Yes, Money Can Buy You Happiness

Saya pernah deh baca quote (yang setelah di-googling ternyata milik Kathy Lette, penulis dan penyair keturunan Australia-Inggris): “People who say money can’t buy happiness just don’t know where to shop“. Saya setuju nih, tapi kalau buat saya, quote itu dimodif dikit jadi: “People who say money can’t buy happiness just don’t know how and where to spend their money“.

Jadi ceritanya akhir minggu lalu saya barusan menghabiskan waktu selama tiga jam untuk perawatan head-to-toe di salon, dan hanya bayar seratus ribu rupiah saja untuk pijet dan lulur, hair mask, dan totok wajah (saya gak usah sebut nama salonnya ya, ntar disangka ngiklan dah😀 Yang di Jogja pasti udah familiar sama paket hemat ini deh di salon ‘nyang ntu tuh’ :p). Saya bukan banci salon sih yang sukanya rutin perawatan gitu (bagaimana mungkin, mandi dan keramas di rumah saja aku kilat, berhubung ada bocah yang harus diurus :D). Udah gitu saya biasanya suka sayang gitu sama waktu yang terpakai saat nyalon, satu-dua jam yang cukup berharga untuk dihabiskan bersama anak dan misua. Ck, shalihah banget ya saya.

Tapi kemarin itu saya putuskan pengen nyalon karena badan rasanya masih capek habis rangkaian mudik-jalanjalan-Lebaran-jalanjalan-balikmudik-jalanjalanlagi, dan positif kena flu. Udah gitu, pas liburan Lebaran saya ke pantai tuh, membakar diri dengan gembira-ria bersama keluarga. Jadinya ya muka udah kaya kain pel gitu, kusem. Hehe. Terlepas dari itu yaaa … you know ya, everyone loves to be pampered ya kaaan hahaha. Maka, mumpung akhir minggu lalu suami juga kena flu dan gak bisa pigi-pigi ke mana-mana, kutitipkanlah anakku padanya. Mereka ditinggal berdua saja di rumah dalam keadaan bobo ciyang sementara diriku melaju menuju salon (ibu dan istri macam apa inih).

Singkat kata, tiga jam berlalu, perawatan selesai, dan saya pulang dalam keadaan badan-rambut-muka bersih, segar, dan perasaan bahagia. Selama dimanja di salon, beberapa ide bahkan berseliweran di kepala saya. Mau nulis itu, ngerjain ini, nyoba resep ini, bikin kerajinan itu sama Attar, dan sebagainya. Emang ya, kalau kita rileks dan feeling positive gitu, ide-ide gampang mampir, otak encer mengalir, dan yang terpenting, kita tetap bisa positif dalam bertindak dan berpikir.

A couple of rupiahs, and I got my happiness.

Kejadian lain baru kemarin sore. Selama ini, saya mengamati Attar cukup penyayang binatang. Beberapa kali dia menanyakan tentang kemungkinan untuk memiliki hewan peliharaan. Kondisi kami terbatas sih, rumah kami mungil, gak mudah untuk naro-naro kandang hewan. Sudah begitu, saya sendiri kurang telaten kalo harus rutin mbersihin kandang-kandangan. Padahal, memelihara hewan bagus untuk jiwa kita. Konon katanya orang yang dekat dengan binatang itu memiliki hati yang lembut dan halus, empatinya lebih besar.

Saya sendiri pernah melihara ikan hias, sejak jaman kuliah hingga menikah. Dulu saya dan suami punya kolam ikan dengan air mengalir bergemericik di taman. Sebelum punya anak dan kembali bekerja, itu kolam terawat banget. Tiap minggu saya rutin bersihin dan ganti airnya, sampai batu-batu kolamnya juga saya sikatin. Begitu Attar lahir, lalu saya kembali bekerja selepas setahun di rumah aja, aih itu kolam nggak jelas rupa dan nasibnya bagaimana. Airnya sampe ijo dong, dan ikan-ikannya pada mati karena mabok. Kemudian kami putuskan untuk menutup kolam dan meletakkan beberapa pot taneman di atasnya. Tidak ada lagi kolam, sampai waktu yang belum ditentukan.

Beberapa kali, Attar saya kasih ikan hias untuk dirawat. Setiap kali itu pula sang ikan mati karena gak ada oksigen dan filter dalam akuariumnya. Lalu lama berselang, tidak ada lagi ikan-ikan untuk dipelihara di rumah. Jenis ikannya sih yang murah-murah aja, semacam ikan mas koki dan ikan apaentah yang ukurannya kecil dan buntutnya panjang warna merah. Tapi kan kasian, kami malah membuatnya mati sia-sia. Lebih karuan beli ikan nila aja atau lele ya kan, sampe rumah langsung digoreng dan dimakan sama lalapan dan sambel bawang.

Nah, kemarin sore itu sebuah ide cemerlang melintas di kepala. Saya pengen mbeliin Attar ikan Cupang. Berdasarkan pengalaman, ikan Cupang ndak perlu oksigen-oksigenan dan semacamnya itu dalam akuarium. Taro aja begitu, asal ada airnya dia akan tetap hidup (hya iyalah). Lalu saya beli ikan Cupang warna biru metalik campur magenta lengkap sama akuarium kecil berbentuk kotak, sebotol kecil makanan ikan, dan tanaman plastik buat hiasan, semua habis 21 ribu saja. Sampe rumah langsung dipajang. Sesuai dugaan, Attar senang sekali. Kalau anak senang, emak sama bapak ikut senang. Kami tertawa bersama-sama. Demikianlah potret keluarga kecil bahagia dalam iklan di layar kaca.

So yeah, money CAN buy happiness. It’s not about how much you spend, but how to do it. If you think your money can’t make you happy, maybe you’re just not spending it right.

Eh saya mah nggak menyarankan Anda berfoya-foya buang-buang duit atau sedang pamer kekayaan saya ya (kaya dari Hong Kooongg… nyalon aja nyari paket hemat :D). Ini tentang perspektif kita memandang apa yang kita miliki dan bagaimana kita memanfaatkannya. Buat apa punya duit tapi tidak bahagia? Sudah susah-susah itu duit kita cari pake kerja sampe lembur (inicurhat), lha tapi kok kita sepertinya tidak menikmati hasil kerja keras kita, sih? Dan mendapatkan kebahagiaan nggak harus pakai uang yang banyak loh, kadang hal-hal kecil yang dibeli dengan harga murah sudah bisa membuat kita senang alang kepalang.

Saya sebenernya pengen curhat juga soal bagaimana menggunakan uang dengan bahagia tapi tidak takut miskin karena duitnya habis. Tapi itu ntar masuk ke topik perencanaan keuangan keluarga. Ck, males lah. Berat. Kapan-kapan lagi aja lah ya. :p

Pada intinya sih saya ingin mengingatkan diri sendiri juga untuk selalu bersyukur atas apa yang saya miliki dan berbagai nikmat yang saya dapetin dengan menggunakan uang saya. Saya yakin, kalau kita menggunakan uang dengan benar, “ditaruh” di tempat yang benar, dibelanjain untuk barang-barang yang benar, kita bisa bahagia karenanya. Bagus lagi kalau kita bisa membahagiakan orang lain dengan uang yang kita punya.

Saya jadi berpikir, itu orang-orang yang suka nyinyir dan ribet banget ngurusin orang lain, kayaknya dia bukan hanya kurang piknik dan kurang selfie, tapi juga kurang belanja-belanji😀 Maka saya sarankan orang-orang seperti ini buat nyalon dulu atau shopping dulu biar happy and stop themselves from being so annoying, biar bangsa ini waras dikit lah😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s