer, don’t refuse). Selebihnya, sesuai saran Konselor Laktasi Sari Intan Kaylaku, saya memfokuskan diri pada “menjadikan Attar anak besar”. Saya mengapresiasi dan mendorong kemandiriannya. Saya memberinya kesempatan untuk memilih sendiri baju, celana, dan sepatu yang ingin dipakai saat akan bepergian. Saya melatihnya untuk membuat keputusan sendiri.

Menurut Mbak Sari, dasar dari Penyapihan Penuh Cinta (Weaning With Love) adalah membantu ibu dan anak mendapatkan momen sendiri untuk menghentikan penyusuan. Didasari kesepakatan kedua belah pihak, dengan komunikasi dua arah yang baik, dan tanpa kebohongan.

Ya, ternyata dalam penyapihan, tak hanya anak yang harus disapih. Tapi juga ibu. Saya jadi inget sama pengalaman kakak saya, dan segera menemukan alasan mengapa dulu saya nggak serius melakukan hipnoterapi pada anak. Karena sebenarnya saya sendiri belum ingin menghentikan penyusuan. Saya belum rela “melepaskan” anak dari diri saya. Aktivitas menyusui adalah hal yang luar biasa bagi saya. Saat menyusui, saya tak hanya mentransfer ASI, tapi juga mengirim kasih sayang. I found peace when I nurse my baby. Karenanya, saya seperti tak punya gambaran bagaimana nanti jika saya berhenti menyusui. Penyapihan adalah momen perpisahan yang besar bagi anak dan ibunya, maka itu ibu pun perlu persiapan.

Saya meyakinkan diri bahwa dengan menyapih, saya membantu anak saya menjadi dewasa dan berani. Ia akan melangkah jauh ke luar zona nyamannya, dan saya harus memastikan bahwa saya ada di sampingnya, menemaninya, dalam melewati momen ini. Suami pun ambil peran. Mereka menghabiskan waktu lebih banyak berdua, bermain dan mengobrol, termasuk tidur berdua. Dengan demikian, selama proses penyapihan, anak tak akan merasa bahwa “berhenti menyusu berarti berhenti disayang”.

Lalu tiba lah Attar di usia 2 tahun 3 bulan. Saya kembali resah. Aduh, sudah lewat dua tahun kok Attar belum beres juga disapihnya? Masih saja menempel dengan payudara, terutama ketika ia takut, gelisah, atau tak nyaman akan satu hal. Saya melihat bahwa “menyusu” adalah bentuk pelarian Attar dari rasa tak nyaman dan rasa takut yang dirasakannya. Ketimbang menghadapi perasaan itu head-to-head, Attar memilih lari dan berlindung pada saya, lalu menyusu – bentuk aktivitas yang selalu membuatnya merasa nyaman dan aman.

Pelan-pelan saya dan suami mencoba mengubahnya. Jika Attar merasa takut atau gelisah, kami ajak dia menghadapinya. Takut pada suara asing? Kami gandeng tangannya lalu cari sumber suara aneh. Oh, ternyata hanya suara tikus berlarian di atas atap. Takut akan gelap? Lagi-lagi kami gandeng tangannya lalu ajak menuju tempat gelap sambil mencari, apa sih yang bikin takut? Kami ingin menunjukkan pada Attar bahwa apapun perasaannya, kami ada di sampingnya dan siap membantu meredakan perasaan tak nyaman itu. Dia tak perlu lari, tak perlu mencari pelampiasan, namun dia perlu hadapi.

Masalah pelarian mulai terselesaikan. Namun Attar belum mau berhenti menyusu. Merasa habis akal, saya pun mencoba cara tradisional. Ya, dengan berat hati saya harus mengkhianati upaya dan idealisme saya untuk menyapih Attar tanpa kebohongan. Saya tutup puting dengan plester, lalu saya bilang padanya “nenen Ummi luka”. Apa yang terjadi? Dia bilang “Attal tunggu sampai nenen Ummi sembuh.” *tepokjidat*

Merasa plesternya nggak dibuka-buka (yang baginya Ummi nggak sembuh-sembuh), suatu kali plesternya dibuka sama Attar. “Loh, Ummi nggak luka!” katanya senang, lalu menyusu dengan lahap. *tepokjidatduakali*

Berikutnya, saya oles payudara dengan brotowali. Itu kan, pait banget ya sodara-sodara. Tangan saya kena bekas brotowali aja dicuci masih kerasa pahit. Nah, waktu Attar minta menyusu, saya sodorin deh payudara yang sudah diolesi brotowali. “Pait,” kata Attar. Tapi, boro-boro melepas puting, anak saya malah lanjut menyusu. Kali lain, brotowalinya saya olesin banyak-banyak. Begitu merasa pahit, anak saya malah bilang gini: “nenen Ummi pait. Ummi cuci dulu nenennya.” *tepokjidattigakali*

Begitulah, cara tradisional yang dibilang ampuh sama orang-orang jaman dulu, nggak mempan di anak saya. Justru saya yang kerepotan karena harus berbohong dan nggak bisa nyari alasan logis. Selama ini saya selalu merasionalisasikan berbagai hal pada Attar, sehingga dia pun terbiasa menggunakan nalar saat kami berkomunikasi. Kalau dilempar suatu isu, Attar mencari rasionalisasi. Jadi waktu saya kasih plester dan brotowali ke payudara, saya nggak bisa jawab dengan baik ketika anak saya tanya “kenapa?”. “Kenapa nenen Ummi luka? Kenapa nggak sembuh-sembuh? Kenapa nenen Ummi pait?”. Saya nggak bisa jawab, karena saya harus berbohong. Sementara, kebohongan ini sungguh saya hindari. Ya, bagaimana saya ingin menciptaka anak yang jujur jika saya sendiri mengajarinya berbohong?

Jujur saya merasa sangat menyesal karena harus berbohong. Saya seperti mengkhianati diri saya sendiri. Saya jadi teringat pada saran Mbak Sari, dia bilang “jangan tetapin target dalam penyapihan. Fokuslah pada proses komunikasinya”. Ya, kemarin itu saya resah karena sudah hampir 2,5 tahun tapi Attar belum berhasil disapih. Saya merasa terbeban deadline – yang sebenarnya nggak ada juga yang maksain deadline itu ke saya. Saya pun tergoda mencoba cara instan – yang ternyata tetap saja tak berhasil.

Maka saya mengulangnya dari awal. Saya bilang pada Attar, “mulai sekarang nggak akan ada plester dan pait-paitan lagi di nenen Ummi. Attar boleh menyusu jika Attar mau, dan berhenti jika Attar mau juga”. Kami melupakan momen plester dan brotowali, lalu menjalani hidup seperti biasa. Sampai suatu malam, iseng saya bicara pada Attar.

“Attar sudah besar yah?”

“Iya,” jawabnya.

“Anak besar nenen nggak?”

“Nggak, yang nenen adek bayi,” jawab Attar mantap. Saya merasa mendapat angin.

“Malam ini kita coba tidurnya nggak pake nenen ya?”

Attar terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengiyakan. “Diganti galuk (garuk, red) ya,” pintanya. Saya mengangguk lalu memeluknya, dan malam itu berlalu tanpa penyusuan.

Seminggu setelahnya, malam-malam pun masih berlalu tanpa penyusuan. Kadang Attar rewel minta nenen, namun berhasil dirayu atau dialihkan. Prosesnya tidak sesulit yang saya bayangkan. Palingan cuman tangan aja mau patah ngegarukin tiap malam, hehe.

Tepat di usianya 2,5 tahun, kami berhasil menyapih diri kami masing-masing. Kadang Attar minta nenen, tapi tidak serius, hanya bercanda dan menggoda saya saja. Saya pun menanggapinya dengan bercanda juga. Kadang, saya juga kangen menyusui Attar. Saya kangen berbicara dengan mata dan senyumannya sementara mulutnya asik menyusu. Saya rindu memeluknya seintens itu.

Tapi saya juga senang sekaligus bangga, pada akhirnya bisa jujur dalam menyapih anak saya. Saya sungguh bersyukur bisa memberikan ASI kepada Attar sesuai haknya. Ini juga tak lepas dari dukungan suami, yang sejak awal sepakat dan satu kata untuk memberikan ASI tanpa sufor sampai usia dua tahun.

Sebab kami paham, ASI adalah hak Attar maka kami berupaya untuk memberikannya sebisa kami. Kami paham bahwa ASI adalah milik Attar maka kami tak bisa merebutnya begitu saja. Kami harus memintanya baik-baik dan dengan kejujuran.

Mommies, saya sudah mencoba berbagai macam cara, dan membuktikan bahwa komunikasi yang baiklah yang menjadi penentu keberhasilan penyapihan. Bahkan dengan komunikasi yang baik, anak sendiri lah yang akhirnya menentukan kapan ia ingin berhenti menyusu. Semoga dengan memberinya wewenang untuk mengambil keputusan kecil ini, kami telah memberinya bekal kemandirian, kekuatan, dan keberanian dalam mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidupnya kelak.

attar s3+

8 thoughts on “Menyapih dengan Cinta

  1. saya sedang proses menyapih anak saya perempuan sudah 2 th 1 bulan. saya bekerja jadi anak memang hanya nenen di malam hari, tapi nenen nya luar biasa lama sepanjang malam mungkin pelampiasan sepanjang hari tidak nenen. lalu 2 malam ini saya coba tidak berikan sama sekali, dia ngamuk sekali nangis dan teriak2, sudah saya peluk saya kasih pengertian kalau dia sudah 2 tahun, sudah cukup nenen nya, tapi masih nangis, kata mba penjaganya ibu harus tega.. saya kok ga tega yaa..pingin rasanya lgs nenenin kalau denger dia nangis sampe suara serak dan batuk2. yg ingin saya tanya, jadi kalau proses nyapih ga harus langsung berenti ti ya, kalau dia ngamuk kasih lagi gitu ya mba?

    thanks before atas sarannya

    • Bunda Vera,
      Penyapihan sebaiknya merupakan hasil persetujuan antara ibu, ayah, dan anak. Dalam pengalaman menyapih saya, beberapa cara sudah saya terapkan, dari oles-oles sampe hypnoweaning. Cara yang ternyata berhasil dan sangat efektif adalah mengajak anak berkomunikasi. Hal lain yang perlu diperhatikan juga, penyapihan sebaiknya gradual, bertahap, tidak mendadak. Memang menjadi sangat sulit kalau tiba-tiba kita tidak memberikan ASI sama sekali, anak akan kaget dan menjadi bingung. Bagaimanapun, ASI adalah “milik” anak. Sepanjang hidupnya selama 2 tahun ini mereka kerjaannya ya menyusu, maka sangat tidak adil jika mendadak kita rebut hak milik itu dari mereka.
      Coba Bunda ajak bicara dulu, bahwa “kakak sudah besar, saatnya berhenti menyusu” – tapi jangan dulu hentikan penyusuan. Biarkan anak menyerap informasi ini dulu. Kemudian, kurangi dulu frekuensi dan intensitas menyusu di malam hari. Menyusunya dikurangi durasinya. Lagipula, anak yang menyusu sambil tidur juga tidak baik sih buat pertumbuhan giginya.
      Setelah itu, Bunda coba ciptakan kondisi penuh sayang di antara anak, Bunda, dan suami. Jelaskan bahwa berhenti menyusu bukan karena Bunda dan Ayah tidak sayang kakak lagi, dsb.
      Penyapihan semestinya tidak ditarget kapan harus berhasil. Lakukan saja pelan-pelan, sampai akhirnya Anda bertiga sepakat kapan penyapihan harus benar-benar dimulai. Penyapihan harus dilakukan bertiga, dengan keterlibatan Ayah. Misal seperti dulu anak saya disapih, menjelang waktu tidur dia mulai resah karena tau sudah tidak bisa menyusu. Maka ayahnya akan ajak dia main, cooling down, didongengin, dsb, sampe akhirnya dia mengantuuuk sekali, lalu mencari saya utk dininabobokan. Sebentar dielus-elus, udah ngorok dia hehe.
      Kalo anak ngamuk saat mulai disapih, berarti sekarang bukan saatnya disapih, Bun. Nikmati saja momen breastfeeding Anda, kelak ketika sudah tersapih, kadang kita sendiri yang kangen momen kedekatan kita dengan si kecil ini. Lagipula, kenapa sih kita harus cepet-cepet menyapih? Takut anak manja? Seorang kawan saya anak tunggal, disapih usia 3 tahun dan dia adalah orang paling mandiri dan independen yang pernah saya kenal. Justru dengan memberi kesempatan pd anak untuk memutuskan sendiri kapan mau disapih, kita telah mengajarkan anak mandiri dan berani mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
      Sepanjang pengalaman saya, tekanan utk menyapih cepet-cepet itu datangnya dari luar, karena tuntutan orang sekitar kita. Karena malu diliatin, ih anaknya udah besar kok masih disusui. Itu aja. Gimana cara mengatasi tekanan ini? Ya abaikan saja. Penyusuan ini adalah urusan keluarga Anda, orang lain mah apa urusannya, hehe.
      Segitu ya, maaf jadi panjang. Mudah-mudahan berkenan dan bermanfaat🙂

  2. Terimakasih banyak ummi attar, jadi semakin mantap dengan WWL, semoga tidak terlambat ya karena sudah terlanjur 2 hari berenti mendadak…
    Aku merasa kok jadi ibu paling kuper padahal akses untuk cari informasi terbuka lebar, eeeh malah dengerin omongan si mbaknya, aduh salah aku sendiri jg sih ya..
    eh jd curhat lagi jg, heheh terimakasih sekali lagi ya..sangat bermanfaat

    • Sama-sama, Bunda.
      Iyah, nikmatin aja Bun penyusuannya, mumpung masih bisa tuh memeluk anak selengket-lengketnya sambil membelai-belai kepalanya. Besokan kalo udah disapih dan lebih mandiri, anak-anak tuh dipeluk lama buat disayang-sayang gitu aja udah ogah, huhu *tsurhat*
      Karena sempat berhenti mendadak, Bunda minta maaf aja setulus-tulusnya sama anak. Dulu saya juga minta maaf setelah ngasih olesan pait gak jelas gitu, hehe. Setelah itu saya biarkan anak menyusu semau dia. Tapi pake prinsip don’t offer, don’t refuse ya Bun. Kalo anak minta, dikasih. Kalo gak minta, gak usah ditawarin – termasuk menjadikan “nenen” sebagai iming-iming atau imbalan saat merayu anak. Misal nih, “kalo kamu baik, nanti Bunda kasih nen”. Hindari ya Bun, ntar anak memanfaatkan itu utk bisa lanjut nenen, hehe.
      Oia, karena dia sering terbangun di malam hari buat menyusu, mungkin bisa dicoba kasih aktivitas maksimal buat anak di siang hari, jadinya malamnya bobo pules. Coba cek di babycenter.com deh Mom, kalo gak salah saya pernah baca artikel “games to tire your children out” – pilihan aktivitas dan permainan yang bikin energi anak cepet terkuras, hehe.

  3. Ahhhh good info mom harus minta maaf yaa..oke2…
    kalau siang memang si adek main terus kok, aktif banget dia, tp memang nenen itu jadi kenyamanan buat dia..kebangun nya itu ya cm nyari nenen, kayak takut ditinggal gt mom..

  4. Alhamdulillah aku udah berhasil nyapih anak kedua aku pake metode weaning with love. Emang bener banget ya bun, momen-momen pelukan erat pas nyusuin itu emang nikmat dan indah banget. Jadi kangen sekarang.. Huhuhu. Thanks sharingnya ya Bun..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s