Attar Berkunjung ke Perpustakaan

Dalam bukunya Memetakan Potensi Unggul Anak, Ayah Edy menyebutkan pentingnya orangtua mengenalkan berbagai macam hal kepada anak sebagai stimulasi bagi pertumbuhannya. Tujuannya adalah untuk mengetahui minat dan bakat anak sejak dini. Yup, mengetahui minat dan bakat anak memang semacam slogan “lebih cepat lebih baik”, supaya orangtua (dan anak sendiri) jadi punya peta yang jelas, ke mana anak harus berjalan dan bagaimana orangtua mengarahkan untuk mencapai cita-cita yang sesuai potensi anak tercinta. Salah satu cara mengenalkan stimulasi itu adalah dengan mengajak anak ke sebanyak mungkin tempat berbeda, lalu kita amati apa tempat yang paling senang dikunjungi anak, yang ketika ke sana anak terlihat lebih antusias dari biasanya. Ini merupakan sinyal awal banget untuk mendeteksi minat anak kita. Nggak perlu sering, tempat tujuan pun nggak perlu jauh atau mahal, yang penting berbeda.

Sejak membaca buku itu berbulan-bulan lalu, si Ummi kemudian mengingat-ingat lalu menghitung-hitung, dulu waktu senggang Attar di akhir pekan paling banyak dihabiskan untuk nemenin Ummi beli sayur dan lauk mentah ke pasar tradisional sama ke mantenan ahahahah. Yah maklum yah, Ummi itu kalau ada undangan mantenan sebisa mungkin menghadiri, dengan tujuan supaya nggak usah masak untuk menyambung silaturahmi :p. Kalo nggak mantenan dan jalan-jalan ke pasar, biasanya keluarga Yusuf kruntelan di rumah aja bertiga menghabiskan waktu bersama sambil nonton film Cars atau Wall-E untuk kesekianribukalinya. Yep, kadang kalo pengen jalan-jalan ke mana gitu Ayah dan Ummi suka males karena lima hari dalam seminggu udah kerja di luar rumah, mbok kalo weekend itu kita istirahat dan seseruan aja di rumah ya kaaann… Nah, maka Ummi bertekad untuk mengajak Attar lebih banyak keluyuran, supaya lebih banyak pengalaman dan pemandangan.

Maka jadilah kami jadi rajin mengajak Attar entah ke kebun binatang, ke kolam renang umum, ke kolam renang yang ada restonya biar Ummi nggak usah masak Attar dapat pengalaman berbeda, berkunjung ke rumah kerabat di luar kota, mampir ke tempat wisata, ke toko buku, main di playground, dan sebagainya. Attar senang? Tentu lah.

Baru-baru ini Ummi membaca e-book The Well Trained Mind, penulisnya Susan Wise Bauer dan Jessie Wise. Buku ini bercerita tentang pengalaman seorang ibu dan anaknya (yang kini juga telah menjadi ibu) dalam menjalankan home education atau homeschooling bagi anak-anaknya. Salah satu agenda rutin dalam agenda homeschooling keluarga ini adalah ke perpustakaan. Setiap minggu, Susan (si ibu) mengajak Jessie (si anak) dan saudara-saudaranya yang masih pada kecil-kecil untuk meminjam buku di perpustakaan. Mereka punya kesepakatan mengenai buku dengan topik apa yang harus dipinjam di setiap minggu. Ada ilmu pengetahuan, sejarah, literatur, dan sebagainya. Alhasil, anak-anaknya Bu Susan sudah pada bisa membaca di usia 3,5 tahun tanpa pakai metode macem-macem, dan ketika besar mereka menjadi penyimak sastra yang kritis serta penulis yang cemerlang. Lebih dari itu, mereka memiliki pengetahuan yang luas.

Saya sangat terkesan dengan buku ini. Wait, saya tidak sedang terobsesi agar anak saya bisa membaca di usia balita ya, hanya saja saya sangat menginginkan Attar punya daya pemahaman yang kuat dalam mencerna bacaan, kritis dan berwawasan, serta mampu pula mengekspresikan diri dalam bentuk tulisan. Sebab, di era digital ini, saya tidak mau anak saya malas membaca tulisan panjang dan tak mampu mengkreasi sebuah tulisan yang baik. Saya pikir, Attar perlu terampil membaca dan menulis, mengasah kemampuan analisis dan sintesis.

Singkat kata, Sabtu (14/3) lalu dengan gegap gempita Ummi mengajak Attar ke Perpustakaan Kota Yogyakarta. Kapan itu waktu lewat sana Ummi sempat tanya ke Satpam Perpustakaan, apakah hari Sabtu/Minggu perpustakaan tetap buka. Jawabannya, ya, perpustakaan buka sampai jam delapan malam di hari Sabtu dan Minggu. Okesip, semakin bersemangatlah si Ummi untuk mengajak Juragan Kecil ke perpustakaan. Sesuai rencana, Attar dan Ummi tiba di perpustakaan dan langsung menuju lantai 2, tempat buku-buku dan ruang baca anak tersedia. Koleksi bukunya cukup banyak dan variatif. Buku-buku pengetahuan yang kalo di toko buku harga 1 setnya bisa sampai 7 digit, ada di perpustakaan ini. Lumayanlah yaaa, Attar bisa mencicipi buku-buku itu tanpa Ummi harus mengeluarkan uang terlalu banyak. Lumayan loh soalnya, uang segitu kan bisa buat Ummi beli tas baru dana pendidikan Attar kelak🙂

Sebelum pergi ke perpustakaan, Ummi dan Ayah sudah kasih wejangan ke Attar bahwa “kalau di perpustakaan harus tenang. Jalannya tenang, bicaranya tenang”. Alhamdulillah, pada kunjungan pertama kemarin Attar sangat terkendali. Ya kalo soal bertanya dan ngecipris memang sudah tak terbendung lah ya, setiap hal ditanyakan sama Attar, bahkan hal sesepele kunci loker tempat nitipin tas aja berkali-kali dipermasalahkan -_- Tapi setidaknya dia bisa berjalan tenang tanpa berlari atau melompat-lompat gedubrakan. Sesekali memanjat rak dan sofa baca (yang di atas sofa itu ada seorang remaja sedang membaca koran), bisa dimaklumi lah ya, anak saya kan baru 3,5 taun ya kaaaannn *justifikasitingkattinggi. Cuman karena area baca di lantai 2 memang tidak terlalu luas, dengan cepat Attar merasa bosan berada di ruang baca anak. Dengan cuek ia berjalan menuju area baca lain di lantai 2, mendatangi mbak-mas yang lagi membaca, sampai memutar-mutar bola dunia.

Attar menikmati buku di Perpustakaan Kota Yogyakarta

Attar menikmati buku di Perpustakaan Kota Yogyakarta

Secara umum, Perpustakaan Kota Yogyakarta sendiri cukup representatif. Lingkungannya (termasuk toilet) bersih dan rapi. Koleksi bukunya overall tidak terlalu banyak bagi saya, namun area baca cukupan lah. Fasilitas hotspot tersedia gratis. Setiap pengunjung bisa menikmati jaringan internet nirkabel secara cuma-cuma, tinggal daftar saja untuk mendapatkan ID dan password-nya. Di halaman perpustakaan terdapat sejumlah meja-kursi yang disusun berkelompok dengan payung besar melindunginya, enak banget kalo para pelajar dan mahasiswa mo belajar bareng, atau sekadar hangout sambil nyari hotspot gratisan. Tapi saya nggak nyoba sih bagaimana kecepatan jaringannya, nggak sempet wi-fian berhubung harus ngangon bocah hehe.

Di sisi lain, menurut saya petugas kurang informatif. Hari Sabtu kemarin kami ternyata belum bisa meminjam buku karena harus menjadi anggota dulu. Dokumen yang dibutuhkan untuk menjadi anggota adalah fotokopi KTP DIY dan pasfoto. Bagi anak-anak, bisa pakai KTP DIY milik ortu. Nah, hari itu saya nggak bawa pasfoto saya maupun Attar. Jadilah kami menunda meminjam buku (padahal pagi sebelum berangkat saya udah iming-imingin bakal bisa bawa buku perpustakaan pulang ke rumah untuk dipinjam). Attar pulang dengan sedikit kecewa waktu itu, soalnya batal membawa buku tentang pantai yang ditaksirnya. Ummi berjanji hari Selasa akan bikinkan kartu anggota dan pinjamkan buku tersebut.

Nah, hari Selasa (17/3) ini, Ummi sudah siapkan pasfoto Attar dan Ummi sendiri supaya bisa bikin kartu anggota perpustakaan untuk kami berdua. Ternyata oh ternyata, untuk bikin kartu, orang yang bersangkutan harus hadir karena akan ada sesi foto langsung. Yaelah, nggak bilang dari kemaren sih, katanya cuman fotokopi KTP sama pasfoto *manyun* Akhirnya hari ini cuma bisa bikin kartu anggota Ummi, Attar belom bisa. Nggak papa sih sebenernya, kami bisa balik lagi aja ke sini akhir pekan depan dan bikin kartu anggota. Toh buku yang diinginkan Attar sudah bisa dipinjam menggunakan kartu Ummi. Cuman yang rada repot ini nanti menjelaskan dan menenangkan itu minion satu bahwa kartu anggotanya belom bisa dibikin. Sementara tadi pagi saya udah bilang “nanti pasfoto Attar akan disulap jadi kartu perpustakaan”. Salah amat ya janji-janji begitu ke anak, konsekuensinya rada bikin repot hehehe.

Yah semoga nanti pas ngejemput Attar, dia nggak kecewa-kecewa amat. Toh bukunya udah dipinjem. Buku yang boleh dipinjam berkode SR, yang kodenya RF berarti hanya dibaca di tempat karena umumnya itu buku referensi semacam ensiklopedia begitu. Satu orang cuma boleh pinjem maksimal 2 buku selama seminggu. Alhasil, buku yang Ummi taksir malah gak bisa dipinjem karena jatahnya udah abis kepake buat pinjem buku-buku Attar semua. Padahal kan Ummi pengen pinjem buku 100 Hal Paling Gokil yang di dalamnya terdapat fakta-fakta penting sehari-hari yang sering ditanyakan Attar. Selama ini, kalo Attar tanya “mengapa kita punya udel” dan “kenapa bayangan warnanya hitam”, Ummi suka gelagepan. Beberapa jawaban dari pertanyaan Attar ada di buku itu. Well, Ummi kudu nunggu seminggu lagi dah baru bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanmu dengan benar, Nak :p

Buku yang akhirnya dipinjam untuk Attar

Buku yang akhirnya dipinjam untuk Attar

In short, pengalaman ke perpustakaan minggu lalu cukup berkesan buat Attar, “Attar senang sekali,” katanya. Ummi pun terkesan dengan kepatuhan dan antusiasme Attar. Selama ini Attar sudah suka liat buku bergambar lalu minta dibacakan. Semoga minat membacanya semakin terasah setelah berkunjung ke perpustakaan. Next destination adalah Taman Pintar Yogyakarta, Ummi selalu bimbang mau ke sana karena gentar sama macetnya :p Boleh juga pergi ke candi, atau tempat yang memfasilitasi praktik bercocoktanam, misalnya rumah makan menu jamur yang ada kebun jamurnya, sehingga Attar bisa tambah pengetahuan dan Ummi nggak usah masak.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s