Manajemen Waktu bagi Student Mama

Mengurus dan mengasuh anak tidaklah pernah mudah, apalagi jika ditambah kuliah. Di luar negeri, sendiri tanpa suami. Tantangan yang selama ini dihadapi menjadi berlipat ganda.

Itulah yang terjadi pada saya dan Attar selama tiga bulan terakhir ini. Saya harus berangkat kuliah master duluan sementara suami akan menyusul sambil merampungkan persiapan kuliah doktor dan melunasi tanggung jawab pekerjaannya. Attar harus saya ajak serta, suami saya masih melakukan aktivitas penelitian dan sering bepergian keluar kota. Dengan kondisi itu, kami bingung harus menitipkan Attar di mana karena kami sama-sama perantau di Jogja. Tidak ada eyang-eyang yang bisa dimintain tolong mengasuh Attar barang 2-3 hari. Lagipula, saya rasanya tak kuat jika harus berpisah dari Attar, huhu. Maka jadilah saya dan Attar hijrah ke Australia, tepatnya negara bagian Victoria dan memulai kuliah saya di Master of Communications and Media Studies, Monash University.

Tantangan terbesar yang saya hadapi sebagai student mama adalah soal manajemen waktu. Sebelum berangkat, salah satu teman saya bertanya “how will you manage looking after your son with those assignments and readings? It’s gonna be tough”. Waktu itu, sambil cengengesan saya jawab “I know. Fingers crossed.Sambil pasang emotikon nyengir. Tapi setelah menjalaninya, saya udah nggak bisa nyengir-nyengir lagi. Saya yang udah lamaaa banget terpisah dari dunia akademik ini (saya lulus kuliah S1 tahun 2007 *eaaaa ketauan angkatan berapa mhihihi) ternyata harus berdarah-darah menjalaninya, lengkap dengan drama dan air mata, haha *ketawa getir.

Sampai sekarang saya belom ketemu formula tepat dalam manajemen hidup selama kuliah sambil mengurus anak. Tapi setidaknya ada beberapa yang saya jalani dan ternyata cukup memberikan efek positif.

Pertama, manfaatkan waktu ketika anak “tidak hadir”. “Tidak hadir” di sini misalnya saat dia tidur atau lagi sekolah, pokoknya when he’s not around. Yap, waktu sendirian tanpa anak saat ini berharga banget buat saya. Anak saya tipe yang sangat aktif bermain, bergerak, dan bertanya. Walaupun sudah bisa bermain sendiri (nggak harus ditungguin), Attar nggak bisa dibiarin begitu aja tanpa pengawasan karena bagaimanapun dia masih balita. Kadang-kadang ada aja deh ulahnya yang bikin geleng-geleng hanya karena saya lalai mengawasinya. Udah gitu dia suka sekali bertanya. It is good of course, tapi kalo pas saya lagi baca atau lagi nulis paper dan lagi konsen banget dengan mood dan idenya ngalir deras lalu diberondong dengan pertanyaan macam-macam, itu rasanya pengen jambak-jambak rambut sambil gigit-gigit laptop. Maka, otomatis di siang hari saat Attar tidak sekolah (dia cuma sekolah 3 hari dalam seminggu) saya susah sekali punya waktu untuk keperluan studi. Hanya ketika ia tidur siang dan tidur malam saya bisa konsentrasi. Praktis hampir tiap hari saya begadang. Saya dan Attar tertib berangkat tidur pukul 9 malam, saya pasang alarm jam 1 dinihari lalu belajar. Kalau lagi musim tugas, saya tidak tidur lagi sampai malam tiba kembali. He-eh iya, mata merah dan kantung mata ini udah kemana-mana tapi ya sudahlah yaaa ….

Kedua, ajak anak bermain di playground lalu gunakan waktu untuk membaca. Sependek yang saya ketahui, Australia memiliki banyak ruang terbuka hijau berbentuk lapangan yang bisa dimanfaatkan warga untuk berolahraga atau aktivitas komunal. Setiap lapangan dilengkapi dengan playground yang memadai dan lebih dari cukup untuk anak bermain sepuasnya. Untungnyaaa di depan rumah kos saya ada lapangan sejenis ini. Ini pun bisa jadi senjata saya kalau Attar sudah mulai bosan dan cranky karena dicuekin simbok. Yap, kalo urgent banget saya harus ngerjain tugas di siang hari, Attar saya minta bermain sendiri di kamar supaya saya mudah mengawasi. Pasti bosen dong seharian di kamar doang, mana simboknya kalau ditanyain jawabnya ngasal, lagih. Nah sebagai pelampiasan hasrat bermain saya ajak aja di ke lapangan depan rumah. Dia bisa lelarian dan main sampe ngos-ngosan, saya masih bisa curi-curi waktu bawa buku atau laptop untuk belajar, hehe.

Ketiga, sempatkan buka-buka artikel jurnal saat di perjalanan. Dari rumah ke kampus saya memakan waktu sekitar 20-30 menit naik bus kampus. Itu lumayan banget buat baca sebenernya. Cuman di saya ini kok kurang terlaksana, soalnya seringnya malah buka sosmed sama chat group ketimbang baca artikel jurnal :p. Kalopun gak pegang hape, adanya saya suka ngantuk dan ketiduran kilat karena kurang tidur semalam *kucek-kucek mata panda.

Keempat, gunakan fasilitas belajar di kampus semaksimal mungkin. Alhamdulillah, kampus saya memiliki perpustakaan dengan database sumber ilmiah yang buanyaaak dan fasilitas pendukungnya pun amat representatif. Jaringan wifinya kenceng dengan komputer yang bebas dipake di perpustakaan (komputernya kenceng punya, jauh ama laptop kesayangan saya haha). Pendukung lain adalah research and learning advisor sama peer-support program. Dua yang terakhir ini intinya adalah fasilitas konsultasi gratis. Research and learning adviser bisa jadi tempat mengadu pas dikasih tugas sama dosen, kita punya ide tapi kita gak tau kudu mulai dari mana dan bagaimana cara membangun pemikiran dalam bentuk tulisan. Dua kali udah saya konsultasi ke sini dan paper saya dapat nilai HD (high distinction) alias A. Sementara itu, peer-support program lebih ke urusan teknis bahasa Inggrisnya. Fasilitator untuk program ini adalah sesama student juga. Ada native, ada juga orang Indonesia yang jago pisan bahasa Inggris dan skill menulisnya.

Kelima, hindari SKS alias Sistem Kebut Semalam. Ini. Nggak. Banget. Titik. Saya udah pernah nyoba dan sama sekali nggak berhasil. Yang pertama, saya nyoba reading sehari sebelum kuliah dan hasilnya I was totally lost. Diskusi di kelas saya ndomblong dan nggak ngerti orang-orang ngomong apaan pula tak mampu urun pendapat dalam bahasan. Kedua, waktu ngerjain tugas. Saya udah baca bahan tugas selama sepanjang minggu. Saya pikir kalo udah paham bacaan dan semua nyantol di kepala, tinggal nulis aja gampang lah ya. Kemudian saya nulis paper berbahasa Inggris sebanyak 3000 kata hanya 1,5 hari sebelum deadline. Dalam 1,5 hari itu saya hanya tidur 3 jam dan hasilnya: Tulisan saya sampah, telat submit 2 jam, terus masih kurang pula 400 kata. Nilainya belom keluar. Itu dapet P (pass) aja udah bagus itu. Maka, strategi terbaik adalah nyicil. Nyicil baca, nyicil nulis. Ngana bukan English native, Wi. Ngana pikir bisa ngarang indah 3000 kata dalam sekejap saja? Myahahahaha, you wish!

Keenam, study hardplay hard. Yap, hidup itu soal keseimbangan ya kan. Kalo udah cape belajar dan mulai banyak marah-marah sama Attar, tandanya saya harus piknik. Seperti Syahrini bilang, Kartini modern masa kini harus banyak piknik biar nggak jadi rese dan nyebelin, haha. Lagian, jalan-jalan ini juga penting buat Attar. Kalau dipikir-pikir dia juga banyak berkorban selama saya kuliah. Kalo lagi banyak tugas dia saya cuekin dan kurang gaul keluar. Kasian juga, sebenernya *malah curhat, mbok!*

Jadi begitulah, tips di atas tidak selalu berhasil. Distraksi yang paling banyak saya alami adalah sosmed hahahahaaaa klasik banget yaaa. Makanya saya masih berusaha banget untuk istiqamah dan disiplin mengatur waktu untuk buah hati, studi, dan diri sendiri.

Kamu student mama juga? Silakan berbagi tips lain yaaa, biar saya juga bisa praktikin, hehe!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s