Bye-bye Dover St Preschool!

Kamis lalu (15/12) adalah hari terakhir Attar bersekolah di Dover St Preschool Centre (atau kinder, sebutan singkat untuk institusi PAUD di sini). Sebenarnya, hari terakhir sekolah di tahun ini adalah besok Senin, 19 Desember. Hanya saja, Attar nggak akan bisa datang di hari itu karena Sabtu ini sudah mau nge-trip sama Ummi ke Sydney dan Canberra. Setelah itu, sekolah di Australia akan libur serentak hingga akhir Januari. Bulan Februari sekolah akan dimulai lagi, tapi Attar akan memulai tahun ajaran baru itu sebagai siswa Clayton North Primary School, tidak lagi di Dover. Jadilah, perpisahan dengan Attar dilakukan hari ini.

imag2493

Attar dan edukator, kiri ke kanan: Nicole, Vanessa, Rebecca

Di hari terakhir Attar tampak sedikit diperlakukan spesial sama edukator-edukatornya di kinder. Pagi-pagi waktu baru sampe, Nicole sang Kepala Sekolah sudah menyambutnya dengan tangan terentang lebar disusul sebuah pelukan erat. Saya menyiku salah seorang edukator, Vanessa, dan bilang “this is his last day“, dan dia langsung membalas “oh, shut up! I don’t wanna think about that. Not ready yet!” Katanya sambil mecucu. Vanessa lalu masuk ke dalam dan keluar lagi membawa satu kontainer besar berisi mainan-mainan favorit Attar di kinder. Ketika saya pamit berangkat ke kampus sama Attar dan bilang, “this is your last day, Attar. Be nice to everyone!” Rebecca, edukator yang lain, mengantar saya ke pintu keluar dan bilang “oh, he’s always nice, never been horrible. We’ll miss him.” Lalu melempar pandangan penuh sayang ke arah Attar dan tersenyum tulus.

Sebelum pulang sekolah, kebetulan saya menjemputnya lebih awal, saya menyaksikan Attar berdiri di depan teman-temannya saat circle time. Nicole bilang kalau hari ini Attar akan berpisah dengan teman-teman. Mereka berbincang tentang pengalaman menarik Attar selama di kinder, hal-hal yang paling teman-teman sukai dari Attar, lalu diakhiri dengan teman sekelas say goodbye dan salaman satu per satu. Nicole menyerahkan sebuah buku besar berisi portofolio Attar selama di Dover, sebuah kalender bersampul lukisan bikinan Attar yang dilaminating, serta hadiah (yang ternyata isinya buku cerita bergambar yang ada DVD-nya). Vanessa dan Bec hampir menangis saat memeluk Attar.

imag2504_1

Kenang-kenangan dari kinder.

Attar sendiri tampak murung sepulang sekolah, dia bilang dia sedih karena tidak akan
ketemu Nicole, Vanessa, Bec, dan Anne-Marie (edukator satu lagi). Harus saya akui, ikatan yang terbangun antara pihak sekolah dengan siswa dan orangtuanya memang cukup kuat di kinder Dover ini, setidaknya buat saya. Edukator-edukator di Dover menjadi penolong buat saya dan Attar terutama di masa awal adaptasi kami di Australia. Mereka dengan
telaten membimbing Attar berkenalan dengan suasana, lingkungan, dan bahasa baru. Mereka tidak bisa berbahasa Indonesia, namun mereka berkomunikasi verbal maupun nonverbal dengan sangat baik dengan Attar. Hanya perlu waktu kurang dari satu bulan bagi Attar untuk bisa merasa nyaman di kinder ini (yah, terlepas dari karakter Attar yang cukup outgoing juga sih), dan dia menyukai sekolahnya. Karena itulah, saya memahami perasaan sedih Attar.

collage-2016-12-17-07_00_05

Buku besar portfolio Attar.

Saya merasa sedih juga, bagaimanapun saya berutang banyak kepada mereka.
Mereka membesarkan hati saya ketika di awal masuk kinder Attar masih menangis beberapa kali saat saya tinggal ke kampus. Setiap hari mereka “mengembalikan” Attar kepada saya dengan informasi-informasi positif (meski saya tahu Attar rewel ketika saya tinggal) dan meyakinkan bahwa Attar akan baik-baik saja. Mereka memaklumi saya yang rempong kuliah sehingga jarang bisa terlibat acara di kinder, apalagi rapat komite atau wali murid. Dan ah, tentu saja mereka sangat sabar menghadapi saya karena sering banget telat menjemput Attar karena masih ada urusan di kampus.

Lepas dari itu, saya bersyukur Attar bersekolah di Dover St Preschool ini. Sekolahnya terbilang kecil saja, tapi sangat homy. Mereka memperlakukan siswa dan orangtuanya tak sekadar sebagai guru dan murid tapi sebagai bagian dari komunitas, keluarga. Mainan-mainannya unyu-unyu dan oke punya sampai-sampai saya pun betah main di sini, hehe. Dulu ketika mendaftar, Dover St kinder ini adalah pilihan kedua. Saya menyasar sekolah lain yang dari foto-foto di website tampak lebih bagus dan besar. Review dari teman-teman pun bagus. Hanya kebetulan saat itu sekolahnya sudah penuh, tidak punya spot untuk anak baru. Namun kalau dipikir-pikir, saya merasa belum tentu akan bisa melewati adaptasi awal sebaik ini jika dulu Attar bersekolah di tempat lain. Sebab Dover cukup fleksibel dalam peraturan (termasuk aturan jenis makanan yang boleh dibawa ke sekolah serta ketentuan jika kita terlambat menjemput anak). Yah, memang yang kita miliki dan dapatkan saat ini adalah yang terbaik untuk kita.

Untuk sedikit mengurangi rasa sedih, saya kemudian mengajak Attar membuat kartu ucapan untuk para edukator di Dover. Ummi yang menulis dan Attar yang menggambar. Mungkin kartu ini tak akan seberapa nilainya, tapi semoga cukup untuk mewakili rasa terima kasih kami atas apa yang telah mereka lakukan untuk kami.

collage-2016-12-17-07_04_50

Halaman lain portfolio Attar.

Sementara ituuu … tahun depan Attar sudah masuk primary school di kelas preparation/foundation (kalau di Indonesia setingkat sama TK 0 Besar). Nggak kerasa ya, ini anak dulu waktu lahir rasanya kecil banget kayak botol kecap, kalau nangis kencengnya macam petasan Imlek. Sekarang udah bisa ngeles, udah bisa ngomelin dan ceramahin Ummi-nya (nurun dari siapa yah kira-kira? :D), tingginya udah hampir setinggi dada Ummi dan boros baju. Ummi harus beli-beli baju baru karena yang lama udah pada kekecilan. Celana yang dibeli sekitar tiga bulan lalu masih dilipet dua kali sekarang udah hampir ngatung. Kemaren masih belajar tengkurap sekarang udah mau SD. Apa-apaan ini? Kenapa yah, anak-anak tuh cepet banget gedenya? Ummi merem bentar udah jadi ABG pula dia.

Hegh, sutralah. Kids are growing up, apa mau dikata. Semoga dalam setiap perjalanannya, Ummi dan Ayah bisa memberikan pengasuhan dan pendidikan terbaik untuk Attar, mengajarkannya kebaikan di dunia dan di akhirat. Walaupun pada faktanya, dengan polah yang bikin Ummi marah-marah maupun pertanyaan yang bikin batin Ayah tertekan :p, sebenarnya Attar-lah yang menjadi guru besar kehidupan buat orangtuanya.

Grow big, Attar! But just … not too fast, please?

 

Advertisements

2 thoughts on “Bye-bye Dover St Preschool!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s