Menjadi Mamasiswa Lagi

– Attar, do you know that I am gonna be a student again … very soon?
+ Yeah, Ayah told me already.

20190305_143810Pertanyaan itu saya lontarkan kepada Attar menjelang akhir tahun lalu, saat kami jalan kaki ke sekolahnya. Kami memang biasa mengobrol di saat-saat seperti ini, ya salah satu bentuk quality time begitulah.

Tahun 2019 ini saya  memang memulai perjalanan baru. Saya menjadi mamasiswa lagi, di jurusan dan universitas yang sama dengan sewaktu saya menyelesaikan Master dulu. Sejak lulus Master bulan Desember 2017 lalu, saya membulatkan tekad untuk menyambung pendidikan Doktor. Saat itu saya melihat ada kesempatan yang terbuka untuk saya untuk melanjutkan sekolah.

Dua kali saya mencoba mendaftar sekolah S3 di Film, Media, and Communications di Monash University. Percobaan pertama gagal, meninggalkan kecewa sekaligus kesempatan untuk berkontemplasi di diri saya. Percobaan kedua, dengan persiapan lebih matang dan izin Allah, alhamdulillah saya diterima sebagai mahasiswa S3 dengan beasiswa dari Monash University.

– How do you feel about that, sweetie?
+ I don’t know.
– What do you mean?
+ I mean, when you become a student you will not have time for me anymore. And you will be stressful again. I don’t like seeing you like that.

Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana rasanya waktu saya masih mamasiswa S2. Ketika itu, saya hanya berdua dengan anak saya di Melbourne. Suami saya masih berada di Indonesia, ia sedang berjuang agar diterima sebagai mahasiswa S3 di Monash University. Selama 1.5 tahun lamanya kami hidup terpisah. Rasanya berat, berat sekali. Hidup berjarak memberikan dampak besar pada kehidupan kami sebagai keluarga, tak hanya memengaruhi hubungan saya dengan suami tapi juga dengan anak semata wayang kami.

Sebaik-baiknya kami berusaha menjaga komunikasi, tetap saja faktanya Attar hanya punya satu orang tua yang mengasuh dan mendidiknya. Tentu saja akhirnya pengasuhan itu menjadi timpang. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan di diri saya, hubungan saya dengan Attar menjadi retak. Ada banyak kemarahan, kekecewaan, pertengkaran, dan tangisan yang mewarnai hari-hari kami berdua. Penyebabnya adalah campuran antara tekanan kuliah dengan kewajiban untuk menjadi ibu sekaligus ayah sementara bagi Attar. Waktu dan perhatian saya tersita untuk bertahan di tiap semester, namun saya juga bertanggung jawab untuk membuat Attar bahagia, memberikan hak-haknya sebagai anak-anak.

– I know, I feel really bad you had to see that side of me. I’m really sorry. I promise I’ll try my best to be better this time.
+ Okay.
– And Ayah is with us, so that’s good.

– What do you think we could do to make our life still fun?
+ Hmm.. I think we can just do what we always do. Like, playing in the park, have playdates with friends, drawing, making crafts…

Setahun terakhir adalah masa penebusan diri saya. Sambil mempersiapkan pendaftaran S3, saya mencoba memperbaiki hubungan dengan Attar. Akhirnya kami bisa menghabiskan waktu bermain dan melakukan hal-hal menyenangkan bersama, tanpa ada pikiran tentang tugas dan kuliah di kepala saya. Karena Attarpun semakin besar, saya bisa lebih banyak mengobrol dan mendengarkan curhatnya dari hati ke hati. Saya membaca lagi kiat-kiat pengasuhan yang baik. Saya melihat kembali dalam diri saya, apa saja kelebihan dan kekurangan saya dalam mengasuh anak. Intinya, saya berusaha menjadi teman Attar lagi. Saya berusaha ada lagi untuk dirinya.

Tentu tidak sempurna, masih saja ada kondisi saya tak bisa mengendalikan emosi. Tapi setidaknya saya tidak sampai menjadi scary mommy seperti dulu lagi.

+ Why do you want to be a student again, anyway?
– Well, there are a lot of things that I don’t know. I have thousands of questions about the world in my head and one of the ways to find the answers is going back to school.
+ Yeah, I know a lot of things from school, too.
– See? And the other thing is, I want people realise that everyone can have a chance to go to school. No matter if you are young, old, mother with kids, you can go to school.
+ No matter if you are boys or girls, you can go to school.
– Exactly!

Maka di sinilah saya. Memulai perjalanan jadi mahasiswa S3 dengan hati berdebar. Dari pengalaman ibu-ibu lain yang jadi mahasiswa S3, sedikit-sedikit saya bisa menerka bagaimana bentuk perjalanan saya ke depan dan harus diakui itu membawa kecemasan. Saya sungguh tak ingin mengorbankan ikatan saya dengan Attar dan ayahnya yang telah saya eratkan kembali selama setahun terakhir.

Namun perjalanan inilah yang saya pilih, inginkan, impikan. Apapun konsekuensinya, sudah semestinya saya hadapi. Ridha Allah, restu keluarga dan dukungan teman-teman-lah yang saya kantongi, saya jadikan penguat diri agar perjalanan panjang ini bisa dilalui dengan baik dan lancar, dengan kewarasan yang tetap terjaga.

Dalam doa dan harapan baik, tabik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s