Attar Belajar Bahasa Inggris

Sekitar sebulan sebelum berangkat ke Australia awal tahun lalu, Ummi dan Ayah memutuskan untuk mulai mengajarkan bahasa Inggris kepada Attar. Tujuannya ya tentu saja biar Attar nggak kaget, ketika sampai di tanah kanguru kok semua orang berbahasa asing. Intinya adalah supaya proses adaptasi bisa berjalan lebih lancar untuk Attar. Selain itu, Attar juga dikasih tahu bahwa nanti di Melbourne orang-orang akan berbahasa Inggris, jadi supaya Attar bisa bicara pada orang-orang di Melbourne, Attar perlu belajar bahasa Inggris juga.

Ummi memulai “pelajaran” bahasa Inggris menggunakan flash card alias kartu bergambar bertuliskan kosakata bahasa Inggris. Terus, kebetulan kelompok bermainnya Attar dulu juga sudah memperkenalkan bahasa Inggris lewat lagu, jadi Ummi meminta Attar menyanyikan lagu itu lebih sering. Kemudian, secara sengaja kami mengajari Attar kalimat-kalimat sederhana yang sering dipakai sehari-hari, seperti “I want to pee/poo”, “I want to eat/drink”, “I want to play”, dan sebagainya. Selebihnya, Ummi bicara bilingual sesekali, terutama untuk (lagi-lagi) ungkapan sederhana yang dipakai sehari-hari.

Perlu dicatat bahwa kami nggak menganut metode manapun saat mengajari Attar bahasa Inggris ini. Ummi juga nggak riset macam-macam mengenai cara tepat mengajari bahasa Inggris ke anak. Yah, sebelum berangkat ke Australia ini memang Ummi nggak pernah ngotot-ngotot amat untuk ngajarin anak bahasa Inggris. Ummi pun bukan pengamat atau praktisi pendidikan anak, jadi yang Ummi lakukan di atas itu bisa dibilang tidak ada landasan sahihnya. Ya sebisa dan sesempat Ummi aja, hehe. Lha wong disambi persiapan keberangkatan dan lain-lain, je. Emak banyak pikiran, cyin. Nah, hanya saja yang Ummi tahu dari pengalaman Ummi adalah bahasa baru akan lebih mudah dikuasai jika kita terpapar cukup sering dengannya. Makanya Ummi pake praktik bilingual.

Akan tetapi, acara belajar bahasa Inggris di rumah ini kurang berjalan efektif karena Attar males-malesan. Mungkin dia belum melihat urgensi belajar bahasa Inggris saat masih di Indonesia, ya kan orang-orang di sekitarnya masih bicara bahasa Indonesia. Jadi dia merasa nggak penting-penting amat tuh belajar bahasa Inggris. Nah, karena nggak pengen memaksa, Ummi pun membiarkan saja demikian adanya. Ummi hanya percaya Attar adalah pembelajar yang cepat menyerap ilmu baru, dan kalau dilihat-lihat Attar itu punya kecerdasan bahasa. Dia bisa ngomongnya emang agak telat, sekitar usia 20 bulan baru bisa menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan sesuatu. Tapi lepas dari fase itu, kemajuannya cukup pesat. Di usia dua tahun Attar sudah bisa bicara tanpa cadel kecuali lafal huruf “r”, dan lebih dari itu dia sudah bisa memahami (dan terlibat dalam) proses orang berkomunikasi dengan sangat baik. Jadi Ummi pede-pede aja lah gitu.

Lalu tibalah kami di Australia, dan Attar harus masuk preschool alias kinder dong, ya kan. Baru deh Ummi deg-degan, haha. Lha gimana, gurunya bule semua. Teman-temannya ada yang dari Australia, India, Bangladesh, Korea, dan semua ngomong pakai bahasa Inggris. Gimana kalau Attar nggak bisa berkomunikasi dengan mereka? Gimana kalau Attar mau sesuatu tapi nggak bisa bilangnya? Gimana kalau Attar mau pipis tapi nggak bisa bilangnya terus pipis di celana? Duh, mak! Sesuatu juga ya, ternyata!

Supaya mengurangi kegalauan, Ummi curhat-lah kepada Kepala Sekolah di kinder. Namanya Nicole. Ummi cerita aja kalau Attar belum bisa berbahasa Inggris. Ummi khawatir Attar menarik diri dari komunikasi dengan sekitar karena kendala itu (padahal aslinya dia ceriwis abisss). Ummi takut dia nggak bisa bergaul, bermain, dan belajar dengan baik. Ummi juga cerita bagaimana upaya Ayah dan Ummi sebelumnya untuk mengajar bahasa Inggris sedikit-sedikit, tapi tampaknya belum efektif.

Bagaimana reaksi Nicole? Pertama dia tanya soal kemandirian Attar. Apakah sudah bisa membersihkan diri setelah pipis/pupup? Apakah sudah bisa makan sendiri? Dan sebagainya. Ummi jawab, ya (seminggu sebelum masuk kinder Ummi sudah ajarkan Attar caranya membersihkan diri pakai tisu setelah pipis. Tapi untuk pup, memang Attar masih perlu bantuan). Setelah mengetahui itu, Nicole bilang, “Sante aje, Buuu… anak-anak mah cepet belajarnya. Paling lama dua bulan dia udah bisa ngomong Enggres,” ceunah. Menurut pengalaman Nicole, selama beberapa minggu pertama anak akan pendiam sekali di sekolah. Mereka tidak bicara, tapi sebenarnya mereka mengamati dan mendengarkan teman-teman dan gurunya berkomunikasi pakai bahasa Inggis. Mereka merekam aktivitas orang mengungkapkan sesuatu dengan bahasa Inggris: merekam kata-kata yang dipakai dan merekam cara penggunaan serta isyarat emosi yang menyertainya. Setelah itu, kata Nicole, anak akan terdorong untuk praktik sendiri, mau nggak mau. Tentu, ini akan bergantung pada karakter dasar anak ya. Anak yang introver mungkin akan butuh waktu lebih lama. Ummi pun membatin, “Oh, berarti kalau yang caur kayak Attar mungkin bisa cepet, ya, hahaha!”

Di hari pertama Attar sekolah di kinder, Ummi menungguinya di dalam kelas seharian. Ummi mengamati proses bermain dan belajar serta interaksi guru dan murid. Ummi lihat, guru-guru menggunakan bahasa tubuh dengan porsi besar waktu bicara sama Attar. Tentu mereka tetap berbahasa Inggris, tapi didorong dengan isyarat nonverbal. Sementara, Attar tidak bicara sepatah katapun, cuman manggut, geleng-geleng, atau memandang kosong karena nggak ngerti, hehe. Tapi setidaknya dia mau bermain dan mengikuti kegiatan di dalam kelas – walaupun nempel banget sama Ummi kayak stiker tato.

Lepas tiga minggu, suatu hari Attar pulang dari kinder dan bercerita dengan bangganya, “Ummi, Attar hari ini bilang ‘I want to pee’ waktu mau pipis!” Ummi kaget campur seneng, dong! Kemajuan pesat, nih! Ummi memujinya dan menanyakan perasaannya, dia bilang senang karena Rebecca (salah satu gurunya) bisa mengerti apa yang dia katakan dan mengantarnya ke kamar mandi. Sejak itu, Attar pun mulai sering bertanya pada Ummi bagaimana cara ngomong sesuatu dalam bahasa Inggris. Lalu wes-ewes-ewes, sekejap saja Attar sudah bisa mengerti komunikasi dengan bahasa Inggris meski masih perlu bantuan. Jadi, mamah-mamah yang sekarang lagi ada rencana tinggal di negara lain, sante aja Mah nggak usah cemas soal bahasa. Attar ini buktinya. Nah, akan tetapi, Nicole mengingatkan Ummi untuk tetap bicara dengan bahasa Indonesia selama di rumah. “Supaya bahasa ibunya tidak hilang,” katanya.

Proses belajar Attar Ummi pandang cukup cepat, selain karena karakter dasar anaknya serta bantuan guru di sekolah, juga karena di sekolah ada tiga orang anak dari Indonesia juga. Dua di antaranya dekat sekali dengan Attar dan mereka membantu Attar merasa nyaman di dalam kelas. Jadi, alih-alih menghabiskan waktu seharian dengan cemas atau menangis, Attar bisa menyisakan energinya untuk menyerap ilmu baru. Kedua, karena acara televisi. Program ABC Kids di televisi Australia terbilang edukatif, menarik, dan mudah dipahami walopun pake bahasa Inggris semua (yaiyalah). Selama dua jam sehari jatah Attar menonton televisi, ternyata banyak sekali pelajaran bahasa Inggris yang didapatnya. Suatu hari nih, ya, tiba-tiba aja Attar bilang, “that is amazingly impossible”. Ummi lupa topik ngobrolnya apaan waktu itu, yang jelas dia menggunakan kata-kata itu pada konteks yang benar. Terpanalah Umminya. Itu kan, kata-kata yang susah ya, lha kok ini anak ngomongnya nggak pake usaha, bener pula penempatannya. Ummi tanya, “Attar tahu kata-kata itu dari mana?” jawabnya, “dari tivi”. Hehe.

Sekarang, Attar sudah masuk SD. Kalau dulu dia masuk kinder hanya 15 jam seminggu (tiga hari seminggu, masing-masing pukul 9-14), sekarang Attar masuk sekolah hari Senin-Jumat pukul 9-15.30. Teman-temannya makin buanyak karena ada kakak kelas segala. Paparannya dengan bahasa Inggris menjadi tinggi sekali. Walhasil, ini anak sekarang ngomong Inggrisnya cas-cis-cus banget.

Seneng dong, Mi? Ya seneng-seneng-cemas, sih. Karena, kini Attar agak kesulitan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Beberapa kali dia lupa kata-kata dalam bahasa Indonesia. Kemudian, dia perlu mikir beberapa detik jika ingin menjelaskan sesuatu dengan bahasa Indonesia. Dia masih bisa mengerti orang bicara bahasa Indonesia, tapi untuk praktik berbahasanya Attar mulai kesulitan.

Hati Ummi mencelos dong. Ummi itu mencintai bahasa Indonesia dengan segenap hati. Sejak SMP Ummi paling suka pelajaran ini. Sudah sepuluh tahun Ummi menggeluti pekerjaan sebagai penulis atau editor lepas bahasa Indonesia, dan salah satu misi dalam hidup Ummi adalah memiliki anak-anak yang bisa bertutur dan menulis dengan baik dalam bahasa Indonesia. Jadi Ummi merasa tiada rela apabila anak Ummi lupa apa bahasa Indonesianya watermelon atau butterfly T_T

Terus Ummi jadi galak deh soal penggunaan bahasa. Ummi dengan tegas bilang pada Attar, kalau di rumah – atau saat bersama orang Indonesia – harus pakai bahasa Indonesia. Kan, sesuai saran Nicole, kalau di rumah tetap pakai bahasa ibu. Terus telinga Ummi rasanya gatel banget kalau Attar ngomongnya campur-campur bahasa Inggris sama Indonesia.

Suatu hari Ummi dikasih masukan sama edukator di daycare-nya Attar, namanya Mbak Ella. Beliau adalah mahasiswa S3 bidang Pendidikan di Deakin University. Beliau bilang, tidak perlu terlalu cemas atau terlalu ketat. Berdasar teori, di usia lima tahun, kemampuan berbahasa ibu (bahasa Indonesia) sudah tersimpan di otak anak. “Yang terjadi pada Attar saat ini adalah dia sedang berganti mode saja karena terpaan bahasa asing sedang tinggi. Besok balik ke Indonesia, asal paparan dengan bahasa Indonesia juga tinggi, nggak sampai sebulan juga udah balik lagi. Insya Allah nggak hilang,” katanya menenangkan Ummi.

Memang ada beberapa manfaat menguasai bahasa asing.  Salah satunya, anak akan memiliki kelenturan kognitif. Anak akan cenderung lebih mudah beradaptasi dan lebih baik dalam memecahkan masalah. Nah, menurut beliau, justru kalau Ummi saklek banget Attar-nya bisa kebingungan. Dia malah jadi takut dan ragu untuk bicara. Bener juga sih, waktu Attar ngomong Inggris di rumah dan Ummi koreksi berkali-kali supaya pakai bahasa Indonesia, Attarnya mengeluh. Waktu yang dia butuhkan untuk berpikir sebelum bicara jadi tambah lama dan dia tampak kehilangan kepercayaan diri. “Makanya,” kata Mbak Ella, “nggak usah terlalu cemas. Bahasa Indonesia dia masih ada kok di otaknya. Yang dia butuhkan saat ini justru praktik bahasa Inggris supaya dia bisa menguasai dengan cepat juga.” Agar Attar dapat berbahasa Inggris dengan baik, Mbak Ella menyarankan Ummi untuk mengoreksi grammar-nya jika terdapat kesalahan, dengan cara penyampaian yang tentu saja santai supaya dia nggak berasa digurui.

Saat ini Ummi masih galau apa langkah yang harus Ummi ambil. Ummi paham dan setuju sama penjelasan Mbak Ella, namun Ummi sungguh ingin Attar tetap menguasai bahasa Indonesia. Jadi, sementara ini, Ummi akan tetap berbahasa Indonesia di rumah, meskipun Attarnya pakai bahasa Inggris. Ini adalah trik yang dilakukan mamah-mamah diaspora di sini. Mereka tetap membiasakan berbahasa Indonesia kepada anaknya, supaya sang anak tetap terpapar bahasa ibu. Kemudian di rumah, Ummi masih membacakan beberapa buku berbahasa Indonesia yang dulu ikutan diboyong dari Jogja. Selain itu, mungkin Ummi perlu menambah porsi kumpul-kumpul sama orang Indonesia serta “belajar” tentang Indonesia dalam berbagai kesempatan, supaya dia tidak lupa kalau dia adalah bagian dari Nusantara.

Ummi tentu senang Attar bisa menguasai bahasa asing. Ummi pun pengen banget bisa bicara dengan banyak bahasa. Bagaimanapun bahasa asing adalah kunci beradaptasi, bertahan, dan bersaing dalam pergaulan global saat ini. Akan tetapi Ummi mau Attar juga mencintai bahasa Indonesia. Yah, sebab buat Ummi, bahasa menunjukkan bangsa. Bagaimana kita bisa menjadi bangsa yang besar jika kita tidak mencintai bahasa kita sendiri?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s