Mengatasi Trauma pada Anak

Waktu kecil, Attar suka sekali bermain air. Dia senang main di pantai atau di kolam. Kalau sudah ketemu air Attar susah sekali “mentas” alias berhenti.

Saat usianya dua tahun lebih, Attar sempat mengalami insiden kecil saat ada kegiatan berenang di daycare-nya. Ketika itu, Bunda pengasuh sedang memakaikan swim trainer alias pelampung renang untuk batita berupa ban plastik yang dilengkapi dengan sabuk pengaman. Belum selesai sang Bunda memakaikan sabuknya, Attar sudah berlari menuju kolam dan sedikit terpeleset. Akibatnya, Attar sempat kelelep selama beberapa detik. Untunglah waktu itu ada Bunda lain yang sudah berada di kolam dan dengan sigap mengangkat Attar.

Semua terjadi begitu cepat, di hadapan mata saya. Saya sendiri saat itu sudah mau pergi bekerja, tapi ingin menyempatkan diri mengambil foto Attar sedang berenang dengan Bunda dan teman-temannya. Posisi saya sudah terlalu jauh dari Attar, dan hanya bisa menyaksikan Attar kelelep tanpa bisa berbuat apa-apa. Attar menangis kencang sekali, badannya gemetar. Sungguh durasi kepala Attar di dalam air tidaklah lebih dari 2-3 detik. Namun baginya itu sudah cukup untuk membuat panik. Kepanikan itulah yang membuatnya menangis histeris … dan menjadi trauma berenang. Selama beberapa saat setelah itu, Attar tidak lagi antusias bermain di pantai. Jika dimandikan dengan shower dan mukanya tersiram air agak banyak, Attar akan gelagepan dan bilang “Attar tenggelam, Attar tenggelam!”.

Beberapa bulan kemudian, Attar saya pindahkan ke sekolah lain. Alasan pindah bukanlah karena insiden itu, namun karena Attar memang sudah masuk usia playgroup  dan saya menginginkan sekolah yang ada daycare sekaligus. Nah, di sekolah baru ini, terdapat pula kegiatan berenang rutin bulanan. Saat pertama kali berenang di sekolah baru, saya menjelaskan kepada Bunda guru tentang kondisi trauma Attar. Saya menceritakan detil bagaimana kejadiannya dan apa dampaknya pada Attar. Maka saya meminta para Bunda guru untuk memaklumi jika Attar tidak antusias dan tidak memaksanya jika ia menolak. Namun, Bunda boleh terus menawari dan menyemangati Attar untuk berenang.

Selama 3-4 kali kegiatan berenang di sekolah baru ini, Attar masih tidak menunjukkan perubahan. Dia masih enggan. Jika di hari itu ada kegiatan berenang, Attar terlihat malas dan akan mengajukan berbagai alasan supaya tidak usah berangkat sekolah. Demikian pula, ketika ada kegiatan main ke pantai bersama keluarga, Attar memilih bermain pasir saja di tepian, tidak ingin mengeksplorasi lautan.

Saya kemudian berpikir, perlu ada cara yang harus dilakukan untuk setidaknya membuat Attar tidak lagi terlalu takut pada air. Setiap kali ingin berenang, saya dan suami menyuntikkan kalimat afirmasi padanya. Saya bilang, “Attar masih takut berenang? Tidak apa-apa, takut itu wajar. Tapi Attar boleh mencoba, nanti dijaga Bunda. Dan Ummi tahu, Attar anak pemberani”. Bukan cuma saat berenang di kolam sih, saat main air di laut atau tempat wisata yang ada acara main airnya, saya juga memberi semangat padanya. Baik saya maupun suami pantang memaksanya jika dia memang tak ingin. Tujuan kami adalah agar Attar bisa menerima dan mengakui rasa takut itu, bahwa rasa takut tidaklah terlarang dan tidak pula membuatnya terlihat buruk. Namun kami juga ingin mendorong kepercayaannya kembali, kepada dirinya, juga kepada orang-orang di sekitar yang akan menjaga keamanan dan keselamatannya.

Dua minggu lalu, saya mengajak Attar ke kebun binatang. Di sana terdapat sebuah wahana kolam tangkap. Setiap pengunjung anak-anak boleh nyemplung ke kolam ikan dan menangkap ikan dengan jala, biayanya Rp10.000,- per anak. Ikan yang berhasil ditangkap ditaruh di dalam plastik dan boleh dibawa pulang, berapapun jumlahnya. Melihat pengunjung yang sudah nyemplung ke kolam dan berusaha menangkap ikan, tampaknya seru sekali. Spontan saya menawarkan kepada Attar untuk ikutan masuk ke kolam dan menangkap sendiri ikan-ikannya. Tak saya duga, Attar mengiyakan tawaran saya, dengan satu anggukan mantap dan tatapan mata yang berbinar. Jadilah, selama lebih dari 30 menit Attar bermain dengan riang di kolam setinggi pahanya sambil mencoba menangkap ikan hias berwarna jingga. Ini rekor, loh. Saya pun tertegun dan berpikir, mungkinkah ini berarti Attar mulai bisa melupakan traumanya?

Kamis (23/10) ini, ada jadwal berenang lagi di sekolah Attar. Saya sudah diberi tahu sepekan sebelumnya. Lalu, berbekal dengan pengalaman minggu lalu di kolam tangkap, saya iseng mengajak Attar berenang di kolam renang umum. Kami akan berenang sendiri di hari Sabtu. Saya belikan Attar kacamata renang bergambar Spiderman sebagai upeti – dan dia jadi antusias sekali. Saya bilang, kacamata renang hanya dipakai jika berenang. Alhasil dia bersemangat sekali menunggu hari Sabtu. Di hari yang dijanjikan, kami berangkat dengan persiapan gegap gempita dan bekal yang terisi penuh – sebab biasanya usai berenang kita akan merasa sangat lapar, hehe. Selama berenang, Attar senang sekali. Di kolam renang umum ini, kolam untuk anak tidak terlalu besar, kalau diisi 4 orang anak saja – disertai 4 orang dewasa yang menjaganya – kolam itu sudah terasa penuh sekali. Tapi Attar tak hirau, dengan penuh tawa ia bermain di kolam tanpa pelampung bannya. Saya menyewa pelampung papan dari pihak penjaga kolam, dan Attar juga antusias menggunakannya. Terlebih, di sana ada perosotan yang mengarah langsung ke air. Attar bolak-balik naik-turun perosotan ini puluhan kali.

Saat berenang, saya mengajari Attar menyelam dan menahan napas. Saya memintanya untuk meniupkan udara keluar mulut jika kepalanya berada di bawah air, alih-alih menghirupnya. Beberapa kali Attar terminum air dan tersedak, tapi ia tak tampak panik lagi. Dia sudah tidak takut lagi.

Terbawa rasa gembira berenang di akhir pekan, Kamis ini Attar bersemangat sekali ingin berenang di sekolah. Tapi dia mengajukan syarat, saya harus menemaninya selama kegiatan. Sebelumnya, biasanya Attar saya titipkan kepada Bunda guru selama berenang. Kali ini saya memenuhi syarat dari Attar, berjanji untuk menemaninya bahkan ikut berenang bersamanya. Saya sudah meminta izin kepada atasan untuk sedikit terlambat masuk kantor demi agenda ini.

Saat berenang bersama teman-teman, Attar sudah mau mengikuti instruksi trainer renangnya. Menggunakan kacamata Spiderman, ia mau melakukan pemanasan, belajar mengayuh kaki di dalam air dalam kondisi telentang maupun tengkurap, hingga terjun bebas dari tepian dan disambut oleh Bundanya yang sudah siaga di dalam kolam. Attar cenderung agak manja sih kalau ada saya, beberapa kali gelendotan di kaki saya dan memisahkan diri dari teman dan guru-gurunya. Saya harus merayunya agar mau bergabung dan mengikuti pelajaran renang dengan tertib.

After all, saya bangga sekali pada Attar hari ini. Dia berhasil menaklukkan traumanya. Attar menikmati acara berenangnya, setelah sekiaaaan lama takut pada air, khawatir tenggelam. Usai berbilas dan berpakaian, Attar duduk manis sembari menikmati sepotong arem-arem. Saya pun berpamitan karena harus segera masuk kantor. Nanti sore saya akan menjemputnya seperti biasa.

Dari kejauhan, tampak Attar yang rambutnya masih basah sedang bercengkrama dengan kawan sebayanya. Saya tidak tahu mereka lagi ngobrolin apa, yang jelas mata Attar tampak bersinar terang, ditingkahi remah arem-arem yang menyembur lucu dari mulutnya saat ia tertawa. Ah, anak Ummi memang hebat! d^_^b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s