Tantangan Abad Ini: Menjawab Pertanyaan Anak

Usai menonton berita televisi tentang pengumuman kabinet pemerintahan baru beberapa minggu lalu, Attar yang sedang membantu saya membilas cucian piring melontarkan pertanyaan: “Ummi, membangun negara itu apa?”

Makcegluk.

“Nanti kita bicarakan setelah kita selesai cuci piring, ya.” Jawab saya. Usai mencuci piring, Attar bermain sama ayahnya dan kemudian lupa pada pertanyaannya. Saya sedikit bersyukur, hehe.

Kali lain, Attar bertanya “Oksigen itu apa?”. Saya berusaha menjawab, “Oksigen adalah udara yang kita hirup untuk bernafas” – saya mengatakannya sambil mendemonstrasikan gaya inhale-exhale secara lebayatun. Saya menarik nafas lewat hidung dan mengeluarkannya lewat mulut dengan dukungan ekspresi yang meyakinkan. Jadi bayangkanlah adegan manyun-mangap manyun-mangap yang berulang, haha. Sudah sedemikian besar upaya saya menjelaskannya, namun tampaknya Attar belum puas. Dia masih melanjutkan, “Udara itu apa?”.

Akhir-akhir ini, menjawab pertanyaan anak telah menjadi tantangan tersendiri bagi saya dan suami. Ajang tanya-jawab ini kadang bisa jadi semacam Kuis Kata Berkait atau lagu “Makan Apa” dengan tema yang beragam. Setiap kata terakhir dari jawaban saya akan kembali ditanyakan dengan tambahan kata “apa”. Sering pula acara tanya-jawab ini jadi Lomba Cerdas Cermat babak rebutan. Saya berupaya menjawab pertanyaan Attar dengan cepat dan tepat, lalu menunggu pertanyaan berikutnya sambil berdebar-debar.

Kalau dirunut ke belakang, perkembangan bicara Attar sebenarnya agak terlambat jika dibanding anak seusianya. Secara umum, tak hanya perkembangan bicara saja, motorik juga ada yang telat. Jadi Attar ini tipe “mesin diesel“, lama panasnya. Tapi begitu panas, mesinnya langsung lancar jaya. Saat bayi lain sudah bisa tengkurap dan berbalik sendiri di usia 4-5 bulan, Attar baru bisa melakukan kedua gerakan itu tanpa bantuan di usia 6,5 bulan. Namun begitu bisa tengkurap dan berbalik, Attar bisa merayap dan duduk lalu berdiri sambil berpegangan dalam waktu kurang dari 3 bulan. Sudah bisa rambatan, mesinnya dingin lagi. Lamaaaa sekali hingga Attar bisa merangkak dan berjalan sendiri, yaitu di usia 15 bulan. Begitu bisa berjalan, dia tak bisa dihentikan, hehe.

Sama halnya dengan perkembangan bicara. Attar sudah bisa menunjuk dan bilang “tuh, nih, ah, uh, yah” di usia 18 bulan. Namun dia baru benar-benar bisa menggunakan kata yang diucapkan untuk berkomunikasi – dan memahami kata-kata dari orang lain – sekitar 4 bulan kemudian. Namun, begitu Attar bisa bicara, ia serta-merta tak terbendung. Kerjaannya ngoceeeh melulu. Di awal tahun kedua usianya, hanya sedikit kata-kata Attar yang tak bisa dipahami. Hampir semua orang yang bertemu dengannya pertama kali, selalu bilang “Wah, sudah jelas sekali ya, bicaranya”. Tentu saja, berbagai pertanyaan pun mulai terlontar dari sela gigi susunya. “Apa?”, “Kenapa?”, “Kok bisa?”.

Fase bertanya adalah fase penting dalam perkembangan anak. Babycentre.co.uk menulis, anak yang bertanya adalah anak yang mulai mengerti seni sebuah percakapan. Anak ingin menikmati ngobrol, ingin mendengarkan pendapat orang lain, dan ingin tahu bagaimana reaksi orang lain terhadap pendapat/kata-katanya. Selain itu, menurut praktisi pendidikan Ayah Edy, melalui pertanyaan-pertanyaan anak orangtua bisa memahami minat dan bakat buah hatinya. Topik apa yang sering anak tanyakan? Hal-hal apa yang ingin dia ketahui lebih jauh? Pertanyaan anak membantu kita mengenali potensi unggulnya.

Faktanya, sejarah ditulis oleh mereka yang bertanya. Orang-orang yang skeptis dan sinis terhadap pengetahuan yang dimilikinya. Hanya dari sebaris “Apalah arti sebuah nama?”, Shakespeare menjadi legenda sastra. Dari gaya hidup sinikal terhadap ilmu pengetahuan, ilmuwan-ilmuwan besar menciptakan banyak hal yang kini bermanfaat bagi peradaban. Bertanya adalah bentuk dari rasa ingin tahu, rasa ingin tahu kemudian membawa seseorang kepada kreativitas, dan lewat kreativitas akan muncul penemuan-penemuan besar. Maka seharusnya, ketika anak bertanya, orangtua menaruh perhatian dan memberikan jawaban yang jelas dan lebih baik lagi jika jawaban itu mampu memancing rasa ingin tahu anak lebih dalam.

Saya sendiri kadang kagum saat anak bertanya. Bagi saya, ada proses penting yang terjadi sebelum sebuah pertanyaan mencelat keluar. Ada proses pengamatan, asosiasi, proses berpikir, yang kemudian keluar dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan ini kadang lugu, lucu, tapi seringnya susah dijawab, haha. Saya juga sangat memahami bahwa menjawab pertanyaan anak haruslah sungguh-sungguh, tidak boleh sambil lalu, apalagi mengibas-kibaskan tangan sambil bilang, “Ah, kamu masih kecil. Nggak perlu tahu begituan!”. Cuman kadang-kadang, kan, kalo pas kita lagi buru-buru mau pergi sambil ngeluarin motor melalui pintu pagar yang sempit terus ditanya macem-macem tanpa henti, itu tuh rasanya pengen guling-guling di jalan aja sambil ngemilin aspal, ya, kan?😀

Ayah saya memberi saran, sebaiknya jawablah pertanyaan anak dengan hal-hal yang konkrit sehingga mudah ia pahami – terlepas dari seabstrak apapun pertanyaannya. Jadi, misal untuk menjawab pertanyaan “membangun negara”, saya bisa analogikan dengan saat Attar “membangun” jembatan atau rumah-rumahan menggunakan lego. Pertanyaan tentang udara bisa dijawab dengan menunjukkan balon atau gelembung sabun pada Attar sambil bilang, gelembung/balon itu isinya udara.

Nah, untuk menjawab pertanyaan anak dengan benar, orangtua juga tidak boleh berhenti belajar. Sebab, yang kita hadapi ini bukan sekadar balita, melainkan seorang anak kecil pembelajar. Saya punya aplikasi KBBI di ponsel saya. Tujuannya, selain karena pekerjaan saya memang tak lepas dari tata bahasa, tapi juga just in case kalau Attar bertanya tentang definisi suatu kata, maka saya bisa menjawabnya kapan saja. Saya rajin berdiskusi dengan suami mengenai pertanyaan atau hal-hal yang sekiranya akan ditanyakan Attar, lalu mencari jawabannya bersama-sama. Saya banyak belajar dari Mama-Mama lain mengenai bagaimana cara mereka menjawab pertanyaan anak. Buku-buku pengetahuan yang dibelikan suami saya untuk Attar, saya tamatkan membacanya duluan. Jika Attar bertanya, setidaknya saya sudah paham harus menjawab apa.

Yang jelas, saya harus siap “bekal” cukup jika pada kesempatan lain ingin menonton berita bersama Attar. Kali aja, sehabis menonton berita Attar bertanya “harga keekonomian BBM itu apa?”, hehe. :v

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s