6 Keterampilan Khusus yang Kamu Kuasai Setelah Kamu Menjadi Ibu

Menjadi ibu itu tidak pernah mudah. Dibutuhkan kemampuan khusus untuk bisa menjalaninya. Tapi ada juga keterampilan yang akan dikuasai seorang perempuan justru setelah ia menjadi ibu. Asiknya, untuk memiliki keterampilan ini para mamah tidak perlu membayar berjuta-juta untuk ikut pelatihan, diklat, dan sebagenya. Cukup menjalani peran sebagai emak-emak sebagaimana seharusnya saja.

Sebenarnya ada banyak sih keterampilan khusus yang dimiliki setelah seseorang resmi menjadi ibu, tapi saya hanya akan membagi enam yang saya rasakan paling signifikan. Berikut ulasannya.

  1. Ngomel

Lho iya, bicara dengan kecepatan tinggi tanpa henti dengan nada dua oktaf sebanyak 35-40 kata dalam satu tarikan napas itu merupakan keterampilan khusus, lho! Hanya orang-orang terpilih yang bisa menguasainya. Naaah, para ibu memiliki kesempatan untuk mengasah keterampilan ini setiap hari! Beruntung kan, kita? Cukup dengan menyaksikan satu rumah berantakan oleh mainan, lantai lengket gara-gara jus atau susu tumpah, pulang kerja lihat baju-baju kotor ditumpuk sekenanya di kamar mandi, cucian piring atau setrikaan yang menggunung, harga cabe atau bawang naik, atau sabun baru beli dihabisin setengah botol sama anak yang baru belajar mandi sendiri, itu sudah merupakan bahan praktik yang efektif untuk melatih keterampilan Ngomel.

Kalau Mamah masih bingung bagaimana cara Ngomel yang baik, saya punya saran jitu. Saat berhadapan dengan kondisi-kondisi seperti di atas, coba Mamah tarik napas panjang menggunakan pernapasan perut, pusatkan pikiran pada kondisi yang sedang dihadapi, lalu mulailah dengan pembuka: “Ya Allah, Naaaaaaakk… ini kenapa bisa jadi berantakan begini, siiiiihhh??? Kan sudah dibilangin berkali-kaliiiii…” lalu silakan lanjutkan merinci kondisi yang tengah Mamah hadapi saat itu. Kalau perlu kondisi serupa yang terjadi sekitar 6-7 minggu lalu disebutkan kembali secara detil. Jangan lupa SOP-nya: bicara banyak dan cepat dengan nada tinggi, tanpa henti.

Latihlah terus keterampilan ini, niscaya Mamah yang tadinya irit ngomong jadi jago Ngomel. Biasanya, semakin aktif dan kreatif anak Mamah, keterampilan ini juga terasah. Saya punya bukti hidup seorang kawan SMA yang dulu saya kenal sangaaaaaattt pendiaaaaaaam ternyata bisa juga Ngomel setelah punya tiga anak yang aktif dan kreatif.

  1. Geo-locator

Geo-locator adalah kemampuan untuk mendeteksi letak suatu benda berdasarkan serangkaian proses data dan informasi. Contoh gampangnya kalau Mamah buka Google Maps itu, loh. Mi, kenapa keterampilan Geo-locator ini dibutuhkan sehingga tumbuh dan berkembang dalam diri emak-emak? Saya kasih tau ya, Mah. Anak-anak itu sering banget kehilangan barang, dan kalau sudah kehilangan barang lalu tidak ketemu-ketemu juga, hidup Mamah tak akan bisa tenang.

Lha gimana bisa tenang kalau kita harus menghabiskan hari dengan dihiasi “Ummiiiiiii… mobil Hot Wheels Attar yang kuning hilaaaaaaaaaang… di mana Miiiiiiii??? Carikaaaaaaaaaaannn!” yang tak berhenti sampai si Hot Wheels kuning itu ketemu. Ya, kedamaian hidup Mamah langsung terenggut karena kalimat di atas akan diucapkan oleh anak dengan suara melengking, diiringi tangisan dan deraian air mata, serta nada dan intonasi yang khas. Iya, yang itu. Ngerti, kan? Rengekan khas yang kadang membuat kita merenungi nasib “Begini amat jadi emak yak, yang ngilangin siapa yang dipaksa nyariin siapa…”

Situasi di atas akan memicu keterampilan Geo-locator tumbuh dengan sendirinya. Pasalnya begini, Mah. Anak-anak itu memiliki definisi khusus atas kata “mencari”. Sebagai contoh, “mencari” bagi Attar adalah jalan keliling ruang tengah sambil mengeluh-ngeluh mainannya hilang dan merengek minta dicarikan. Kalau ditanya, “Sudah dicari di laci mainan, Nak?” jawabnya “Sudaaaahh…” sementara yang dia lakukan adalah buka laci, memandang isinya sekitar 5-6 detik, ditutup lagi, lalu mengeluh lagi karena mainannya nggak ketemu di dalam laci.

Nah, pada titik inilah Mamah akan mempraktikkan keterampilan Geo-locator. Mamah akan melakukan pencarian (yang sesungguhnya ya, sesuai definisi kata “mencari” sebagai kata kerja) sambil mengingat-ingat kapan terakhir Mamah melihat mobil Hot Wheels yang kuning itu. Menebak-nebak di mana kira-kira si mobil berada berdasarkan kebiasaan anak bermain. Saat inilah serangkaian proses data dan informasi itu terjadi. Biasanya, tak butuh waktu 5 menit mainannya ketemu: di laci yang sama yang dibuka anak tadi, tapi cuman dipandang-pandang sama dia. Ya kan?

Keterampilan Geo-locator bisa naik tingkat jadi Eco-geo-locator. Apa lagi itu, Mi? Gini, Mamah kenal tokoh Bailey si ikan paus kepala benjol (Beluga Whale) di film Finding Dory? Masih ingat bagaimana dia menggunakan suara dan memanfaatkan pantulan suara itu sebagai sinyal untuk mendeteksi letak suatu benda? Nah, itu yang namanya Eco-locator. Dalam kehidupan emak-emak, Eco-locator bisa digabung dengan Geo-locator sehingga menciptakan seorang ibu berketerampilan tinggi dalam menemukan benda-benda hilang. Mamah akan melatih penguasaan Eco-geo-locator apabila menggabungkan keterampilan Geo-locator dengan… Ngomel. Jadi, sambil otak Mamah memproses data dan badan Mamah bergerak mencari benda, mulut Mamah juga mengirimkan sinyal suara.

Misalnya begini, sambil nyari barangnya Mamah merepet dah tuh, “Makanya kalau abis main tuh dikembalikan lagi ke tempatnya, udah berapa kali coba Ummi bilangin? Kebiasaan sih naro apa-apa sembarangan, jadi susah gini kan nyarinya lagi! Mending bisa nyari sendiri, ini Ummi lagi-Ummi lagi yang repot!” daaan seterusnya. Oia, sebagai catatan, Eco-geo-locator hanya bisa dikuasai apabila Mamah sudah mahir keterampilan nomor 1 di atas. Iyak, Ngomel dengan SOP yang benar.

Karena penguasaan keterampilan ini, para emak hampir selalu menjadi tempat rujukan utama pencarian barang hilang di rumah. Lost and found di bandara aja kalah, karena kadang barang kita nggak ketemu rimbanya dan lelet banget pelayanannya, hehe.

  1. Recycle Bin

Tempat sampah. Yak, emak-emak adalah tempat sampah bagi anaknya. Bentuk sampah yang dibuang oleh anak akan bergantung pada fase kehidupannya. Waktu masih bayi, emak adalah tempat buang pipis, pup, dan muntahan. Di kala anak-anak, emak adalah tempat ngebuang makanan sisa. Ya, sudah pemandangan awam banget emak-emak kebagian tugas menghabiskan sisa makanan anaknya. Kan, sayang kalo kebuang. Apalagi kalo lagi makan di restoran terus harga per porsinya lumayan. Nggak rela dong, udah bayar puluhan atau bahkan ratusan ribu terus masuk tempat sampah beneran. Ya mending masuk tempat sampah di perut Mamah! Inilah yang biasanya bikin para emak gagal diet. Maunya diet nggak makan nasi. Eh, nasi goreng udang punya si adik masih nyisa. Nanggung banget nih, daripada mubazar ya terpaksa diabisin deh sama Mamah.

Eh, Pah, sini saya bisikin. Kalo sekali waktu Papah liat istrinya bilang mau diet, itu baiknya di-iya-in aja tapi Papah nggak usah pasang ekspektasi tinggi. Karena sesungguhnya janji berdiet bagi sebagian besar Mamah itu merupakan angan semu belaka yang terucap hanya di bibir saja.

Oke lanjut. Di fase remaja dan dewasa, biasanya sampah yang dibuang sama anak bakal beda lagi. Bentuknya curhatan. Yang lagi naksir cowok lah, putus cinta, berantem sama temen, sebel sama guru, marahan ama suami, ngeluh soal anak, kesel ama kerjaan, dan sebagainya *curhat banget deh Ummi Attar, ahahah*

Lalu, keterampilan spesifik yang kita kuasai apa Mi, berkenaan dengan per-tempatsampah-an ini? Tau job-desc-nya tempat sampah, kan? Dia harus mengosongkan diri supaya bisa menampung sampah-sampah baru. Nah demikianlah juga Mamah. Dipipisin, dipup-in, dimuntahin, kita bisa secepat kilat membersihkan diri biar anak tetap nyaman digendong ama kita – untuk kemudian dipipisin dan dimuntahin lagi, ahiks.

Lagi kesel sama masalah pribadi, eh begitu anak datang ingin menumpahkan masalah, bisa aja si Mamah mengosongkan dirinya secepat kilat untuk menampung curhatan buah hatinya. Ada makanan sisa, secepat kilat juga si Mamah ngabisinnya –  kalau perlu nambah lagi #ehgimana

  1. Gerobak

Gerobak adalah wadah berjalan yang menampung banyak benda. Keterampilan Mamah menjadi gerobak otomatis akan terasah sejak anak masih bayi, terutama ketika Mamah dan si bayi mau melakukan perjalanan. Misalnya ke mal. Mamah akan membawa satu tas hore yang isinya popok, baju ganti, perlak, susu, botol minum, alat makan dan MPASI, minyak kayu putih, mainan, endebre-endebre. Di tas satu lagi Mamah isi dengan dompet, hape, power bank, tisu kering, tisu basah, baju ganti sendiri (kali aja jadi tempat sampah dadakan pas di mal, kan) dan brosur katalog diskon *eh*. Anak sudah agak gedean, nanti isi tas Mamah masih aja serupa gerobak. Minimal tisu, cemilan, dan mainan. Di dompet akan terselip plester luka 1-2 lembar untuk penanganan situasi darurat. Canggih, kan, gerobak versi emak-emak? Semua ada dan mampu dibawa dalam sekali jalan.

Di Indonesia, mamah-mamah mandiri suka terbang sendiri pake motor. Saya pun menemukan contoh penguasaan keterampilan gerobak level moksa. Kalau Mamah mau mencapai level ini, pertama-tama cobalah sesekali nongkrong deket pasar atau supermarket grosir maupun retail. Akan ada beberapa sosok mamah keluar dari area parkir, menunggang sepeda motor matik atau manual penuh bawaan: di kiri ada bakul berisi sayur mayur dan lauk mentah buat masak seminggu (plus pisang, nangka, ama semangka), di kanan ada segambreng tas plastik berisi makanan mateng buat makan siang (ya kan capek abis ke pasar masih harus masak), terus baju kaos ama celana baru buat buah hati tercinta (tak lupa terselip beha ama celana dalam Mamah di kantong kecil paling bawah). Semuanya berdesakan sampe susah naro kaki di pijakan motor.

Di belakang ada beras, minyak, teh, gula, dan kawan-kawannya yang dimasukkan dalam kardus dan diikat ke jok sepeda motor (tadi ditolongin ama mas-mas tukang parkir buat ngiketnya). Di bahunya tersampir tote bag ukuran maksi tempat menampung segala dompet, duit receh, kunci, buku catetan utang, ama bon belanjaan. Di depannya, ada si sulung yang sudah ngantuk dan menaruh kepalanya di atas stang motor. Lalu di dadanya, si bungsu yang masih balita digendong rapat pake jarit, wrap, sling, or whatever you name it – sedang menyusu. Lalu mamah pahlawan keluarga ini melenggang keluar pasar, menyalip-nyalip mobil dengan santai persis pembalap, seolah tak terjadi apa-apa. Di perjalanan pulang nanti si Mamah masih harus mampir ngambil cucian bersih di laundry. Biar sekalian gitu, males kan bolak-balik. Tapi, duh nanti di mana naronya ya? Ah, dipegangin si sulung ajalah. Udah deket ini sama rumah, cincaylah.

Luar biasa! Salam takzim, Mah! *hormat Shaolin*

  1. Baper

Mamah nggak akan sah jadi ibu kalau nggak baperan. Apaaaa aja harus bisa bikin baper. Udah capek-capek masak trus anak nggak mau makan, baper. Mamah ngambek karena merasa si anak nggak sayang sama Mamah, nggak menghargai Mamah yang udah masak. Padahal beberapa menit sebelumnya si bocah udah ngemil arem-arem ama kue putu. Lantai baru dipel terus anak numpahin air putih, baper. Anak lebih suka mainan yang dibelikan sama si Papah dan nggak tertarik sama mainan yang dibelikan Mamah, baper. Anaknya tampil nari balet atau main biola di sekolah, baper. Anaknya udah cakep abis mandi, baper. Anaknya bau ketek, eh baper juga. Nggak usah susah-susah deh. Liat jempol kaki anak bayinya orang lain aja Mamah bisa baper!

Kenapa sih, Mamah bisa memiliki keterampilan Baper gitu? Karena Mamah itu adalah makhluk emosional yang hatinya lembut serta sensitif, dan insting menjadi Baper itu akan tumbuh secara alami. Bah, pret lah kau, Mi! Woh, lha piye to. Memang begitu adanya, je.

Hanya satu yang perlu diwaspadai, terutama oleh para papah juarak yang mendampingi para mamah idolak. Minimal sekali dalam sebulan, level Baper si Mamah bisa naik secara drastis. Saya sarankan Papah menandai tanggal-tanggal tertentu di kalender sebagai pengingat. Di tanggal-tanggal itu, sebaiknya Papah menjaga sikap. Pulang kerja jangan kemaleman dan kalau bisa pulang sore pun jangan lupa bawain sate atau martabak. Tawarin makan di luar atau cuci mata ke mal. Kalaupun Baper tetap muncul, ya diikhlaskan saja. Ini merupakan ajang latihan buat Mamah melatih keterampilannya lho. Supaya bisa menjadi a highly-skilled mommy, you know. Mamah berketerampilan tinggi tuh nggak banyak loh, Pah! Papah beruntung bisa punya istri superterampil kayak Mamah!

Kuncinya sih Papah kudu ati-ati aja, jangan sampai salah ngomong atau perbuatan, karena bisa memicu munculnya Baper Puncak. Mhihi.

  1. Ngeles

Masih nanya kenapa Mamah harus terampil Ngeles? Masih penasaran bentuk latihannya seperti apa? Lha ini, yang Mamah baca dari tadi, kan bentuk keterampilan Ngeles yang terpampang nyata adanya! Ngahahahah!

Demikianlah Buibu, 6 keterampilan khusus yang kita kuasai setelah menyandang status sebagai emak-emak. Saat ini bisa dibilang level Umminya Attar sudah master dalam hal penguasaan keterampilan-keterampilan spesifik ini, padahal anak baru satu dan usianya baru setengah dekade. Coba bayangkan bagaimana ahlinya saya dalam keenam hal di atas jika anak ada tiga dan mulai beranjak remaja. Muahahaha! *garuk-garuk dinding sambil ketawa stress*

Beberapa di antara keterampilan di atas tak akan bisa saya kembangkan dan kuasai kalau saya tidak menjadi ibu, namun beberapa sudah saya miliki di level dasar sebelum menjadi ibu. Misalnya Ngomel dan Baper, ya kan ya dong. Nah, dengan menjadi ibu, Anda-Anda kaum perempuan yang sudah memiliki keterampilan di atas, niscaya akan masuk kelas akselerasi. Nggak perlu ikut diklat dasar, udah bisa naik ke level Advance. Mhehe!

Semoga harimu menyenangkan, Mah! 😘

 

Salam sayang,

Ummi Attar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s