A “Walk” to Remember: Traveling Keluar Negeri Bersama Balita (1)

Yap. Hai. Sudah lama sekali sejak postingan terakhir yaaa, hahaha. Sebenernya banyak banget yang pengen ditulis namun tidak ada kemauan haghaghag (blogger abal-abal).

Anyway, here I am. Mulai 13 Februari lalu saya pindah ke Melbourne untuk sekolah, tepatnya di Monash University (Melbourne rada minggir sih itu :p). Saya ambil kuliah S2 di bidang komunikasi dengan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, Kementerian Keuangan RI. Agak telat sih ambil S2 sekarang karena temen-temen seumuran saya udah pada ambil S3. But better late than never ya kan, abisan keinginan untuk belajar dan shaping my future menggunakan ilmu hasil S2 itu baru terbentuk 1.5 tahun terakhir mhehehe. Jangan ditanya kenapa di usia late 20s saya baru menemukan cita-cita yang membentuk nyata. Mamak galau dan geje memang.

Nah, jadi saya berangkat ke Melbourne ini cuman berduaan ama Attar, anak lelaki saya semata wayang. Suami akan menyusul insya Allah di bulan Juli, beliau akan kuliah S3 di universitas yang sama dengan saya. Saat ini beliau masih mempersiapkan S3-nya dan menyelesaikan beberapa kewajiban terkait dengan pekerjaan.

Pergi-pergi berduaan doang sama Attar bukan hal baru buat saya, dalam-luar kota/pulau udah pernah dilakoni. Setiap perjalanan memberikan pengalaman berbeda. Begitu pula dengan perjalanan kali ini. Overall, alhamdulillah, trip Jogja-Denpasar-Melbourne yang cukup lama dan melelahkan bisa terlewati dengan baik tanpa drama dan air mata.

Jurus pertama saya adalah sounding ke Attar mengenai perjalanan ini. Jauh-jauh hari Attar sudah diberi tahu bahwa dia akan pergi ke Melbourne hanya berdua dengan Ummi, Ayah akan menyusul nanti. Saya dan suami memberikan gambaran mengenai apa itu Melbourne, di mana, di sana akan ketemu orang-orang seperti apa, akan ngapain aja, sekaligus mengajarkannya survival English sedikit-sedikit. Semakin dekat dengan hari-H, Attar mulai dibriefing mengenai tripnya. Attar akan naik pesawat dua kali, pesawatnya besar, masuk airport yang bagus sekali, dan sebagai-sebagainya.

Tujuan sounding dan briefing ini adalah untuk memberi gambaran kepada Attar mengenai aktivitas yang akan dilakukan, termasuk apa yang boleh dan tidak boleh. Kami juga memberikan gambaran mengenai sikap seperti apa yang kami inginkan darinya selama perjalanan. Jurus ini bisa menumbuhkan excitement dengan melakukan promosi dikit gitu mengenai Melbourne, pesawat, dan bandara. Dengan begitu, Attar jadi bersemangat ingin berangkat.

Kami sudah melakukan trik ini sejak Attar kecil. Biasanya dengan dibriefing dulu, perilaku Attar lebih baik atau setidaknya lebih mudah dikendalikan saat pergi-pergi. Attar jarang rewel saat traveling kecuali kalau dia ngantuk dan capek. Hanya saja, karena dia sangat aktif, kadang polahnya bikin tanduk dan taring Ummi keluar >_< Beberapa kali kejadian, kami pergi-pergi tanpa membriefing Attar dulu, polahnya aduhai bikin pusing dan bikin Ummi-Ayahnya pengen nyungsep ke sumur dan camping aja di sana gak usah keluar-keluar karena malu hauhauhau. Tapi jika sudah diberi wejangan dulu sebelumnya, perilakunya sangat menyenangkan apalagi kalo ada perjanjian kecil mengenai reward yang diberikan kalo dia bisa bersikap baik, hehe.

Jurus kedua adalah memberinya tanggung jawab dan ruang untuk mengambil keputusan. Kami memberikan kesempatan kepadanya untuk memilih sendiri mainan yang ingin dibawa ke Melbourne, lengkap dengan ubo rampe macam buku bacaan, alat tulis, dan cemilan. Semua dimasukin ke koper Spiderman kesayangan. Meski di tahap akhir bakalan saya sortir lagi, tapi dia punya kekuasaan untuk menentukan. Ini membuatnya lebih bertanggung jawab untuk menjaga koper selama perjalanan dan memastikan dirinya berada di dekat saya terus, nggak ngilang-ngilang. Menghindari rewel, sebelum berangkat perutnya dipenuhin dulu dan istirahat yang cukup. Saya juga sudah bawa perbekalan, baju ganti, P3K, bla-bla-bla termasuk printilan untuk saya sendiri.

3631

Foto dulu sama Ayah sebelum berangkat.

Mungkin bagi sebagian orang perjalanan keluar negeri sama anak tuh biasa aja, tapi buat saya ini sesyuatu bangets. Ini memang bukan pertama kali saya keluar negeri, saya pernah pergi ke Sydney sebelumnya untuk program pertukaran pemuda. Tapi itu jaman duluuuuu banget tahun 2008-2009 waktu saya masih gadis remaja. Saya udah lupa apa aja yang dilewatin dari check-in ampe pintu keberangkatan. Dulu pun gak pake transit karena berangkatnya dari Jakarta. Selain itu, pada waktu itu semua diurusin ama Kemenpora, saya tinggal cus berangkat, rame-rame pula satu grup ber-18 orang. Barang-barang ada yang ngebantuin ngangkat, kalo bingung bisa saling tanya. Lha ini, saya sendiriaaan huhuuu.

Oleh karena itu, saya rajin tanya-tanya temen yang udah duluan sampe sana mengenai proses di bandara dan sampe tiba di tujuan. Sampe pertanyaan terndesit pun saya lontarkan haha. Malu bertanya sesat di jalan, lho. Pokoknya, bekal informasi harus ada di kepala, ndak boleh kosong melompong.

Terus, demi gak ribet dengan barang-barang, saya bawa baju seperlunya banget. Itu aja udah dua koper dan 1 tas yang masuk bagasi (semua di-wrap, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan – iya saya parno, biarin :p). Yang masuk kabin ada 1 school backpack, 1 messenger bag sama koper kecil Attar. Total ada 6 bawaan, semua penuh dan beraaaatt kecuali punya Attar. Saya udah ngerasa kebanyakan aja itu, eh ternyata sampe bandara ada mbak-mbak berangkat sendiri (buat kuliah juga) bawaannya lebih ramai dari bawaan kami berdua ahahaha (dan bener, kelak pas udah nyampe kos dan barang-barang di koper dipindahin ke lemari, ternyata Ummi bawa baju dikit banget, kebanyakan printilan daleman ama kerudung-kerudung gitu kayaknya huhu). Terus, biar isi bagasi gak usah dicek ini-itu, saya gak bawa bahan makanan yang macem-macem, cuman bawa 2 biji gudeg kaleng aja buat housemate (suami-istri dengan anak usia 2 tahun asal Indonesia juga). Tujuannya biar gak usah declare macem-macem. Ostrali rada ketat emang dengan bawaan bahan makanan, kalo gak dikemas dengan baik dan tertutup rapat gitu gak boleh masuk negara dia. Selebihnya mengenai peraturan soal bawaan ke Ostrali bisa dicek di sini.

All is set, dan kami siap berangkat. Ummi deg-degan, jelas. Sebelum berangkat Ummi berdoa kenceng plus sibuk SMS dan WA orang-orang juga untuk minta doa hahaha. Ih biarin, I need that gitu lho. Doa ini perlu biar perjalanan lancar, Attar gak rewel, dan kami tiba di tempat tujuan tanpa kurang suatu apapun, tanpa kesandung masalah apapun. (Pada faktanya, banyak orang lebih mengkhawatirkan guwe daripada anak guwe, karena guwe punya nature rada teledor, suka ilang fokus, dan buruk sekali dalam navigasi :D)

~bersambung~

One thought on “A “Walk” to Remember: Traveling Keluar Negeri Bersama Balita (1)

  1. Pingback: A “Walk” to Remember: Traveling Keluar Negeri Bersama Balita (2) | Newmom 911

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s