Mainan Anak Laki-Laki dan Perempuan

Saya pernah baca di website Parenting Indonesia kalau nggak salah, tentang perbedaan nature anak perempuan dan laki-laki. Nature atau sifat alamiah anak perempuan adalah nurturing, sementara anak laki-laki membawa sifat alami mobile. Mungkin sifat alami inilah yang menjadi dasar mengapa anak perempuan cocok dengan mainan boneka, yang memungkinkan mereka menyalurkan perasaan kasih, caring, dan loving. Anak laki-laki pun tampak klop dengan mainan semacam mobil-mobilan – yang bisa didorong, ditarik, diseret – hal-hal yang memenuhi kebutuhan mereka untuk bergerak.

Namun masyarakat kita kemudian menambahkan pemilihan mainan ini dengan konstruksi budaya dan gender. Karena perempuan diidentikkan dengan pekerjaan domestik semacam memasak dan mengasuh anak, maka seyogyanyalah anak perempuan dikasih mainan boneka dan seperangkat alat masak mainan. Sementara, laki-laki dikonstruksikan untuk selalu berada di luar rumah, bekerja, dan memiliki rutinitas mobilitas tinggi, maka “sebaiknya” anak laki-laki bermain mobil-mobilan, perang-perangan, atau permainan lain yang merepresentasikan maskulinitas. Tanpa sadar, kita telah mengurung anak-anak di dalam pagar tanpa alasan yang kuat.

Saya sendiri, lahir dengan jenis kelamin perempuan tulen namun perilaku di masa kecil jauh dari kesan nurturing. Sepanjang ingatan, saya tidak memiliki banyak mainan boneka atau barbie. Meski juga tidak mengoleksi mobil-mobilan, tapi saya suka permainan yang katanya “ala laki-laki”, macam memanjat pohon atau mengejar ayam. Saya sering menindas anak laki-laki di kelas ketika di SD. Suara saya paling nyaring dan saya tidak takut menggampar anak laki-laki – atau perempuan – yang berbeda pendapat dengan saya. Saya, jauh dari kesan anak perempuan yang lembut dan penuh kasih.

Seingat saya pula, orangtua saya tidak pernah melarang saya melakukan itu – aktivitas laki-laki, atau memaksa saya bermain boneka saja dan anteng di rumah. Sebab, jelas orangtua saya memahami bahwa setiap anak adalah unik.

Karenanya, konstruksi budaya dalam pemilihan mainan tidak pernah melekati saya sejak kecil.

Kini, ketika saya sudah memiliki anak, saya berupaya memahami bahwa anak saya adalah one of kind. Saya berusaha pula untuk lepas dari konstruksi yang bias gender itu baik dalam pengasuhan, pendidikan, hingga sampai ke pemilihan jenis mainan untuk Attar, putra semata wayang saya yang dua bulan lagi berumur tiga. Saya dan suami sebagai orangtua Attar memilih mainan yang sifatnya netral. Kami lebih memperhatikan sisi edukatif si mainan dan sejauh apa mainan tersebut mampu menstimulasi perkembangan motorik maupun sensorik Attar. Kami menyediakan lego, puzzle, buku cerita/buku bergambar, boneka binatang, kertas origami, dan alat tulis/gambar/lukis untuk Attar. Attar punya boneka Popeye, sapi, dan miniatur dinosaurus. Tapi dia juga punya setumpuk mobil-mobilan berbagai jenis, dari mobil sedan sampai truk pengaduk semen.

Faktanya, semua hal bisa dijadikan mainan bagi Attar. Tak melulu bermain dengan apa yang tersedia di keranjang mainan. Attar bisa bermain dengan media apapun, termasuk peralatan masak saya. Ini bermula ketika Attar sering “menemani” saya masak di dapur. Supaya Attar anteng saat saya memasak, saya membiarkan dia menginspeksi isi rak piring. Maka, bukanlah pemandangan yang aneh jika saat saya memasak, panci, wajan, dan baskom bertebaran di lantai dapur. Saya biarkan saja dia bermain dengan piranti memasak itu, karena saya lihat dia bisa tenang bermain sendiri dan tidak rewel minta digendong.

Sebagaimana kita tahu, anak adalah pengamat dan peniru ulung. Hanya dengan mengamati saya mengaduk masakan dan menaburkan bahan maupun bumbu di atas wajan, Attar bisa menirukannya dengan baik. Ketika bermain wajan, dia juga meminjam sutil lalu berpura-pura memasak sendiri. Saya mengamati, dia sangat luwes melakukannya, like a pro. Padahal, ketika itu usia Attar belum ada dua tahun. Kali lain, ketika kami berlibur ke rumah mertua di Pati, Jawa Tengah, tanpa sengaja Attar bermain dengan pisau plastik yang biasanya terselip di kardus bolu. Ia menggunakannya untuk memotong kacang panjang. Tanpa saya duga, Attar bisa memotongnya dengan sangat rapi dengan ketebalan yang hampir seragam. Saya cukup amazed, mengingat Attar tidak pernah menggunakan pisau sebelumnya (hya iyalah, bahaya gitu!), apalagi melakukan praktik iris-mengiris.Waktu itu usia Attar dua tahun lebih sedikit. Dari situ saya memahami, Attar mungkin memiliki minat dan bakat terhadap aktivitas memasak.

Dalam buku “Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak”, praktisi parenting yang dikenal dengan nama Ayah Edy menjelaskan perbedaan minat dan bakat. Singkatnya, kamu dikatakan berminat pada sesuatu ketika “you love it and know it well”, sementara berbakat adalah ketika “you can do it well”. Bakat berorientasi pada hasil. Orang yang berminat pada masak-memasak mungkin suka menonton atau membaca hal-hal tentang bumbu dan kuliner, namun belum tentu bisa memasak dengan baik. Sementara orang yang memiliki bakat memasak mampu mengolah bahan makanan menjadi sajian yang lezat dan berpenampakan menarik.

Saya ingin sekali mendukung minat dan bakat anak saya, apapun itu. Namun, waktu itu rasanya kok ya gimanaaaa gitu yah mau membelikan Attar seperangkat mainan plastik – yang kebanyakan berwarna pink itu, huhu …. Yap, ternyata meski merasa paham akan kesetaraan gender dan hal-hal semacam itu, saat dihadapkan pada realitas, saya mikir juga. Hehe.

Lalu saya menghadap psikolog di sekolah anak saya dan menceritakan kegalauan saya. Sang psikolog mencoba memberi pemahaman bahwa setiap anak bebas bermain apa saja, tidak harus dikota-kotakkan sebagaimana sering terjadi di masyarakat kita. Orangtua seharusnya tidak membangun dinding yang membatasi minat anak hanya karena konstruksi dan stereotipe. Sepenuh hati saya memahami dan setuju akan hal itu. Sang psikolog kemudian memberi saran jitu. Menurutnya, sebaiknya tidak memberi mainan alat masak yang terbuat dari plastik. Selain ukurannya kurang proporsional, mainan plastik tidak memberi sensasi bunyi. Dengan alat masak asli, anak bisa melakukan eksplorasi bunyi dan tekstur. Karenanya, indera peraba dan pendengarnya bisa terstimulasi. Dari situ saya punya ide cemerlang. Saya kemudian membelikan Attar panci dan wajan aluminium berukuran mini. Saya belikan dia sutil dan capit (itu loh yang biasanya buat njepit gorengan). Piring atau mangkuk plastik/melamin yang sudah buluk juga saya kasih ke Attar. Singkatnya, Attar pun memiliki seperangkat alat masak sungguhan, hanya saja ukurannya semini dirinya, hehe. Dia juga punya mainan blender plastik sih, soalnya gak mungkin juga saya kasih blender asli meskipun mini. Selain bahaya karena ada pisaunya, kan sayang bo, masih sering akika pake, hehe ….

Belakangan saya belikan Attar satu pak pisau plastik – karena pisau plastik satu-satunya sudah patah saat digunakan memotong wortel. Akhir-akhir ini Attar minta dibelikan cobek kecil, dan saya berencana akan membelikannya sekalian sama talenan kecil. Soalnya talenan saya suka dimonopoli sama Attar.

Kapan itu saya ajak dia mengaduk adonan pancake. Hasilnya, adukan Attar sangat halus, tidak ada terigu yang menggumpal, meskipun sekitar 20% adonan tumpah ke lantai.

Jadi yah, anak saya itu lihai sekali “memasak”. Saat sedang memasak, Attar tekun dan telaten sekali mencacah wortel, buncis, dan labu hingga jadi kecil-keciiil, dan sekali lagi, ukurannya 95% seragam. Saat “memasak”, dia bisa duduk anteng selama setengah jam lebih, dan itu berarti “surga” untuk orangtuanya, hihi. Attar juga suka bermain lego, melukis, dan menyusun puzzle, tapi masih cenderung cepat bosan dan hanya bertahan anteng maksimal 15 menit.

Jangan salah, di lain waktu ketika ia tidak sedang bermain masak-masakan, Attar adalah atlet lari dan panjat tebing yang ulung. Dia juga sangat bersemangat bermain gulat atau perang-perangan dengan ayahnya. Ya, Attar itu aktif sekaliiiii, dan sudah maestro dalam melakukan aktivitas laki-laki. Dengan kata lain, kami tidak perlu meragukan kualitas maskulinitas anak kami, haha!

Kelak jika sampai dewasa Attar memang menunjukkan minat dan bakat yang tinggi terhadap memasak, saya ingin terus mengajaknya terlibat di dapur, bahkan tak ragu jika saya perlu menyekolahkannya di bidang kuliner profesional. Tak ada yang salah menjadi koki laki-laki, bukan? Tuh, chef Arnold dan chef Juna seganteng itu jadi koki dan banyak fansnya. Chef Degan bisa punya rumah kayak istana dengan pekerjaannya jadi tukang masak. Kami sebagai orangtua hanya berharap Attar bisa memberikan makanan yang thayyib bagi orang lain, dan itu bisa berbalik menjadi berkah bagi dirinya, tanpa perlu merasa peduli akan pengkotakan atas nama konstruksi dan stereotipe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s