Berhentilah Bertanya, “Nak, kalau sudah besar mau jadi apa?”

Selain karena jawabannya kadang aneh-aneh, pertanyaan itu sudah tidak begitu relevan untuk ditanyakan di era ini.

Beberapa waktu lalu saya tanya sama Attar, “kalau mau besar, Attar mau jadi apa?”. Jawabannya di luar dugaan: “anything but girls, bad guys, alien, monster, and zombie!”. Sebelumnya, Attar pengen jadi The Flash, superhero yang bisa lari cepet banget itu. Alasannya, biar bisa bantu Pak Polisi ngejar dan nangkap bad guys (orang jahat). Hmm.. *usep-usep dagu* Yah walaupun jawabannya bikin saya bengong, setidaknya Attar sudah punya pandangan, pokoknya kalau udah gede Attar mah pengen jadi laki-laki yang baik pemberantas kejahatan, gitu lah ya. Baguslah, nggak kayak Umminya. Jujur, saya lupa apa cita-cita saya waktu masih kecil – makanya udah gede gini pun nggak jelas juga profesinya apa, myahahaha!

Nah, kenapa pertanyaan soal cita-cita – yang dalam konteks artikel ini saya artikan sebagai profesi – ini tidak lagi relevan di masa sekarang?

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa hari ini, anak-anak kita dihadapkan pada lusinan profesi baru yang di tahun 2010 dulu belum ada. Itu baru tujuh tahun lalu, lho. Profesi macam iOS developers, UI (user interface) dan UX (user experience) specialist, dan data scientist/analyst itu belum ada zaman dulu, bahkan kepikiran aja nggak. Namun dengan perkembangan teknologi didukung oleh kualitas layanan kesehatan dan pendidikan maupun akses informasi dan komunikasi yang terus bertambah, profesi-profesi semacam itu terus berkembang.

Peran profesi-profesi itu bagi kehidupan – dan kesempatan yang diberikannya kepada generasi muda – belum pernah terbayangkan oleh kita sebelumnya. Sekitar dua minggu lalu saya menemukan sebuah poster elektronik beredar di grup chatting, soal kompetisi untuk menjadi Socio-Digi Leader. Jidat saya mengernyit. Pertama, spontan saya membatin dan bertanya, “wuopooooo iku Socio-Digi Leader?”. Yang kedua, melihat kriteria peserta lomba adalah yang berusia 18-27 tahun, kerutan di jidat tambah dalam karena langsung tersadar kalau saya tahun ini akan berusia 32 dan saya pun … m e r a s a t u a.

Anyway, pada intinya adalah, teknologi yang perkembangannya sangat cepat ini memberikan kesempatan kepada anak-anak kita untuk terhubung dengan siapa saja, mengakses informasi dari mana saja. Tak hanya itu, peluang untuk menjadi perhatian dunia tanpa fisiknya perlu beranjak jauh-jauh dari rumah, sangat mungkin terjadi. Gagasan-gagasan brilian yang didukung dengan teknologi bisa membawa mereka ke mana saja. Sangat mungkin anak-anak kita yang hari ini masih mainan tanah ampe belepotan lumpur itu kelak akan bikin perusahaan sendiri atau bergabung sama teman-temannya untuk menciptakan solusi atas permasalahan-permasalahan yang mereka temukan kelak. Mereka akan didukung penuh oleh kemajuan teknologi yang tampaknya tiada batas. Kalaupun ada batas akhir kemajuan teknologi, minimal dari tempat saya ngetik artikel saat ini, belom keliatan ujungnya ada di mana.

Maka Mah, Pah, menanyakan profesi apa yang ingin digeluti anak ketika mereka besar rasanya tak lagi relevan. Kita nggak tahu ada jenis pekerjaan apa lagi yang bakal muncul dalam 5-10 tahun mendatang. Menanyakannya berdasar kondisi saat ini kok rasanya membatasi ruang imajinasi dan kreativitas mereka. Sebab ketika anak-anak kita besar nanti, peluang yang ada bahkan mungkin lebih luas dari apa yang saat ini dirasakan Generasi Milenial.

Danielle Storey, penulis buku The Selfish Servant sekaligus CEO Eastern Innovation Business Centre dan mentor bagi para pelaku UKM di Melbourne, menawarkan pertanyaan lain untuk kita tanyakan pada anak. Dia bilang, tanyakanlah “apa permasalahan di dunia ini yang ingin kamu selesaikan?” atau “kalau ada orang yang ingin kamu bantu di dunia ini, siapakah dia?”. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan membantu anak dan kita sebagai orangtua, untuk berfokus pada keterampilan dan kekuatan dalam diri anak sambil mengajaknya memikirkan orang-orang di sekeliling mereka. Ikuti pertanyaan itu dengan “kenapa?” dan “bagaimana?”, untuk merangsang kreativitasnya dan mencari cara kolaboratif dengan orang-orang yang kompeten.

Belakangan saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu ke Attar. Menurutnya, permasalahan terbesar di dunia adalah toko-toko jarang kasih surprise ke orang-orang yang mau beli, terutama orang yang nggak punya uang. Kemudian, orang yang paling ingin dia bantu di dunia ini adalah Ayahnya. Dia ingin membantu meringankan beban Ayah dengan cara belajar memperbaiki segala sesuatu. Dengan begitu, kalau ada sesuatu yang rusak di rumah, Ayah tidak perlu repot-repot lagi. Jawabannya benar-benar tidak saya sangka. Pemikirannya masih sederhana saja namun bibit kepedulian dan keinginan untuk memecahkan masalah sudah muncul. Ruang lingkupnya pun belum terlalu luas. Namun seiring berjalannya waktu dan banyaknya pengalaman yang kelak ia dapatkan, ide ini bisa ditarik lebih jauh sehingga memiliki dampak yang diharapkan lebih signifikan.

Di tahun 2020 nanti, entah ada berapa puluh profesi baru muncul yang belum ditemukan saat ini. Jadi, alih-alih menanyakan dia mau jadi apa, menurut Danielle akan lebih baik kalau kita berfokus pada pengembangan diri anak sebagai bekal ia menghadapi masa depan yang amat dinamis. Bagaimana memupuk bekal itu sedari dini? Danielle menawarkan beberapa tip yang bisa kita lakukan bersama anak.

  1. Menanam sayuran, untuk membantu mereka memahami bahwa sebelum mencapai hasil yang diinginkan kita memerlukan perencanaan matang, ketekunan, dan visi ke depan.
  2. Melibatkannya dalam perencanaan liburan. Tak perlu liburan yang jauh-jauh. Cukup rencana sehari-dua hari saja di akhir pekan. Ajak mereka menentukan tujuan, alternatif rute yang diambil, anggaran dana, dan rencana cadangan kalau terjadi perubahan.
  3. Ajak mereka melakukan riset tentang barang atau perabot yang ada di rumah. Pancing mereka untuk berpikir benda itu terbuat dari apa, bagaimana proses pembuatan dan distribusinya sampai bisa berada di rumah kita.
  4. Minta anak membuat poster tentang visi masa depan mereka dan minta mereka mempresentasikannya di depan anggota keluarga.
  5. Ajak anak merencanakan menu makanan selama seminggu, lalu ajak mereka berbelanja bahan setelah sebelumnya membuat anggarannya.
  6. Pancing mereka untuk menemukan sebuah ide permainan (on-line atau off-line) yang bisa dimainkan oleh seluruh anggota keluarga. Mereka boleh bikin poster juga untuk memvisualisasikan ide mereka.
  7. Untuk anak yang sudah besar, dorong mereka untuk menjadi mentor bagi seseorang. Misalnya, mengajarkan sebuah aplikasi smartphone kepada nenek/kakeknya, sampai sang nenek/kakek mampu mengoperasikan sendiri aplikasi tersebut. Atau, mengajarkan mata pelajaran kepada adiknya atau anak tetangga. Anda bisa saja mengusulkan anak untuk meminta bayaran atas jasa mereka. Tidak harus uang, bisa saja makan siang, kue, traktiran, dan sebagainya.

Anak-anak yang keterampilan dan kekuatannya diasah, akan memiliki bekal untuk memecahkan masalah. Kakak-kakak kelas Attar pernah menjual es mambo rasa buah di sekolah, sebiji es mambo dihargai 1 dolar Australia. Dana yang masuk dari hasil penjualan itu akan digunakan untuk membiayai klub fotografi. Dalam seminggu mereka hanya diberi dua-tiga hari untuk berjualan. Selama tiga minggu, mereka berhasil mengumpulkan sekitar 400 dolar! Menurut guru di sekolah, ide untuk berjualan es mambo muncul dari anak-anak sendiri, dan bisa laris manis karena es mambo dijual pada saat musim panas sedang berada di puncak. Panas-panas minum es mambo segar, siapa yang tak mau? Dari pengalaman ini, saya melihat baha anak-anak ternyata mampu mengidentifikasi permasalahan, menganalisis faktor-faktor yang melingkupi permasalahan tersebut, untuk akhirnya menemukan solusi jitu.

Di masa depan, anak akan berkenalan dengan teknologi-teknologi baru lengkap dengan berbagai konsekuensi yang dibawanya. Mereka akan memiliki kesempatan untuk mengakses pengetahuan baru menggunakan cara dan instrumen-instrumen yang berbeda dengan zaman kita. Peran kita agar anak bisa berdaya menghadapinya adalah memberikan dukungan dan dorongan agar anak dapat mengembangkan ide menjadi solusi konkret serta mencoba cara-cara baru untuk mencapai kesuksesan mereka sendiri di dunia profesional.

Platform dan metode komunikasi memang sudah berubah banyak sekali. Teknologi pun amat cepat berlari. Saya harus akui bahwa semua itu kadang membuat saya takut. Takut akan dampak buruknya bagi anak. Takut kalau saya tak bisa mengantarkan anak untuk menjadi bagian dari generasi cerdas yang memanfaatkan teknologi secara positif dan optimal. Takut anak terlibas zaman atau tenggelam dalam degradasi moral. Tapi, hei, zaman memang berubah, tapi rasanya nilai-nilai yang perlu diajarkan kepada anak masih sama kok. Komunikasi dan kolaborasi, empati dan simpati, serta integritas dan intelektualitas, masih menjadi mata uang untuk membangun sebuah hubungan yang penuh makna dengan lingkungan. Kabar baiknya, kalau Mamah dan Papah yang membaca ini seangkatan sama saya, kita adalah bagian dari generasi transisi. Karenanya, kita adalah jembatan penting bagi generasi lama dan baru untuk saling memahami dan menetapkan fondasi kehidupan: kepedulian, kepercayaan, dan cinta kasih kepada sesama.

 

Salam sayang,

Ummi Attar

Advertisements

2 thoughts on “Berhentilah Bertanya, “Nak, kalau sudah besar mau jadi apa?”

  1. Umi Attar…. Tulisan ini membuat saya tersadar, memang qt ga bisa lagi membatasi anak kita kelak jadi apa. Anakku yang SMA kelas 2 aja, dr kecil kalo ditanya citacitanya jadi apa? JAwabnya selalu kosisten, Ak jadi oarng sukses aja bunda, karena ak bingung ak ga suka polisi, ak ga suka dokter, jadi apapun nanti klo gede ak mau jadi orang sukses aja. See… Hope he will be sucses man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s