Roti tawar homemade ala Ummi

Pertama kali Ummi bikin roti homemade adalah tahun 2015, menggunakan resep roti dengan metode water roux. Adonan diuleni sebisanya (karena Ibunda Ratu ini lemah lembut tak banyak tenaga) dan nekat manggang adonan pakai wajan H*ppy C*ll. Percobaan pertama hasilnya cukup baik. Meski tidak montok dan menul-menul sebagaimana roti yang dipanggang di oven, setidaknya bentuknya beneran roti dan dan bisa dimakan. Waktu itu Ummi bikin roti sobek manis isi cokelat dan keju, rasanya lumayan. Tapi, percobaan kedua dan ketiga hasilnya gagal total. Adonan nggak berhasil ngembang setelah difermentasi tapi (lagi-lagi) Ummi nekat aja manggang walau begitu adanya. Hasilnya adalah “roti” yang alot dan lengket, jauh dari empuk. Semacam roti harga seribuan yang sudah ngendon kelamaan di warung. Sejak itupun Ummi mutung alias ngambek. Emoh lagi bikin roti. Abisnya, udah capek nguleni, nunggu proses fermentasi (proofing)-nya lama, eeeh hasilnya tidak layak makan. Buang-buang bahan aja kan, dan hati ini serasa teriris sembilu jadinya.

Akan tetapi, setelah Ummi melakukan introspeksi diri, mungkin dulu itu gagal karena Ummi salah menakar bahan. Maklum dulu nggak punya timbangan, jadi main kira-kira aja seenaknya. Mungkin juga karena raginya sudah kurang bagus, atau wajan H*ppy C*ll memanglah tidak cocok untuk baking.

Nah, karena di rumah kontrakan di Victoria inih tersedia oven yang selalu memanggil-manggil untuk digunakan, Ummipun sudah beli timbangan bahan, dan tampaknya selama di sini kemampuan masak Ummi ada peningkatan, tergeraklah hati ini untuk bikin roti rumahan. Maka hari ini Ummi bikin roti tawar. Ummi cari resep yang pake tepung terigu biasa aja nggak usah pake tepung protein-proteinan (males jalan buat beli), dan nggak perlu diuleni. Yes, Ummi pake resep no-knead bread, soalnya kalo tangan halus Ummi jadi berotot gara-gara nguleni adonan, kan nanti Ayah Attar bisa kalah perkasa. Kali ini Ummi sudah menimbang bahan dengan presisi dan sudah ngetes raginya masih aktif untuk dipakai bikin roti. Tapi, Ummi nggak punya loyang loaf yang standar digunakan untuk bikin roti tawar, jadi Ummi pakai apa yang ada aja. Supaya tidak kecewa (dan ngambek) kalau-kalau hasilnya tidak sesuai yang dibayangkan, kali ini Ummi harus benar-benar menurunkan ekspektasi. Sebab sungguhlah Hayati tak kuat jika terus-menerus dikasih harapan palsu sama adonan roti.

img-20170118-wa0015_1

Roti tawar Ummi, bikinnya nggak pake capek.

Pas udah mateng, Alhamdulillah lumayan berhasil. Teksturnya roti beneran, haha. Rotinya crusty di luar dan moist di dalam, manisnya pas, berasa butter­-nya, dan aromanya wangi bingits. Tapi entah bagian mana yang salah (padahal Ummi udah patuh banget sama resepnya) dan mungkin ditambah nggak pake loyang loaf, rotinya jadi kurang tinggi. Loyang punya Ummi tuh buat cake sebenarnya, bersisi pendek dan agak lebar. Makanya rotinya pendek dan nggak bahenol gitu deh, kayak yang bikin. Tapi rasanya enak bingits dan setidaknya lumayanlah bisa mengurangi pos pembelian roti dari supermarket, hehe. Besok kalau ada mood lagi, Ummi mau bikin roti manis pake resepnya Sangjin Ko, koki kenamaan asal Korea. No-knead juga dong jelas, soalnya Ibunda Ratu masih harus memikirkan urusan rakyat jadi nggak boleh kecapekan gara-gara mijetin adonan roti. Nah, kalau besok roti manisnya berhasil, fix-lah Ummi buka bakery aja *sokyes

Ya udah Ummi mau ngeteh sambil makan roti hangat beroles mentega dulu yaaa …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s